Gerindra Merasa Tak Tersaingi Dengan Dideklarasikannya Koalisi Tertata

146
Jamaludin

Margonda | jurnaldepok.id
Ketua Harian DPC Partai Gerindra Kota Depok, Jamaludin mengaku koalisi yang telah dibentuknya dengan PDI Perjuangan tidak merasa tersaingi dengan koalisi Tertib, Taat dan Taqwa (Tertata) besutan empat parpol yakni PAN, Demokrat, PKB dan PPP.

“Setiap partai memiliki hak dan keinginan yang akan disuarakan sendiri, artinya sesama pengurus partai kami tidak bisa mengintervensi. Selama sifatanya masih cair ini kami rasa sah-sah saja, karena masing-masing membawa kepentingan partai dan memiliki misi mewujudkan Depok lebih baik. Enggak lah (tersaingi,red) malah kami senang semua partai aktif dan memiliki visi yang sama,” ujar Jamal kepada Jurnal Depok, Selasa (4/2).

Ia menambahkan, masing-masing partai memiliki segmen dan pasar masing-masing. Namun begiutu, Jamal tidak menapikan dirinya berharap Koalisi Tertata nantinya dapat menjadi bagian yang mengusung Pradi Supriatna untuk Walikota Depok.

“Ya kami mengharapkan itu, karena kami ingin koalisi besar. Tapi kan koalisi itu dibangun dengan kepercayaan dan rasa yang sudah menyatu. Koalisi kalau tanpa tujuan ya gak akan bisa terlaksana, koalisi itu tujuannya harus sama,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, jika koalisi dibangun masih adanya perbedaan dan ada unsur pemaksaan maka tidak akan terwujud.

“Gerindra ini kan membentuk koalisi yang satu visi dan misi, kami tidak ada unsur pemaksaan, silahkan ikut dengan kami, kalau enggak ikut ya enggak ada pemaksaan juga. Tapi kalau ditanya Gerindra ingin merekrut semua, ya sangat ingin. Tapi kan dikembalikan lagi ke partai tersebut,” terangnya.

Jamal yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Anggota DPR RI menjelaskan, saat ini suasana politik di Depok masih cair. Dirinya pun memperediksi masih akan ada manuver-manuver yang dilakukan oleh parpol tertentu terkait koalisi.

“Walaupun kami sudah berkoalisi dengan PDI Perjuangan, namun itu kan tidak baku. Tetap kami lakukan komunikasi dengan parpol lain, artinya peluang untuk berkoalisi masih terbuka dengan catatan ikut apa yang menjadi kebersamaan dan tidak ada pemaksaan,” katanya.

Menyinggung pernyataan tersebut yang seolah ditujukan kepada Partai Golkar, Jamal menilai Partai Golkar juga memiliki tujuan dan maksud yang sama.

“Kan salah satu kenginan mereka (Golkar,red) ingin kadernya maju di pilkada, bahkan saya baca di salah satu media Farabi sudah harga mati untuk maju. Namun koalisi yang telah kami bangun berdasarkan kondisi yang ada. Kami bukannya sombong karena bisa mengusung sendiri dan mengecilkan partai-partai lain. Namun ketika ingin mengajukan calonnya harus melihat kondisi perolehan kursi dan konstelasi politik serta popularitas calon itu sendiri,” ungkapnya.

Jika sistemnya sudah memaksakan kehendak, sambungnya, itu bukan koalisi namanya namun pemaksaan.

“Justru pemaksaan itulah yang kami hindari di koalisi ini, kami inginnya walupun berkoalisi tapi koalisi yang enak dan nyaman serta tidak memaksakan kehendak harus jadi walikota atau wakil walikota, proporsional aja lah. Kalau sudah proporsional kami rasa akan clear,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here