Tebar Ilmu Jurnalistik ke Mahasiswa, Jurnal Depok Raih Reward dari UI

29
Pimred Jurnal Depok, Mochammad Ircham saat menerima penghargaan dan ucapan selamat dari Rektor UI, Rektor IPB dan Boss Lippo Group dalam acara Awarding Night UI di Menara BNI, Jakarta

Margonda | jurnaldepok.id
Luar biasa. Tak menyangka, setelah sekian puluh tahun, semenjak Jurnal Depok aktif menebar ilmu jurnalistik dan pengalaman praktik lapangan bagi puluhan, bahkan ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan di Universitas Indonesia (UI) serta perguruan tinggi negeri dan swasta lainnya, akhirnya penghargaan bergengsi diterima juga.

Anugerah kehormatan itu diberikan oleh Rektor UI, Prof Dr Ir Muhammad Anis, MMet berbarengan dengan reward buat Boss Grup Lippo, Dr Mochtar Riady yang berkontribusi di bidang penelitian terhadap UI.

“Selamat. Jurnal Depok sebagai mitra UI yang telah bersinergi dalam menunjang pelaksanaan Tri
Dharma Perguruan Tinggi UI,” ungkap Anis, yang tahun ini mengakhiri pengabdiannya sebagai Rektor UI, digantikan oleh Prof Ari Kuncoro, SE, MA, PhD.

Dari 500 mitra UI di dalam negeri dan 200 mitra UI di luar negeri, Jurnal Depok diberi penghargaan bersama puluhan mitra UI pada acara UI Awarding Night bertajuk ‘Dari UI untuk Indonesia’ di Ballroom Gedung Menara BNI, Pejompongan Jakarta Pusat, Jumat (1/11).

Di hadapan hadirin, di antaranya Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, Anggota DPR RI, Eddy
Soeparno, Mantan Menkes RI, Prof Dr dr Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek, SpM (K) bersama suami, sivitas akademika UI, Anis berharap di bawah kepemimpinan Rektor terpilih UI (2019-2024), UI makin berkembang, termasuk dalam menjalin kemitraan dengan lembaga swasta dan pemerintah, baik di dalam maupun luar negeri.

Terkait ilmu dan pengalaman berharga yang dikontribusikan Jurnal Depok kepada para mahasiswa itu, Pemred Jurnal Depok, Drs Mochamad Ircham, MBA, MSc menjelaskan, materi jurnalistik tersebut kebanyakan adalah hasil pengalaman lapangan selama bertahun-tahun, lintas generasi.

“Ini sangat penting dan strategis dalam mengisi kekosongan di perguruan tinggi yang cenderung mengedepankan teori. Mestinya teori jurnalistik cukup 30 persen, 70 persen praktik. Kawah candradimuka jurnalis itu ya di lapangan, dengan aneka trik dan taktik dalam mengemas informasi yang disajikan sebagai berita. Harus mencerdaskan public,” ungkapnya.

Ketika bertemu Dr Mochtar Riady, Ircham teringat praktik jurnalistik yang pernah diberikan Bos Grup Lippo sahabat Bill Clinton, mantap Presiden AS, itu.

“Ingat Ircham, ketika wawancara, kau harus melebihi jaksa. Tapi, ketika menulis, kau harus menggunakan peace journalism,” katanya.

Ilmu Mochtar Riady itu diberikan secara spontan di sela-sela wawancara seputar produk baru gabungan tabungan dan asuransi yang digagas oleh ayah James Riady yang juga donatur Harvard University itu.
“Jurnalis memang punya peluru 5W+1H, masing-masing punya turunan yang sangat panjang, dan secara psikologis dapat dilepaskan ke narasumber dalam menggali informasi. Tapi ketika mulai menulis, harus bersahabat, dilarang keras: menambah, mengurangi, apalagi mengubah pernyataan narasumber. Inilah wujud ahrimtuhrom dalam praktik jurnalistik yang pernah diajarkan Pak Mochtar Riady,” jelas arek Suroboyo itu, kemudian menambahkan, “Ahrimtuhrom itu rasa saling menghormati antara jurnalis dengan narasumbernya. Semangat ahrimtuhrom ini terus saya kobarkan kepada mahasiswa yang magang di Jurnal Depok selaras dengan prinsip jurnalisme positif: good news is good news, bad news is bad news,” pungkasnya. n Cheyne Amandha Miranda

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here