Masing-masing Miliki Calon Walikota, PKS-Gerindra Bakal Pecah Kongsi Di Pilkada 2020

532
Bincang santai antara Ketua DPC Partai Gerindra Depok, Pradi Supriatna dengan Pengurus DPW dan DPD PKS Kota Depok, Imam Budi Hartono-T Farida Rachmayanti

Margonda | jurnaldepok.id
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Kota Depok nampaknya tidak akan kembali menjadi mitra koalisi dalam pertarungan pemilihan kepala daerah Kota Depok yang bakal digelar tahun depan.

Pasalnya, baik PKS dan Gerindra sama-sama ngotot dan memiliki satu bakal calon yang diusung untuk menjadi walikota periode 2021-2026.

Hal itu bermula dari keputusan DPC Gerindra Kota Depok yang secara bulat mengusung Pradi Supriatna untuk kembali maju di pilkada nanti. Tak tanggung-tanggung, Pradi diusung untuk menjadi walikota.

“Diinternal sudah sepakat untuk mengusung kembali Pak Pradi di pilkada nanti, urusan D1 atau D2 itu nanti belakangan, tinggal menunggu secara tertulis,” ujar Jamaludin, Ketua Harian DPC Partai Gerindra Kota Depok, beberapa hari lalu.

Sementara itu, Pradi semakin intens turun ke lapangan guna membangun komunikasi politik dengan pimpinan parpol termasuk organisasi keagamaan.

“Selama ini kami membangun komunikasi bukan hanya kepentingan pada saat menjelang pilkada, tapi sudah kami lakukan untuk kepentingan yang lebih luas lagi dalam rangka pembangunan serta menyamakan presepsi dan pandangan, termasuk kami menyerap masukan-masukan dari parpol lain, ini penting, jadi bukan hanya menjelang pilkada saja,” jelasnya.

Tak hanya dengan Golkar, hal itupun juga dilakukan Pradi secara personal dengan pimpinan parpol lain. Meskipun dikatakannya secara organisasi belum mewakili.

Selain itu, Pradi juga secara persahabatan telah membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat Depok sekaligus pengusaha serta pegiat pendidikan, H Acep Al Azhari.

Disinggung kebersamaannya dengan PKS, Pradi mengatakan bahwa politik merupakan hal yang dinamis.

“Hal yang demikian dinamis saja, dan hal-hal yang diputuskan nanti biasanya menjelang akhir pendaftaran. Kami lihat (masih bersama PKS atau tidak,red) karena kami sedang mengkaji melalui survey seperti tokohnya, penerimaan maupun harapan dari masyarakat nanti akan kami simpulkan,” ungkapnya.

Disisi lain, DPD PKS Kota Depok pada awal Juli mendatang akan menggelar pemilihan raya (Pemira). Di mana pemira digelar tak lain untuk menjaring kader PKS yang nanti bakal diusung untuk menjadi walikota.

Tak sampai disitu, DPD PKS Kota Depok juga akan mengusulkan nama Mohammad Idris ke DPP PKS sebagai calon Walikota Depok periode 2021-2026.

“Beliau (Idris,red) termasuk yang kami usung di pilkada 2014 lalu, kami berharap beliau dinominasikan lagi sebagai calon walikota. Secara iternal proses penjaringan dan siapa yang layak kami usung nanti ada proses pemira yang kami gelar pada 7 Juli 2019,” kata Hafid Nasir, Ketua DPD PKS Kota Depok.

Dikatakannya, dalam proses pemilihan raya (Pemira) yang diikutsertakan merupakan kader internal. Pemira, kata dia, merupakan sebuah proses rutin yang dilakukan sebelum pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah digelar.

“Hasil dari pemira itu kemudian kami akan usulkan ke DPP, termasuk Pak Idris yang merupakan bagian dari nama-nama yang akan kami usulkan, sehingga nanti penetapannya ada ditingkat pusat,” paparnya.

Hafid yang juga sebagai kandidat kuat calon Ketua DPRD Depok mengungkapkan, nama Idris memang tidak masuk di jajaran internal partai. Namun begitu, pihaknya akan tetap mengusulkan Idris ke DPP PKS dikarenakan pada pilkada 2014 lalu pihaknya mengusung Idris.

Dengan munculnya masing-masing calon walikota dari kedua partai tersebut, kuat dugaan PKS-Gerindra tidak mungkin bersama lagi dalam pilkada 2020 mendatang, terlebih secara history PKS selalu mengambil kader internal di setiap periode kedua pilkada Depok.

Hal itu terjadi pada pilkada 2004-2009, saat itu Nur Mahmudi berpasangan dengan H Yuyun Wirasaputra. Yuyun hanya kuat satu periode mendampingi Nur sebelum akhirnya Nur Mahmudi dipasangkan dengan Mohammad Idris pada 2009-2014 untuk periode kedua.

Idris yang saat itu diusung PKS untuk mendampingi Nur Mahmudi, kemudian maju kembali sebagai calon walikota berpasangan dengan Pradi Supriatna pada pilkada Depok 2015. Tampilnya Idris sebagai walikota terpilih, menjadikan posisi aman untuk PKS karena kader yang diusungnya berhasil menjadi walikota.

Untuk ‘mengamankan’ kembali posisi PKS lima tahun kedepan dan terciptanya kaderisasi di internal PKS, tidak menutup kemungkinan di pilkada yang rencananya digelar pada September 2020, PKS akan mengusung sendiri kader terbaiknya untuk menjadi walikota-wakil walikota Depok tanpa harus berkoalisi.

Terlebih, saat ini telah bermunculan sederet nama dari internal PKS seperti Teuku Farida Racmhayanti, Hafid Nasir, Kurtifa Wijaya, Imam Budi Hartono dan HM Supariyono yang bakal diusung untuk menjadi walikota-wakil walikota Depok periode 2021-2026.

Tak hanya dari internal, PKS juga memiliki kandidat kuat dari eksternal yang saat ini menjabat Walikota Depok yakni Mohammad Idris. Elektabilitas dan popularitas Idris pun saat ini masih yang teratas dibanding kandidat lainnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here