Kritik Idris-Pradi Tanpa Data, Kasno: Arif Budiman Jangan Asal Bunyi

419
Kasno

Margonda | jurnaldepok.id
Tim Relawan Idris-Pradi pada pilkada 2015 silam, Kasno merasa berang dengan steatmen salah seorang politisi PAN, Arif Budiman di beberapa media online yang meyebutkan bahwa pembangunan di Kota Depok jalan ditempat dan tidak memiliki kebanggan yang bisa dijual.

“Pada prinsipnya kami sebagai tim relawan Idris-Pradi tidak alergi dengan kritikan dan masukan dari warga masyarakat tanpa terkecuali terhadap kinerja wali kota-wakil wali kota. Namun itu harus yang realistis dan objektif tidak terkesan asbun (asal bunyi) sperti stetmen dari yang konon katanya kader salah satu parpol tertentu, Arif Budiman,” ujar Kasno kepada Jurnal Depok, Senin (13/1).

Seharusnya, kata dia, pernyataan Arif Budiman itu melihat bagaimana dirinya sendiri sebagai kader parpol tertentu mampu membesarkan parpol tempatnya bernaung, sehingga tidak tergeser oleh perolehan kusi legislatif oleh parpol lainya.

“Siapa bilang dibawah kepemimpinan Wali Kota Depok, Mohammad Idris dan Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna selama empat tahun Kota Depok tidak ada yang bisa dibanggakan?,” katanya.

Dikatakan Kasno, semenjak Kota Depok berdiri selama 18 tahun belum pernah meraih penghargaan Adipura, sementara di tahun 2017 Kota Depok meraih penghargaan Adipura. Semenjak Kota Depok berdiri dari tahun 1999 hingga di era ahir jabatan Wali Kota Depok, Badrul Kamal hingga Nur Mahmudi Ismail Kota Depok belum memiliki alun-alun.

“Namun saat ini Kota Depok sudah memiliki alun-alun yang terluas se Jawa Barat 3,9 hektar sebagai ikon kebanggaan masyarakat Kota Depok,” ungkapnya.

Belum lagi, sambungnya, pembangunan infrastuktur lainya, seperti taman bermain di setiap keluarahan, renovasi total Stadion Merpati, GOR di GDC, RSUD wilayah timur Depok, nomalisasi dibeberapa situ-situ, pembangunan jembatan dan yang lain lainya.

“Terkait dengan kemacetan yang terjadi, Pemerintah Kota Depok tidak kurang-kurangnya melakukan terobosan dan inovasi untuk menanggulanginya seperti program Sistem Satu Arah (SSA) Jalan Nusantara dan rekayasa lalin lainnya,” katanya.

Tak hanya itu, Kasno menilai Depok menjadi kota terendah tingkat kemiskinannya yakni 2,07 persen se Jawa Barat dan peringkat ke tiga se Indonesia.

“Terkait masalah Silpa, untuk apa penyerapan anggaran secara besar-besran yang pada akhirnya terjadi tindak pidana korupsi seperti tersangka mantan Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail,” tukasnya.

Ia menilai, selama kepemimpinan Idris-Pradi hinnga saat ini Pemkot Depok terus menerus mendapatkan predikat WTP.
“Jika Arif Budiman mengatakan partisipasi masyarakat rendah dan masa bodo, faktanya Pemerintah Kota Depok melakukan pembangunan di segala bidang dari hasil kepedulian dan semangat juang partisipasi masyarakat yang tinggi melalui Musrenbang, dari tingkat bawah hingga tingkat atas yang disahkan oleh wakil rakyat. Boleh kita mengkritik kepemimpinan Idris-Pradi namun yang realistis dan objektif tidak asbun,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here