Keluarga Farhan Tolak Autopsi

87
Sanak keluarga saat mengajikkan almarhum sebelum dimakamkan

Limo | jurnaldepok.id
Keluarga korban kerusuhan di Petamburan pada 22 Mei, Farhan Syahfero (31) menolak untuk dilakukannya otopsi. Hal tersebut diungkapkan Kapolsek Limo Kompol Mohammad Iskandar.

Menurut Iskandar otopsi sangat dibutuhkan sebagai salah satu alat bukti bagi kepolisian untuk mengetahui penyebab kematian korban.

Sementara itu Iskandar menambahkan penolakan untuk otopsi korban dengan disaksikan orang tua korban Safri Allam Syah, membuat surat pernyataan bahwa menolak otopsi pada jenasah putra kedua dari empat bersaudara itu sewaktu di rumah sakit.

“Sudah ada surat pernyataan penolakan untuk otopsi jasad korban di RSCM. Jenasah sudah dimakamkan di TPU Grogol. Jika keluarga tidak mau kami tidak bisa dipaksakan, ” ujarnya.

Berdasarkan informasi korban Farhan tewas diduga akibat terkena tembakan
Korban Farhan ikut melalui rombongan ormas Front Pembela Islam (FPI) Cikarang Kabupaten Bekasi.

Ia melanjutkan setelah ada keterangan beberapa saksi korban bukan anggota FPI tapi hanya ikut rombongan kenalannya yang merupakan anggota FPI asal Cikarang. Mereka berangkat bersama ke Petamburan bukan ke Bawaslu dalam aksi 22 Mei kemarin.

Sebelumnya diberitakan Farhan Safero warga di RT 03/07 Kampung Rawa Kalong Kelurahan Limo, Kecamatan Limo tewas diduga kena tembakan saat kerusuhan di Petamburan Jaya, Jakarta Pusat pada Rabu (22/5) dinihari.

Pantauan di rumah duka terlihat bendera kuning dan rekan korban memberikan ucapan turut belasungkawa.

“Saya bangga dengan anak saya. Insya Allah dia mati syahid, aamiin,” kata ayah Farhan, Syafri Alamsyah.

Syafri mengatakan, putra kedua dari empat bersaudara itu tewas diduga akibat terkena peluru tajam di bagian tubuhnya.

“Yang kasih tahu pertama kali ke saya itu adiknya Farhan. Katanya Farhan di rumah sakit. Terus kita cek ke sana, ternyata benar, Farhan sudah meninggal,” katanya.

Farhan adalah sosok anak yang penurut dan rajin beribadah. Ia bahkan dikenal cukup aktif dalam pengajian Nurul Musthofa dan kerap bergaul dengan kalangan habaib.

Sementara itu kerabat Farhan lainnya, Syarif Al Idrus menambahkan
peristiwa itu terjadi ketika korban sedang menjaga kediaman Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab.

Syarif membantah Farhan tewas saat terlibat aksi unjuk rasa di kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Jakarta pada Rabu 22 Mei 2019.

“Kami tidak ikut aksi di Bawaslu. Tetapi kami sedang berjaga di markas besar FPI di Petamburan. Kami menjaga rumah Habib Rizieq,” pungkasnya.nCR-JD1

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here