Jurnalis Depok Ikuti Sosialisasi Pengarusutamaan Gender

127
Walikota Depok foto bersama dengan puluhan jurnalis yang mengikuti sosialiasi PUG

Margonda | jurnaldepok.id
Puluhan jurnalis yang berasal dari media cetak dan elektronik mengikuti acara sosialisasi peningkatan peran jurnalis yang yang berspektif Pengarusutamaan Gender (PUG). Acara dibuka langsung Walikota Depok, Mohammad Idris.

Dalam sambutannya Idris berharap, media di Depok dapat memberikan persepsi publik tentang gender secara tepat agar pemahaman bisa merata.

“Kami juga berharap ini bisa kolaborasi dan terkoordinasi khususnya dengan media, karena ini lintas organisasi jadi tidak hanya satu bidang saja tapi seluruh bidang bagi media bisa tersosialisasi dengan masyarakat, media juga harus paham mengenai PUG,” ujarnya, Selasa (6/8).

Ia menambahkan, bahwa capaian SDGS, IPG dan IDG saat ini bisa tercapai. Dimana IPG Depok diatas IPG nasional 93,05 persen sementara nasional 90 persen.

“Depok masuk di enam besar tingkat nasional dan terbesar di Jawa Barat,” paparnya.

Kepala DPAPMK, Nessi Annisa Handari mengungkapkan Pengarusutamaan Gender (PUG) merupakan suatu strategi untuk mencapai Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari selutuh kebijakan dan program di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

“Pelaksanaan PUG di Kota Depok dititik beratkan pada pelayanan publik yang responsif gender sesuai dengan surat edaran walikota,” tandasnya.

Surat edaran itu, kata dia, terkait dengan tentang penyediaan fasilitas-fasilitas publik yang responsif gender seperti perusahaan swasta, BUMN/BUMD, rumah sakit, lembaga pendidikan swasta, pimpinan mall/pusat perbelanjaan,” katanya.

Selain itu, hal tersebut juga diperkuat dengan Instruksi Walikota Depok Nomor 3 tahun 2017 tentang pelayanan publik yang responsif gender untuk kantor pemerintah yang melaksanakan jasa pelayanan.

“Sarana responsif gender antara lain pojok bermain anak, ruang laktasi/menyusui, toilet laki-laki dan perempuan terpisah, ladies parking, priority seat bagi ibu hamil dan lasia serta fasilitas bagi kaum difabel,” jelasnya.

Ketua Komisi Kompetensi PWI, Kamsul Hasan mengatakan posisi jurnalis dalam jurnalisme sensitif gender, nilai atau iedeologi jurnalis tidak dapat dipisahkan dari proses peliputan atau pelaporan peristiwa.
“Jurnalis memiliki peran sebagai pegiat atau peserta kelompok-kelompok marginal khususnya perempuan yang ada di masyarakat. Selain itu perlu landasan ideologis dan professional sebagai kontrol,” ungkapnya.

Sementara itu Asisten Deputi Partisipasi Media Kementerian PPPA, Fatahilah meminta agar media dapat memajukan perempuan Indonesia.

“Media sangat strategis, kita sama-sama membangun perempuan dan anak Indonesia secara maksimal,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here