Pengmas FKM UI Temukan Jajanan Sekolah Mengandung Bakteri

112
Tim Pengmas FKM UI saat melakukan studi kelompok terhadap jajanan sekolah yang mengandung bakteri

Beji | jurnaldepok.id
Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) melakukan penyuluhan pada pedagang kantin dan jajanan di sejumlah Sekolah Dasar (SD) wilayah Kecamatan Beji, Depok dan menemukan bakteri coliform sebanyak 64 persen.

Ketua tim Pengmas FKM UI, Ririn menuturkan, latar belakang pelaksanaan Pengmas ini agenda bertajuk Pelatihan Pedagang Kantin Sekolah Dasar sebagai Upaya Mewujudkan Sekolah Sehat di Kota Depok yang dilaksanakan selama sepekan.

“Program Pengmas ini kami harapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai higiene sanitasi makanan kepada dan guru sebagai pengawas kantin sekolah,”katanya.

Penyuluhan ini dilakukan sejak Oktober 2019 lalu, di sejumlah sekolah diantaranya, di SDN Pondok Cina 3, SDN Pondok Cina 5, SDN Beji 4, SDN Beji 5, SDN Beji 7 dan SDN Tanah Baru II dan diikuti oleh 22 pedagang jajanan dan 18 pewakilan guru dari setiap sekolah itu.

Ia menjelaskan pedagang jajanan sekolah yang mengikuti kegiatan ini kebanyakan merupakan pedagang jajanan keliling yang tidak menetap dan belum menerapkan higiene sanitasi makanan seperti pemilihan bahan baku, tempat penyimpanan bahan, fasilitas sanitasi dan higiene perseorangan. Hal ini dapat menjadi potensi kontaminasi makanan dan menjadi sumber penyakit.

Tim Pengmas sendiri terdiri atas para dosen dan mahasiswa FKM UI yakni, drg. Ririn Arminsih, Dr. Laila Fitria, Nurmalasari, Nurina Vidya Ayuningtyas, dan Aulia Salmaddiina.

Ririn menuturkan Kecamatan Beji merupakan kecamatan di Kota Depok dengan angka kontaminasi bakteri tertinggi pada jajanan anak (bakteri coliform sebanyak 64 persen dan bakteri E.coli sebanyak 11 persen).

Penelitian lain juga menyebutkan bahwa sebagian besar (94 persen) pedagang yang berjualan di kantin SD di Kecamatan Beji belum pernah mengikuti pelatihan mengenai higiene sanitasi pengolahan makanan.

“Penyuluhan dibagi menjadi dua kelompok yaitu pada pedagang dan guru,” ucapnya.

Ia menambahkan, pada setiap pertemuan masing-masing kelompok difasilitasi oleh dua orang fasilitator.

Waktu kegiatan berdurasi 120 menit yang diawali dengan pre-test untuk melihat sejauh mana pengetahuan mereka mengenai higiene sanitasi makanan dan diakhiri juga oleh post-test yang bertujuan untuk melihat pemahaman setelah pemaparan materi.

“Hasil dari perbandingan pre-test dan post-test menunjukan bahwa ada peningkatan pengetahuan,” tuturnya.

Ririn berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan pedagang dan guru mengenai higiene sanitasi, menumbuhkan kepedulian warga sekolah terhadap kualitas jajanan yang dijual di kantin sekolah dan mengubah perilaku pedagang jajanan sekolah agar terbiasa menerapkan prinsip higiene sanitasi.nCR-JD1

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here