Pemkot Depok Gerakan Magrib Mengaji

10
Perwakilan Pemkot Depodan Kemenag foto bersama seusai acara

Laporan: Rahmat Tarmuji
Selepas magrib baik orang tua dan anak-anak biasanya lebih senang berada di depan televisi atau gadjetnya. Padahal, sudah menjadi tradisi selepas Sholat Magrib terdengar suara lantunan ayat suci Al-Qur’an di masjid, mushola ataupun rumah masing-masing.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Depok, H. Asnawi menuturkan pihaknya saatnya ini bersama dengan Pemerintah Kota Depok Gencar mensosialisasikan Gerakan Magrib Mengaji.

Menurutnya, upaya tersebut sangat efektif dalam memberantas buta huruf baca Al-Qur’an dan memperkuat tradisi masyarakat.

“Kami sadari menjalankan Magrib Mengaji itu bukan perkara yang mudah di Depok. Sebab, kebanyak anak-anak sekolah sampai sore, belum lagi ditambah dengan les. Meski begitu, kami juga terus berjuang dalam menghidupkan tradisi ini dengan melibatkan semua pihak,” ujarnya, kemarin.

Pernyataan itu diungkapkannya seusai Silaturahmi Akbar Lembaga Pendidikan Al-Qur’an se Kota Depok dan Training Motivasi “Menjadi Lembaga yang Dinanti dan Diminati” Gedung Dibaleka, Lantai 10, Balaikota Depok.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Depok telah mengeluarkan surat edaran tentang Magrib Mengaji di tingkat kecamatan dan kelurahan. Surat edaran tersebut juga tindak lanjut dari program Provinsi Jawa Barat yang telah diresmikan sebelumnya oleh Ridwan Kamil.

“Kami juga mengajak organisasi, Lembaga Pendidikan Al-Qur’an yang secara bersama untuk mensosialisasikan dan menjalankan program Magrib Mengaji. Di Depok ini ada 15 organisasi atau lembaga yang membawahi unit pendidikan yang berbasis Al-Qur’an,” katanya.

Tentunya, kata dia, program itu akan dijadikan sebagai ajang pembentukan karakter, melalui pembiasaan sejak dini dengan membawa Al-Qur’an, kitab untuk datang ke masjid, mushola, majelis taklim mengaji Al-Qur’an. Selepas itu, baru dilanjutkan dengan belajar mata pelajaran untuk esok harinya.

Ia menambahkan, saat ini masih menjadi PR bersama dalam mendidik masyarakat untuk bisa membaca Al-Qur’an. Dengan adanya guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dirasa sangat membantu tenaga pendidik di sekolah pada semua tingkatan.

“Sebanyak 20 ribu dari 33 ribu lulusan SD tidak bisa membaca Al-Qur’an, belum yang lainnya. Data ini dari Dinas Pendidikan Kota Depok. Tentunya, kami sangat mendukung program ini dalam rangka mewujudkan kota religius di Depok,” ungkapnya.

Kabag Kesra Bidang Keagamaan Kota Depok, Eka Firdaus mengapresiasi guru TPQ yang bekerja dengan penuh keikhlasan. Terlebih lagi, lanjutnya, dalam membantu mendidik masyarakat dalam membaca Al-Qur’an.

“Patut diapresiasi peran guru TPQ dalam melahirkan generasi yang bisa membaca Al-Qur’an dan para Hafidz. Diharapkan dengan program Gerakan Magrib Mengaji di Depok yang sudah diedarkan melalui surat edaran dapat menciptakan generasi yang gemilang, generasi qurani di masa mendatang. Tentunya, dalam mewujudkan visi Kota Depok yang unggul, nyaman dan religius dapat berjalan dengan baik,” harapnya.

Dalam kesempatan tersebut sedikitnya 500 tenaga pendidik Al-Qur’an di TPQ, SD sampai dengan tingkat SMA turut hadir.

Nampak hadir Ketua Forum komunikasi Pendidikan Al-Qur’an (FKPQ) Depok, Kepala Seksi Pais Kemenag Depok Sadeli, Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Depok, Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah BKMT, Muslimat NU, Pokjaluh, IGRA, BKPRMI, BKPAKSI dan lainnya. n

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here