Pakar Transportasi Menilai, Monorel Tak Mustahil Terealisasi Di Depok

156
Haris Muhammadun

Margonda | jurnaldepok.id
Pakar Transportasi yang juga Ketua Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) terpilih periode 2020-2023, Haris Muhammadun menilai, rencana pembangunan angkutan massal berbasis rel sudah sesuai dengan 9 Pilar, Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (Perpres No 55 Tahun 2018), yang salah satunya mengamanahkan untuk melaksanakan pembangunan angkutan massal berbasis rel.

“Jadi tinggal implementasinya agar dapat dilakukan secara cepat, tentunya butuh sinergi pemerintah dan investor. Jika Pemerintah Kota Depok bisa berkolaborasi dengan Pemerintah Pusat, Pemprov DKI Jakarta, Pemprov Jabar dan investor, saya rasa bukan mustahil monorail Kota Depok bisa segera beroperasi,” ujarnya, kemarin.

Dikatakannya, untuk membangun transportasi publik yang mampu bersaing dan menarik minat masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi, syarat utamanya transportasi publik tersebut harus lebih unggul daripada kendaraan pribadi.

“Angkutan massal berbasis rel mampu mengalahkan keunggulan kendaraan pribadi dari aspek waktu tempuh rata-rata ke tujuan. Nah, inilah mengapa Kota Depok, menginisiasi untuk melakukan rencana pembangunan angkutan massal berbasis rel tersebut,” paparnya.

Ditinjau dari aspek integrasi, wilayah Kota Depok saat ini dilayani oleh KRL pada poros utara-selatan sisi tengah. Dan jika LRT Jabodebek sudah beroperasi, maka poros utara-selatan sisi timur akan dilayani oleh LRT. Sedangkan poros utara-selatan sisi barat dilayani oleh MRT Jakarta yang rencananya akan diperpanjang sampai dengan Pondok Cabe Tangerang Selatan.

“Dari Feasibility Study (FS) yang telah dilakukan oleh Dishub Kota Depok, menetapkan empat koridor angkutan massal berbasis rel yang akan melayani poros timur-barat baik disisi utara maupun sisi selatan,” ungkapnya.

Dimana, Koridor I, Stasiun LRT Cibubur-TOD Pondok Cina (10,8 km); Koridor II, TOD Pondok Cina-Cinere-Stasiun MRT Lebak Bulus (16,7 km); Koridor III, Bojongsari-Sawangan-TOD Depok Baru (10,7 km) dan Koridor IV, TOD Depok Baru-TOD Jatijajar-TOD Gunung Putri (13,8 km).

Keempat koridor angkutan massal berbasis rel tersebut nantinya akan terintegrasi dengan KRL Commuter Line Jabodetabek, MRT Jakarta dan LRT Jabodebek.

“Pilihan monorel dengan kapasitas 500 orang per train set, tentu saja sudah mempertimbangkan efisiensi, sebab jika pilihannya LRT dan MRT akan sangat mahal,” terangnya.

Berdasarkan FS, biaya per km monorail Kota Depok adalah Rp 334 milyar per km atau setengah dari biaya LRT Jabodebek.
“Jadi satu koridor Bojongsari-Stasiun Depok Baru sepanjang 10,7 km akan membutuhkan dana 3,5 trilyun. Karena stasiun berada di pusat permukiman, komersial dan mall, maka stasiun tersebut bisa dikerjasamakan sama developer, sehingga berkurang menjadi 2,9 trilyun,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here