Iwan Fals Unggul Tipis, Idris-Pradi Berpeluang ‘Pisah Ranjang’

260
Founder Klinik Digital Vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati saat mempersentasikan hasil surveinya

Beji | jurnaldepok.id
Dari hasil survei calon Wali Kota Depok pada saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Depok 2020 yang dilakukan Klinik Digital Vokasi Universitas Indonesia bersama salah satu akun instagram, musisi Iwan Fals mendapat suara terpoluler dan meraih suara terbanyak (13%) disusul oleh Walikota Depok, Mohammad Idris (12%) lalu Pradi Supriatna (10%).

Nama lainnya anggota DPRD sekaligus Pimpinan DPC PDIP Kota Depok, Hendrik Tangke Allo 3 persen. Anggota DPR RI, Nuroji (Gerindra) empat persen. Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Imam Budi Hartono tiga persen (PKS) dan Anggota DPRD Kota Depok, Babai Suhaimi tiga persen (PKB).

Founder Klinik Digital Vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati kepada wartawan mengatakan, dari hasil survei yang melibatkan 2.800 koresponden tersebut, Iwan Fals berhasil menduduki puncak perolehan simpatik dari nama-nama sang politikus yang kini tengah duduk di kursi kekuasaan.

Menurut dia, nama-nama besar bagi publik merupakan hal yang penting karena sering kali publik tidak mempunyai kesempatan untuk mengenal para calon.

“Hasil survei kualitatif menggunakan Google form dengan 2.800 responden diketahui masyarakat Depok melihat sosok calon Wali Kota periode baru yang diinginkan bukan melihat dari partai, daerah, atau siapa saja,” papar dia.

Masyarakat nantinya tidak akan mempedulikan asal usul dari pemimpin Itu, tapi pada intinya nantinya dapat mampu menyelesaikan permasalah di Kota Depok yaitu kriminal, pendidikan, dan sampah.

Untuk partai atau non partai tidak dilihat termasuk bukan orang Depok asli. Jika melihat dari kepuasan untuk birokrasi (Pemerintah), lanjut Devi, hanya terukur dua persen saja. Dengan kata lain, ada ketidakpuasan masyarakat akan pemerintah ini.

“Dari segala permasalahan yang ada maka untuk era sekarang ini lebih banyak dibutuhkan sosok baru yang penuh dengan gagasan serta mendukung kaum milenial,” katanya.

Pemerintah Kota Depok, dapat mewakili kelompok tertentu selama kurang lebih 15 tahun.
Dengan demikian Devie mengatakan masyarakat Depok butuh oksigen baru.

Masyarakat membutuhkan sosok muda dengan patokan umur 30 – 40 Tahun, karena yang ternyata dilirik adalah kecepatannya dalam mengambil keputusan maupun program.

“Berdasarkan penelitian kita, survei tahun lalu juga sama pemilihan masyarakat terhadap partai sangat sedikit hanya mencapai dua persen saja,” tegasnya.

Selanjutnya, dirinya berharap hasil penelitian tersebut mampu menjadi acuan oleh Partai Politik di Kota Depok, guna menjawab keresahan dan keinginan masyarakat.

Berdasarkan hasil survei tersebut diakui Devie sama dengan Pilkada serentak tahun lalu, saat memilih calon Gubernur Jawa Barat. Hasilnya, dinilai reliable dalam merepresentasikan kehendak warga Kota Depok.

“Penelitian kita survei tahun lalu juga sama pemilihan masyarakat terhadap Partai sangat sedikit hanya mencapai dua persen saja,” jelas dia.

Devie berharap penelitian tersebut mampu menjadi acuan oleh Partai Politik di Kota Depok, guna menjawab keresahan dan keinginan masyarakat.

“Survei ini telah kita gunakan di luar negeri, hasil mendekati seperti di Real Count,” ungkap dia.nCR-JD1

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here