Batik Depok Tembus Pasar Asia Dan Eropa

63
Pemilik Batik Tradjumas, Suharno bersama karyawannya saat melakukan proses membatik

Sawangan | jurnaldepok.id
Hari ini tepatnya tanggal 2 Oktober telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Batik Nasional. Tak hanya daerah Pekalongan, Kota Depok pun ternyata memiliki usaha rumahan bagi pengrajin batik.

Ya, Batik Tradjumas yang berada di kawasan Komplek BSI Pengasinan, Kecamatan Sawangan, rupanya telah mendapatkan pasar sendiri. Tak hanya di wilayah Depok, batik yang dikembangkan oleh Suharno tersebut kini sudah merambah pasar nasional bahkan mancanegara.

“Saat ini Batik Tradjumas sudah berjalan tiga tahun, kami yakin keberadaan kami akan berdampak positif untuk seluruh masyarakat Depok. Kami melihat prospeknya juga menjanjikan,” ujar Suharno, Pendiri Batik Tradjumas kepada Jurnal Depok, Selasa (1/9).

Ia merasa bersyukur atas support dari Pemerintah Kota Depok yang telah memfasilitasi pasar batik dan pemberdayaan pengrajin batik.

Pendiri Koperasi Simpan Pinjam Makmur itu mengatakan, pada 2017 Pemerintah Kota Depok mengeluarkan motif batik HaKi sebanyak 26 motif dan itu merupakan sebagai ciri khas Kota Depok. Dimana batik dengan kearifan lokal dikembangkan di Kota Depok.

“Misalnya wilayah Sawangan ada Batik Tugu batu kemudian Bojongsari ada Batik Ikan Hias maupun Batik Gong Si Bolong. Sejauh ini cukup terbuka luas di Kota Depok dan saat ini dari pejabat kemudian dari luar negeri disebut juga banyak sekali yang menggunakan Batik Depok. Ketika kami menggelar pameran banyak turis mancanegara seperti dari Eropa dan Asia yang membeli batik asal Depok,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, pemerintah kota secara berkala melakukan pendampingan dan pembinaan.

“Ketika pemerintah memberikan HaKi kemudian kami memproduksinya. Di Kota Depok terbagi menjadi tiga batik HaKi yang pertama adalah batik untuk sekolah dasar, untuk Sekolah Menengah Pertama dan yang ketiga adalah batik untuk umum. Batik HaKi itu adalah motif batik yang dipatenkan oleh Pemerintah Kota Depok,” ungkpnya.

Saat ini, untuk permodalam Suharno melakukannya secara mandiri. Namun begitu, Suharno juga berharap kedepan ada lembaga permodalan yang siap membantu usahanya tersebut.

“Setiap bulan kami memproduksi sedikitnya 500 sampai dengan 600 lembar batik yang terdiri dari batik cap dan tulis, ada juga batik printing. Alhamdulillah omzet kami per bulan telah mencapai di atas Rp 100 juta,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here