Cegah Hepatitis, DPRD Minta Kantin Sekolah Harus Disertifikasi

125
Rezky M Noor

Margonda | jurnaldepok.id
Rezky M Noor anggota Komisi D DPRD Kota Depok meminta kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat memberlakukan sertifikasi bagi kantin-kantin di sekolah.

Langkah ini penting untuk melindungi siswa dari makanan, minuman dan jajanan berbahaya yang bisa menimbulkan virus seperti yang terjadi di SMP 20 Kota Depok.

Ketika pedagang di kantin sekolah sudah memiliki sertifikat dari Dinkes dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), maka selanjutnya juga bisa mendapatkan sertifikat halal dan MUI.

“Sesuai kebijakan baru BPOM, kantin sekolah harus memiliki sertifikat penjualan. Dengan adanya kerja sama BPOM dengan Dinas Pendidikan dan Dinkes maka mempermudah sosialisasi ke masyarakat,” ujarnya.

Komisi D juga meminta kepada sekolah terlibat mengawasi dan mendata kantin di lingkungan masing- masing.

Rezky M Noor meminta Dinas Kesehatan untuk terus bekerja mengatasi wabah Hepatitis A yang terjadi di SMP 20.

“Kita minta untuk tidak menganggap remeh masalah ini. Harus tegas dan ada perhatian serius untuk menangani sampai masalah ini tuntas,”katanya.

Dia memastikan jika kasus ini terus berlanjut dan tidak ada perubahan maka secepatnya Komisi D akan memanggil Dinas kesehatan untuk melakukan koordinasi penanganan lebih lanjut.

“Supaya masalah ini tidak berlanjut dan supaya masalah ini bisa segera teratasi,” tegasnya.

Nantinya jika Dinas kesehatan sampai dipanggil, pihak DPRD kata dia ingin tahu secara lebih detail kasus ini seperti apa, kemudian sudah sejauh mana penanganan yang dilakukan pihak dinas kesehatan dan langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya.

“Saya rasa itu yang paling penting. Diharapkan Dinkes untuk membentuk tim penanganan hepatitis. Tujuannya agar penanganan hepatitis ini lebih serius lagi,” tutupnya.

Kepala Dinkes Kota Depok, Dokter Novarita menjelaskan, terkait dengan peristiwa itu pihaknya telah melakukan pengambilan sampel darah kepada 70 murid yang diduga terjangkit virus Hepatitis A.

“Tadinya labnya di Jakarta, tapi di sana lagi penuh, jadinya kita oper lab yang ada di Provinsi Jawa Barat. Berapa lama hasilnya keluar, itu yang belum kita tahu,” tuturnya.

Dinas Kesehatan, kata Novarita, selain telah melakukan pengambilan sampel darah, juga telah mengambil sampel makanan dan air yang ada di sekolah tersebut.

“Dari ratusan murid, yang sudah positif terindikasi ada 20-an anak. Sisanya baru gejala-gejala yang mirip dan ada 40-an yang sempat dirawat,” katanya.

Novarita mengungkapkan virus tersebut dapat dengan cepat menyebar sehingga menjangkit para korban. Penyebabnya bisa dari makanan yang tak sehat dan gaya hidup yang tidak bersih.

“Virus ini bisa cepat menyebar biasanya melalui makanan atau sentuhan yang menderita kena ke makanan. Biasanya untuk pemulihan membutuhkan waktu semingguan,” katanya.

Untuk para penderita, Novarita menyarankan agar mendapatkan asupan gizi atau makanan yang cukup untuk menstabilkan kekuatan imun.

Kemudian yang paling penting untuk mencegah adanya penyebaran virus, ialah dengan membiasakan diri untuk mencuci tangan sebelum mengonsumsi makanan.

“Virus ini kan cepat menyebar. Nah pola hidup bersih tadi harus terus diingatkan. Sekolah juga harus memfasilitasi menyiapkan pola hidup sehat. Biasanya gejala-gejala yang muncul akibat virus ini yaitu, mual-mual, pusing, kulit dan mata kekuningan,” jelasnya.

Novarita menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pengawasan atas kejadian.nCR-JD1

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here