Kualitas Terbaik Alpukat Miki H Yunus

83
H Yunus saat merawat bibit pohon Alpukat Miki di kebun miliknya

Laporan: Rahmat Tarmuji
Siapa yang tak kenal dengan buah Alpukat, buah yang memiliki rasa gurih dan kaya akan vitamin kini semakin banyak digandrungi oleh masyarakat. Tak jarang dari mereka banyak yang ingin membudidayakan tanaman yang mengandung lemak namun baik untuk kesehatan itu.

Di Depok, buah Alpukat sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun buah yang juga megandung kalium itu kini kian diminati setelah dilakukan inovasi cara pembibitan dan menghasilkan buah yang berkualitas sangat baik.

Hal itulah yang dilakukan H Yunus (61), warga Jalan H Mustofa V RT 06/04 Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, sudah 15 tahun ini mengembangkan budidaya tanaman buah Alpukat Miki.

“Kami mulai sejak 2004 lalu, mulanya kami ingin Alpukat lokal yang memiliki keunggulan, ini kami jadikan semangat untuk melakukan penelitian dibantu akademisi dari IPB, sehingga didapati daun Alpukat yang tahan terhadap Ulat Kipat,” ujar Yunus kepada Jurnal Depok, kemarin.

Buah Alpukat Miki yang memiliki keunggulan menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta buah Alpukat. Dimana Alpukat Miki memiliki keunggulan seperti tahan terhadap serangan hama, dapat tumbuh di dataran rendah, sedang maupun dataran tinggi dan dapat berbuah di usia tanam kurang lebih tiga tahun.

“Selain itu daging buahnya berwarna super kuning, tidak berserat dan lebih manis dari Alpukat biasa,” paparnya.

Tak hanya itu, sambungnya, dalam memanam pohon Alpukat Miki tidak diperlukan lahan yang luas, cukup di pekarangan rumah, pinggir jalan maupun halaman kantor dengan menggunakan media pot.

Yunus pun bercerita asal muasal dinamakan buah Alpukat Miki. Dimana kata Miki diambil dari inisial nama kedua orang tua nya.

“Ibu saya bernama Miah dan bapak saya bernama Kinan,” ungkapnya.

Dikatakannya, buah Alpukat miki sepanjang tahun makin terkenal, bahkan saat ini sudah me-nasional.

“Saat ini pohon Alpukat Miki yang kami budidayakan sudah ditanam di wilayah Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Indonesia bagian timur. Dengan tebaran makin luas diharapkan Alpukat Miki ini jadi buah yang unggul,” terangnya.

Selain itu, buah Alpukat Miki saat ini banyak diminati oleh beberapa negara seperti Jepang yang minta lima kontainer setiap minggunya.

“Ini tentu menjadi tantangan untuk kami, agar kami dapat memenuhi buah nasional dan ekspor,” jelasnya.

Saat ini, usaha budidaya pohon dan buah Alpukat Miki yang digeluti oleh keluarga Yunus telah berhasil menarik wisatawan domestik untuk berkunjung ke lahan pertaniannya yang luasnya mencapai 3.000 meter per segi.

“Dalam satu bulan kami memproduksi 1.000-2.000 bibit pohon Alpukat Miki. Pohon Alpukat Miki dengan ukuran 50-65cm kami jual Rp 50 ribu per pohon. Omzet rata-rata per bulan mencapai Rp 100 juta,” katanya.

Yunus yang merupakan pensiunan ASN Pemerintah Kota Depok mengungkapkan, dalam menanam pohon Alpukat Miki tidak sembarangan, melainkan pohon harus dirawat dengan cara memberi pupuk.

“Kami juga adakan bimtek untuk para petani Alpukat Miki, pohon tidak ditanam sembarangan tapi ada delapan materi untuk perawatannya. Dari mulai pematangan lahan sampai panen. Usia tanam sampai panen rata-rata tiga tahun. Satu pohon Alpukat Miki pada usia tujuh tahun buahnya bisa mencapai 2-3 kwuintal dengan berat buah rata-rata 500 gram dan yang paling besar mendekati 1kg,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here