Belum Diganti Rugi, Korban Tol Cijago Blokir Jalan

70
Aksi warga korn Tol Cijago yang belum mendapatkan gant rugi

Beji | jurnaldepok.id
Ratusan warga korban pembangunan Jalan Tol Cijago pada Selasa (1/10) melakukan aksi unjuk rasa dengan memblokir pintu masuk jalan Tol Cinere-Jagorawi di Margonda.

Dibukanya Tol Cinere Jagorawi atau Cijago sesi II, menyisakan luka mendalam bagi sejumlah warga di Kelurahan Kemirimuka, Kecamatan Beji, Depok. Sebabnya, sampai dengan saat ini mereka belum juga mendapat ganti rugi atas lahan yang telah dibebaskan terkait proyek tersebut.

Kecewa lantaran merasa hak nya telah dikebiri, ratusan warga pun akhirnya menggelar aksi unjuk rasa dengan menutup akses menuju Tol Cijago sesi II, tepatnya di pintu tol.

Kuasa hukum sejumlah korban terdampak Tol Cijago II Muklis Efendi mengatakan aksi yang dilakukan warga merupakan bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang seakan-akan telah merestui pengoperasian Tol Cijago sesi II. Sementara korban penggusuran tol Cijago belum mendapatkan uang ganti rugi.

“Kami sebagai kuasa hukum sangat menyayangkan adanya oknum pemerintah yang merestui tentang uji coba Tol Cijago sesi dua. Karena ini masih dalam proses hukum, tolong sama-sama hargai,” katanya.

Mukhlis mengaku, pihaknya merasa heran dengan penyelesaian yang alot yang telah berlangsung selama lebih dari 12 tahun ini.

Ia menambahkan berdasarkan putusan pengadilan warga adalah pemilik sah atas tanah dan bangunan serta telah mendesak pihak terkait untuk membayar ganti rugi.

“Ini bukan disebut ganti untung, tapi ini adalah ganti rugi yang sangat luar biasa. Belum diganti tapi sudah rugi kita, harga pasaran yang seharusnya saat ini Rp 30 juta. Sekarang ini mengikuti putusan pengadilan di harga Rp 5 juta kita terima, tapi belum juga dibayarkan. Ini ada apa,” ujarnya.

Lebih lanjut Mukhlis mengatakan, ada sekitar 34 bidang tanah atau seluas sekira 6.600 hektar tanah warga yang belum diganti atas proyek tersebut. Mereka (korban) adalah warga Kelurahan Kemirimuka, Kecamatan Beji, Depok.

“Kami sangat menghargai pemerintah, tapi saat ini kepada oknum birokrasi, tolong mengerti perasaan masyarakat, jangan semena-mena. Tanah mereka sudah dirampas tapi mereka masih patuh membayar PBB (pajak bumi dan bangunan),” katanya.

Mukhlis menambahkan selain Tol Cijago, permasalahan serupa juga dialami sejumlah warga Limo yang terdampak Tol Desari.

“Insya Allah kami akan menggelar aksi besok atas sejumlah tuntutan yang harus diperhatikan pemerintah,” tegasnya.

Sementara itu, Asmawi salah satu perwakilan warga mengatakan jika tuntutan tidak segera dipenuhi maka pihaknya akan kembali menggelar aksi serupa dengan menduduki ruas Tol Cijago.

“Kami kasih waktu seminggu jika tidak ada tanggapan maka jangan salahkan jika kami turun lagi menduduki tol ini. Pak Jokowi tolong dengarkan kesedihan kami,” keluhnya.

Aksi tutup jalan dengan membentangkan spanduk berisi protes dan kecaman sejumlah warga itu berlangsung sekira satu jam. Setelah berdialog dengan aparat, warga pun akhirnya membuka kembali akses menuju tol tersebut.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit, mengatakan dibukanya Tol Cijago Seksi II dengan pintu Tol di Kukusan ini merupakan permintaan masyarakat sebagai salah satu upaya mengurai kemacetan di ruas Jalan Margonda dan Jalan Juanda. Uji coba tersebut berlangsung sejak 28 September 2019.nCR-JD1

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here