Dinilai Tak Potensial, IBH Ogah Berduet Dengan Hardiono

213
Imam Budi Hartono

Bojongsari | jurnaldepok.id
Bakal calon walikota dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Imam Budi Hartono (IBH) menyatakan keengganannya jika nanti harus dipasangkan oleh Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Depok, Hardiono dalam Pilkada Depok, 23 September 2020.

“Saya dengan Hardiono enggak ada pembicaraan tentang itu, kalau ada pembicaraan ya tentang bagaimana bantuan-bantuan provinsi untuk Depok karena dia sebagai Sekda dan Ketua TAPD Pemkot Depok, enggak ada pembicaraan tentang pasangan untuk pilkada,” ujar Imam kepada Jurnal Depok, kemarin.

Ia mengatakan, PKS ingin menang dalam Pilkada Depok. Dari itu, kata dia, syaratnya adalah orang yang bisa memenangkan pilkada.

“Saya melihat (Hardiono,red) belum memiliki potensi, dia punya partai apa? Kan enggak punya partai, pasukannya mana? Kan enggak kelihatan. Jika dibandingkan dengan misalnya saya dengan Farabi yang punya partai dan pasukan atau saya dengan Pak H Acep, dia enggak punya partai namun ia punya pasukan dibidang pendiduikan dan sebagainya, tapi Hardiono satu pun enggak ada kriteria itu,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa dirinya belum melihat Hardiono memiliki potensi yang bagus untuk maju di Pilkada Depok. Dirinya juga merasa tidak tahu menahu Hardiono bisa langsung ke DPP PKS.

“Saya enggak tahu dia kesana dengan siapa, tapi kan DPP telah memiliki lima calon kandidat saat ini, masa sih ngambil dari yang lain, berarti antreanya tujuh dong, Pak Wali ditambah beliau (Hardiono,red) tambah parah dong,” terangnya.

Yang pasti, sambungnya, partai telah memutuskan bahwa yang akan maju di pilkada adalah kader.

“Kalau Pak Wali dan Pak Hardiono bukan kader, maka enggak akan diusung oleh partai,” tegasnya.

Sebelumnya, IBH juga membuat pernyataan pedas terkait tidak ada jaminan dari PKS akan mengusung walikota petahana Mohammad Idris dalam pilkada tahun depan.

“Fit and proper test kami kan enggak tau juga, benar atau tidak, meskipun sudah dilakukan fit and proper test kan bisa ditolak juga bisa tidak, kecuali sudah dikasih surat (keputusan,red), artinya itu belum jaminan juga, bisa lulus dan bisa enggak lulus,” ujar IBH kepada Jurnal Depok, Sabtu (16/11).

Pernyataan itu diungkapkan IBH disela-sela acara dialog publik putaran terakhir bagi lima bakal calon Walikota Depok dari PKS di kawasan Bojongsari.

IBH yang juga merupakan salah satu balon dari PKS menambahkan, dirinya tidak meyakini bahwa Idris lolos dalam fit and proper test sebelum adanya surat keputusan dari DPP PKS.

“Kalau kami berlima (kader PKS,red) sudah clear, tinggal nanti dipilih dari lima itu. Kami tidak perlu dilakukan fit and proper test karena kami berlima merupakan kader asli PKS,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa fit and proper test dilakukan hanya untuk orang luar dalam artian bukan kader PKS. Sementara, kader PKS tidak diperlukan lagi untuk mengikuti fit and proper test.

Dikatakannya, lima balon PKS sudah diseleksi dan disurvei melalui pemilihan raya (Pemira).

“Enggak ada jaminan, dan kami melihat incumbane ini (Idris,red) menaruh harapan besar akan dicalonkan oleh PKS. Dia sebenarnya bisa pakai partai lain, tapi mungkin dirasa ada yang kurang, kalau dulu ia dicalonkan oleh PKS dan saat ini tidak dicalonkan PKS, berarti kan ada hal yang negatif,” tukasnya. n Rahmat Tarmuji

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here