Beri Obat Basi Ke Pasien, ASN Langsung Diberi Sanksi

136

Margonda | jurnaldepok.id
Oknum Aparatur Sipil Negara yang bertugas sebagai petugas Puskesmas Kelurahan Sukamaju Baru, Kecamatan Cilodong yang memberikan obat kadarluwarsa kepada pasiennya dikenakan sanksi administrasi.

Wali Kota Depok Mohammad Idris mengatakan pihaknya telah mengambil langkah dan tindakan, terkait kasus pemberian obat kedaluwarsa oleh oknum petugas di salah satu puskesmas.Dirinya menilai peristiwa itu terjadi akibat kelalaian.

“Memang ada kesalahan dan ketidaksengajaan dalam hal ini. Kami sedang bina dia dan ditingkatkan kapasitas yang lainnya atas kekhilafan dan kekeliruan dari pegawai kita ini. Jadi sama sekali tidak ada unsur kesengajaan,”katanya.

Pegawai puskesmas yang berstatus ASN sudah dipanggil dan diperiksa.
“Sudah diwawancara juga dan sebenarnya pemberian obat tersebut murni kelalaian, tidak terkait dengan hal-hal apa pun. Sanksinya juga kita berikan teguran karena bentuknya ketidaksengajaan, tidak ada dasarnya kalau kita berikan sanksi administratif,” ujarnya.

Idris akan menginstruksikan jajarannya, terutama di Dinas Kesehatan untuk melakukan pengawasan dan pengecekan terhadap gudang penyimpanan obat guna mengantisipasi terjadi kasus serupa. “Nanti hasil instruksinya kita evaluasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Novarita mengatakan sanksi itu diberikan kepada petugas program medis di puskesmas.
“Sudah, sudah kita berikan sanksi teguran,” tuturnya.

Dirinya menjelaskan peristiwa itu terjadi diduga karena pegawai tersebut salah mengambil kotak obat yang sudah dilabeli nama pasien dengan nama pasien lain yang sudah lama tak terpakai.

“Kotak obat milik pasien lain yang sudah lama tidak datang belum disingkirkan. Jadi pas ngambil kotaknya berdekatan jadi salah ambil. Jadi ya tidak terdeteksi kalau sudah kedaluwarsa. Kesalahan pegawainya ya karena tidak melihat,” ujarnya.

Nur Istiqomah warga di Perumahan Villa Pertiwi Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong mendapatkan obat kadarluasa diduga dari Puskesmas setempat.

Kejadian berawal ketika Nur Isti yang divonis dokter menderita penyakit paru harus menyuntikan obat setiap harinya yang diberikan oleh oknum petugas Puskesmas yang tak jauh dari rumahnya.

Saat ingin berobat Puskesmas tutup, Isti lalu ke Klinik di kawasan Jalan Raya Bogor didepan pemukimannya.

Di saat akan disuntik dokter yang akan menyuntik Isti mengatakan bahwa obat Paru yang dibawanya sudah kadaluarsa, dilabel botol tertera bulan 7, tahun 2019.

“Saya tadinya tidak curiga kalau obat yang di suntikan selama ini sudah kadarluasa tujuh bulan,”katanya.

Dikarenakan kedarluwarsa dokter angkat tangan tidak berani suntik karena sudah tidak layak.

Benar saja, dokter klinik mencari sisa botol di tempat sampah dan menemukan obat memang sudah melewati batas bulan yang diijinkan.

“Saya kaget jadi selama ini saya di suntik dengan obat kedarluwarsa kemudian dokter coba cari di tong sampah dan ternyata memang sudah kedarluawarsa karena saya di suntik hari sabtu dan minggu,”paparnya.

Usai disuntik beberapa minggu lalu,Isti mengeluhkan setelah mendapatkan suntikan kedalam tubuhnya hal yang pertama di rasakan adalah mual dan sakit kepala yang hebat bahkan selama dua minggu keringat dingin selalu keluar dan mata berkunang-kunang.

“Saya merasakan perubahan itu 2 minggu mas bukan membaik ini malah memburuk mata juga tidak bisa di buka karena saya kalau lihat orang pusing,”ujarnya.

Saat ditemui sejumlah wartawan di rumahnya, Isti yang masih nampak pucat meminta keadilan bagi dirinya, sebanyak 33 kali suntikan yang sudah masuk.

“Di sini saya minta keadilan karena saya anggap mereka lalai,”pungkasnya.nCR-JD1

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here