Ini Alasan Hakim Tolak Gugatan Korban First Travel

88
Suasana sidang gugatan korban First Travel di Pengadilan Negeri Depok

Sukmajaya | jurnaldepok.id
Ketua Hakim menolak putusan gugatan para korban First Travel dalam sidang putusan perdata di Pengadilan Negeri Kota Depok pada Senin(1/12).

“Jadi diingatkan putusan ini belum tetap, bisa nanti dilanjutkan ke tingkat kasasi. Putusan ini akan saya bacakan tidak keseluruhan karena mengenai gugatan jawaban replik duplik,” kata Hakim Ketua persidangan, Ramond Wahyudi.

Dalam putusannya itu hakim mengatakan, pihaknya telah mengupayakan prosedur mediasi dengan tergugat yakni Kejaksaan Negeri Depok dan Andika Surachman namun upaya mediasi tidak berhasil.

Menimbang atas eksepsi tergugat ditarik Kejari karena terkait pidana Andika Surachman yang telah terbukti bersalah bersama-sama melakukan penipuan dan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) secara berlanjut melanggar pasal 137 KUHP.

Pimpinan sidang, Ramond Wahyudi menjelaskan alasan pihaknya menolak gugatan karena dinilai ada ketidaksesuaian antara jumlah pembuktian hakim dengan isi gugatan.

Para penggugat (jemaah) mendalilkan dalam gugatan mengalami kerugian total Rp49.075.199.550, namun setelah dijumlahkan seluruhnya ternyata bukti-bukti yang diajukan penggugat hanya sebesar Rp1.104.250.756.

“Total kerugian itu dijumlahkan dari 56 jemaah yang diwakili dalam gugatan tersebut,” ungkapnya.

Kelima penggugat itu antara lain, Anny Suhartaty, Ira Faizah, Devi Kusrini, Zuherial dan Ario Tedjo Dewanggono. Mereka adalah agen First Travel.

Adapun rincian kerugian para penggugat yang dibacakan hakim yakni, penggugat sekitar dua puluh miliar Rupiah. Kerugian Penggugat II Dua Miliar Miliar Rupiah. Kerugian Penggugat III, Rp. 26.841.496.560. Kerugian Penggugat IV, Rp. 84.000.000, dan Kerugian Penggugat V, Rp. 41.903.000.

“Ajuan penggugat tidak bisa diperkarakan. Dengan demikian mengadili dalam eksepsi menolak turut tergugat seluruhnya,” ujarnya.

Ramond mengungkapkan gugatan penggugat tak dapat diterima dan menghukum penggugat dengan biaya perkara yang sampai saat ini Rp815 ribu.

Dalam pokok perkara satu menyatakan gugatan para pengugat tidak dapat diterima, dua menghukum para penggugat untuk membayar dalam tanggungannya. Demikian hasil musyawarah hakim.

Atas bacaan putusan hakim para jamah korban First Travel menyambut dengan riuh bahkan ada yang teriak.

“Innalillahi wa innalillahi rojiun, keadilan di Indonesia telah mati,” ucap salah satu korban First Trav.

Salah satu korban First Travel lainnya Lasmini mengatakan dirinya sengaja datang dari kawasan Sunter, Jakarta Utara sejak pagi hari.
Ia berharap, pada sidang kali ini ada keadilan bagi dirinya dan ribuan jamaah yang lain.

“Tuntutan kita tetap sama, kalau enggak diberangkatkan ya diganti uang kami,” katanya.

Lasmini dan sejumlah rekannya yang juga berasal dari Sunter mengaku sudah tiga tahun menanti kejelasan atas kasus ini.

“Kami ada 42 orang tapi yang sempat diberangkatkan cuma dua orang. Sisanya enggak ada,”katanya.

Sementara itu salah satu penggugat, Ario Tedjo Dewanggono mengatakan, alasan yang dibacakan majelis hakim merupakan sampling saat pendaftaran gugatan ke Pengadilan Negeri Depok pada 4 Maret 2019.

“Memang ini hanya sampling dahulu. Kami sangat kecewa padahal kalau dimintakan semua (bukti-bukti) kami sudah siap, satu koper loh pembuktian kami,” ujarnya.

Terkait hal itu, pihaknya pun siap melakukan banding. “Tentu kami akan banding,” tutupnya. n CR1-JD

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here