Pengamat: Petahana Diatas Angin, Siapa Mau Tantang Idris?

200
Mohammad Idris

Kota Kembang | jurnaldepok.id
Pengamat Sosial dari Univeritas Indonesia, Devi Rahmawati mengungkapkan, dari survey sederhana yang dilakukannya sampai saat ini belum ada calon penantang bagi petahana, Mohammad Idris.

“Masyarakat sudah dewasa dalam menyerahkan kepercayaan kepada pemimpin dengan penyelesaian yang konkrit. Sampai saat ini belum ada yang muncul penantang petahana. Pertanyaannya bukan pada siapa sosok penantang petahana, tapi siapa saja yang keluar dalam survey sebanyak 48 persen. Ini juga menjadi peluang bagi siapa saja yang berminat maju sebagai pemimpin Depok masa mendatang,” ujarnya seusai acara Diskusi Politik “Siapa Penantang Petahana di Pilkada 2020” ditinjau dari perspektif akademisi, pers dan masyarakat, Grand Depok City, Cilodong, Rabu (18/9) malam.

Devi mengungkapkan, meski belum menemukan sosok penantang, namun bisa ditandingi dengan sosok yang memiliki kemampuan yang sepadan. Diantaranya 10 program unggulan Kota Depok yang sebagian besar terlaksana dengan baik dan perolehan prestasi.

“Kenapa petahana diatas angin, karena prestasi yang bisa meyakinkan publik dan banyaknya massa yang kuat. Minimal penantangnya bisa menyamai prestasi atau menambahi program yang sudah ada. Program lain yang jelas bisa dirasakan Kota Layak Anak dan geliat sektor bisnis serta jasa. Sayangnya untuk menandinginya, sampai saat ini belum ada,” paparnya.

Saat ditanya apakah ada tokoh alternatif lain, Devi mengungkapkan sayangnya sampai saat ini dirinya menilai belum ada sosok yang sepadan dengan petahana. Meskipun sempat muncul nama Iwan Fals yang popular di masyarakat, namun ia menilai tidak jaminan dalam keterpilihan. Dengan kata lain, lanjutnya, popularitas tinggi berbeda dengan elektabilitas.

“Program yang dijalankan selama ini juga cukup bagus dan berjalan. Apalagi, dalam survey itu 40 persen masyatakat berharap agar program saja yang berjalan dan tidak melihat sosok,” terangnya.

Menurutnya, menjadi seorang pemimpin adalah membangun sebuah monumen yang bisa dilihat dan dirasakan saat tidak menjabat. Pasalnya, langkah tersebut merupakan pola yang dijalankan Negara maju atau di Barat.

“Yang dilakukan sekarang adalah membranding secara berkesinambungan dan membuat monumen peninggalan, bukan malah meruntuhkannya. Menjadi walikota atau wakil walikota itu bukan saja penyambung partai saja. Namun, bagaimana bekerja dengan sebaik-baiknya dan otomatis partai akan dikenal dengan sendirinya,”paparnya.

Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik dari UI, Lisman Manurung menuturkan untuk menjadi pemimpin haruslah berkolaborasi. Terlebih lagi, lanjutnya, permasalahan kota yang dihadapi adalah sama seperti moda angkutan transportasi massal. Belum lagi, masalah SDM yang masih kurang.

“Siapapun yang menjadi Walikota Depok tentunya akan menghadapi masalah dan tugas yang berat. Banyangkan saja, untuk ASN saja hanya kurang lebih 8 ribu orang berbeda dengan DKI yang mencapai 80 ribu ASN. Belum lagi, APBD Kota Depok yang minim jika dibandingkan dengan kota penyangga DKI Jakarta,” tadasnya.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Kalam-HMI (Kumpulan Alumni HMI Kota Depok). Sebagai inisiator dari praktisi media, Hendrik Reusuki dan Furkan. Sejatinya, acara menghadirkan bakal calon walikota atau wakil walikota dari DPRD Depok seperti Hafidz Natsir (PKS), dari PDI-P Depok dan lainnya namun berhalangan. n Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here