Mengenal Tradisi Rantangan Lebaran Orang Depok

75
Ketua Umum dan Sekretaris KOOD saat menyerahkan rantang kepada walikota-wail waikota Depok

Sawangan | jurnaldepok.id
Ada yang menarik perhatian dari gelaran Lebaran Orang Depok yang diselenggarakan oleh Kumpulan Orang Orang Depok (KOOD). Ya, tradisi rantangan kembali diperkenalkan kepada masyarakat luas dan generasi milenial dalam acara tersebut.

Tradisi rantangan merupakan momen yang ditunggu-tunggu di setiap peringatan Hari Raya Idul Fitri atau lebaran. Dimana, masyarakat Depok tempo dulu membawa rantang yang berisi nasi dan lauk pauk ke rumah saudara dan kerabat mereka.

“Isinya bermacam-macam, ada sayur, ikan, daging nasi bahkan ada juga yang isinya kue dan makanan ringan,” ujar H Ahmad Dahlan, Ketua KOOD Kota Depok yang didampingi Sekjen KOOD, Hj Nina Suzana, Minggu (7/7).

Rantangan, kata dia, biasanya diantarkan ke rumah saudara dan kerabat di momen mendekati lebaran, setelah lebaran dan ada juga yang menghantarkannya pada saat setelah melaksanakan Shalat Idul Fitri.

Kemarin, dalam Lebaran Orang Depok ratusan rantang yang berisikan lauk pauk dibawa oleh masyarakat untuk disajikan dan dimakan secara bersamaan dalam gelaran tersebut.

Walikota Depok, Mohammad Idris mengatakan tradisi rantangan merupakan budaya Betawi yang saat ini dibeberapa kelurahan masih ada.

“Biasanya malam takbiran sudah ngantar rantang seperti anak kepada orang tua, mantu, adik kakak, sudara dan tetangga mereka,” ungkapnya.

Dikatakannya, budaya rantangan merupakan sebuah simbol bahwa budaya rantangan pada saat lebaran menjadi sesutu yang dirindukan.

“Lebaran Depok selama ini dikesankan nilai silaturahimnya relatif kurang, makanya kami adakan ini untuk mengingatkan kepada mereka, yang namanya lebaran ya silaturahim, silaturahim ya ramai-ramai termasuk sama tetangga,” katanya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, bahwa tradisi semacam itu bukan hanya tradisi melayu Depok sesuai dengan Pergub Nomor 5/2003.

“Tapi banyak tradisi-tradisi di Depok ini yang mereka juga minta dilestarikan sebagi warga Depok. Misalnya tadi malam kami menyelenggarakan tradisi nonton wayang untuk putra jawa di Depok, ini juga bagian dari kehidupan tradisi orang-orang Depok yang memang berasal dari daerah asalnya dan tidak mau melupakan budayanya, tanpa kami mengabaikan tradisi budaya etnis yang sudah lama tinggal di Depok,” jelasnya.

Kalau kegiatan itu akan dijadikan agenda tahunan, sambungnya, harus melalui proses kajian oleh pakar dan ahli budaya dari akademisi.

“Kalau dibandingkan dengan PRJ, disana ada unsur penguatan ekonomi dan bisnis. Kami juga akan mengundang para sponsor untuk menyelenggarakan hal semacam itu dan harus mengacu pada Pergub,” terangnya.

Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna berharap kegiatan tersebut kedepan dapat digilir di setiap kecamatan untuk pemerataan.

“Kegiatan ini luar biasa, bisa dilihat ratusan UMKM bergeliat disini dari berbagai jenis kuliner sampai permainan anak,” tandasnya.

Dirinya sadar betul, bahwa bukan hanya sektor formal saja yang perlu ditingkatkan, namun sektor non formal juga harus dapat ditingkatkan.

Dalam acara tersebut, walikota-wakil walikota Depok menyempatkan diri untuk menyaksikan langsung prosesi pelantikan pengurus KOOD Kecamatan Limo dan Kecamatan Cinere. n Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here