Pemilik Lahan Terkena Tol Cijago Tolak Harga Murah

345
Pemilik lahan terkena Tol Cijago saat melakukan musyawarah

Limo | jurnaldepok.id
Sebagian besar bahkan hampir keseluruhan pemilik lahan terkena Tol Cinere – Jagorawi (Cijago) diwilayah Rw 01 dan Rw 02, Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, menyatakan menolak dengan tegas penawaran harga yang ditetapkan oleh Tim Appraisal Tol Cijago lantaran kisaran nilai kompensasi lahan dan bangunan dinilai sangat rendah dan jauh dari besaran nilai kompensasi yang diterima oleh para pemilik lahan terkena tol Depok – Antasari (Desari) saat pembebasan lahan tahun 2017 silam.

Dina Darmawan salah satu pemilik lahan di Rw 01, mengaku sangat kecewa dan tidak akan menerima penawaran harga yang diajukan oleh tim appraisal karena menurutnya kisaran harga tanah yang ditawarkan tidak akan cukup untuk membeli lahan dan bangunan dengan ukuran yang sama dengan lahan dan bangunan yang tergusur.

“Bagi para pemilik lahan kosong alias tanpa bangunan yang luas tanahnya lumayan lebar, tidak ada masalah, tapi sebagian besar tanah yang terkena gusuran merupakan tanah berikut bangunan rumah yang ditunggui sehingga jika digusur, para pemilik lahan harus membeli lagi tanah dan membangun rumah dan setelah dihitung hitung, nilai penggantian tidak akan cukup untuk membeli lahan dan bangunan ditempat baru diseputar wilayah Krukut, ” papar Dina Darmawan.

Hal senada dilontarkan oleh mantan Ketua Rw 01, Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, Jarkonih, dirinya sepakat dengan keputusan rapat para pemilik lahan terkena tol yang menolak dengan tegas besaran penawaran tim appraisal tol Cijago.

“Menurut saya nilai ganti rugi tol Cijago sangat hancur dan tidak bakal akan diterima oleh para pemikik lahan, jadi sebelum ada kenaikan penawaran, sampai kapanpun warga akan bertahan, ” ujar Jarkonih.

Terkait permasalahan ini, Lurah Krukut, Kecamatan Limo, Rohman Tohir, mengaku dapat memahami pernyataan sikap warga pemilik lahan terkena tol, seraya berharap nanti akan ada titik temu kesepakatan mengenai besaran harga kompensasi tanah dan bangunan terkena tol Cijago.

“Sesuatu yang wajar jika warga belum sepakat dengan harga yang ditawarkan oleh tim appraisal karena mungkin warga juga sudah memiliki hitung hitungan untuk membeli tanah dan bangunan sebagai pengganti tanah dan bangunan yang nanti akan terkena pembangunan tol, ” ujarnya.

Hal senada dikatakan oleh Hamzah, salah satu pegawai Kantor Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo.

Dikatakan Hamzah, besaran ganti rugi yang ditawarkan oleh tim appraisal memang terlalu kecil yakni berkisar antar Rp 2,5 hingga 6,5 juta / meter persegi.

“Memang benar kalau untuk membangun kembali rumah diseputar Krukut dengan nilai penggantian yang ditawarkan oleh tim appraisal, uang nya tidak akan cukup, belum lagi menyangkut hal lain seperti harus memindahkan anak sekolah, jauh dari tempat usaha semula dan hal lain yang juga harus diperhitungkan, ” pungkas Hamzah. n Asti Ediawan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here