Lima Pelajar Ditetapkan jadi Tersangka Pengrusakan Sekolah

60
Kapolresta Depok saat menunjukkan barang bukti yang digunakan untuk tawuran dan perusakan sekolah

Pancoran Mas | jurnaldepok.id
Aparat Kepolisian Polresta Depok menangkap pelaku perusakan dan pembacokan siswa hingga tewas saat tawuran di Jalan Raya Sawangan, Kecamatan Pancoran Mas.

Kapolresta Depok AKBP Azis Andriansyah menuturkan, dari 30 orang pelajar tersebut lima diantaranya ditetapkan jadi tersangka kasus pengrusakan dan pembacokan siswa.

Lima diantaranya telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah AF (17), EM (18), AD (18) terlibat dalam dugaan tawuran yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang dan RM (16), RK (15) terlibat perusakan fasilitas sekolah. Diakui Kapolres, kedua kasus tersebut saling berhubungan.

“Awalnya, dua remaja yang tergolong senior dari kedua sekolah berseteru tersebut pada tanggal 14 Oktober 2019 lalu bertemu di kawasan Cipayung. Disaksikan adik – adik tingkatannya mereka berkelahi, satu diantaranya terluka. Jadi mereka ini pentolan nya. Satu dari SMK IZ yang satunya dari SMK KB mereka seperti memberi contoh kepada adik – adik kelasnya,” terang Kapolres.

Dirinya mengungkapkan ketika saling bacok menggunakan clurit satu diantaranya terluka di bagian tangan bahkan hampir putus. Dari situlah, awalan tawuran itu.

Tak berhenti disitu, saling adu kekuatan dilakukan oleh para pelajar dari kedua sekolah tersebut. Mereka kembali melakukan pertemuan di Jalan Raya Sawangan tepatnya, depan Perumahan BDN Kelurahan Rangkapan Jaya Kecamatan Pancoran Mas pada tanggal 15 Oktober 2019.

“Disitulah, mereka melakukan aksi tawuran yang akhirnya menewaskan satu orang pelajar dari SMK KB berinisial GN.
Korban telah dibawa oleh orang tuanya dan dimakamkan di Cirebon,” paparnya.

Buntut dari peristiwa tersebut, lanjut Kapolres, ialah rekan – rekan korban tidak terima dan melakukan penyerangan ke sekolah IZ pada 16 Oktober 2019 dini hari.

Atas kejadian tersebut, menurut Azis pihaknya memberikan tindakan tegas tersangka AF (17) yang terlibat pembacokan awal dikenakan pasal 351 KUHP, terkait penganiayaan yang menyebabkan luka berat dengan ancaman lima tahun penjara.

“Untuk kejadian pertama ini pelakunya dibawah umur, sedangkan korbannya orang dewasa. Kini yang bersangkutan, dititipkan di lembaga penempatan anak sementara merujuk Undang – Undang Perlindungan anak,” jelasnya.

Sementara itu, untuk pelaku berinisial EM (18) dan AD (18) mereka terlibat dalam pembacokan korban GN hingga siswa lawannya tewas.

Keduanya, dikenakan pasal 80 ayat 3 UU Nomer 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Kemudian, dua tersangka lainnya yaitu RM (16) dan RK (15) diketahui berperan aktif dalam penyerangan dan pengrusakan Gedung sekolah IZ. Mereka dikenakan pasal berlapis yaitu 170 KUHP dan 406 KUHP dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara.

“Mereka, kami lakukan penahanan, sedangkan untuk kasus perusakan sekolah kita titipkan juga di lembaga penempatan anak sementara,”katanya.

Selanjutnya, 25 orang yang telah diamankan petugas ditetapkan sebagai saksi dalam keseluruhan kasus tersebut. Mereka akan dikembalikan kepada pihak keluarga dan diberikan pembinaan.

“Puluhan pelajar lain ini penggembira mereka memang datang dan mengetahui penyerangan di sekolah,” tuturnya.

Selama ini, Polresta Depok telah melakukan berbagai upaya untuk meminimalisir tawuran dikalangan remaja.

Namun, sayangnya insiden anarkis tersebut kerap terjadi memanfaatkan kelengahan petugas. Berbagai upaya dilakukan seperti langkah Preventif dengan melibatkan unsur Binmas dan Sabhara, langkah represif dengan pembinaan hingga penegakan hukum kedepan apabila tidak ada perubahan tentu kepolisian akan memberikan peringatan keras.nCR-JD1

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here