Sosiolog Nilai, Ini Penyebab Penyebaran Pemikiran Radikal

52
Devie Rahmawati

Beji | jurnaldepok.id
Penggiat aktivitas klinik digital, Devie Rahmawati mengatakan lemahnya media dan dunia pendidikan salah satu penyebab munculnya penyebaran pemikiran radikal.

“Karakter sosiologis masyarakat kita yang patron klien, membuat kelompok masyarakat kita masih melihat patron sebagai “kiblat” dalam kehidupan mereka termasuk dalam aktivitas komunikasi,”katanya.

Ia menambahkan oleh karenanya, upaya untuk melakukan upgrading pengetahuan dan ketrampilan komunikasi bagi para elit atau pemimpin di daerah melalui rembuk aparatur kelurahan dan desa tentang informasi melalui forum kordinasi pencegahan terorisme.

Dia mengatakan penelitian Anna Krueger dari First Draft Australia menyampaikan bahwa saat ini internet telah menjadi ajang perang propaganda. Dan ini terbukti dalam konteks perilaku teroris di dunia.

“Mereka menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk mengirimkan pesan teror dan propaganda berbagai ideologi radikal mereka ke berbagai kalangan,” ucapnya.

Ia menambahkan mereka bahkan cukup terlatih dan produktif untuk memproduksi pesan melalui video, vlog dan sebagainya.

“Ketika aparatur daerah dengan sumber daya kekuasaan dan jaringan di daerah tidak mampu memproduksi, menangkal dan mendistribusikan informasi-informasi yang bermutu dan relevan bagi kebaikan masyarakat, maka tidak heran bila masyarakat dengan mudah terpolarisasi dengan berbagai isu yang ada,” paparnya.

Studi global menunjukkan bahwa salah satu situasi yang mendorong berita hoax dengan mudah menjangkiti publik ialah karena media – media arus utama justru tidak se-agresif “warga” dalam melakukan diseminasi informasi.

“Di mana hal ini tidak lepas dari dinamika yang kompleks dari jurnalis di media arus utama,” tambahnya.

Menurutnya dengan sistematis berupaya mengingatkan elit tentang bahaya hoax yang terus membayang-bayangi keutuhan sosial masyarakat.

Tidak hanya itu, melatih para aparatur pemerintahan dan media untuk memiliki kepercayaan diri tampil di publik menjadi sasaran kegiatan ini.

Kemampuan membangun narasi secara offline (public speaking) dan secara online (melalui media konvensional dan media sosial) sering kali diabaikan oleh banyak pihak.

“Sedangkan dari hasil pendalaman kami, peneliti vokasi humas selama satu tahun, ditemukan bahwa penyebaran ajaran radikal justru sangat memperhatikan teknik-teknik komunikasi persuasif, yang nyaris tidak diajarkan dan diabaikan oleh kurikulum kita. Ini bermula dari ketidakmampuan menyusun pendidikan yang kritis dan harmonis di dalam masyarakat,” pungkasnya.nCR-JD1

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here