Inspirasi Ramadhan: Memulai Hidup Sederhana

11
KH Syamsul Yakin

Oleh
KH. DR. Syamsul Yakin, MA
Pengasuh Ponpes Darul Akhyar
Dosen Pasca Sarjana Fidik UIN Jakarta

Puasa sejatinya mengarahkan manusia untuk memulai hidup sederhana. Seperti makna dasarnya, puasa berarti menahan diri. Menahan diri untuk bisa mengatakan “tidak” kepada semua kelezatan dunia, sekaligus mengatakan “ya” untuk mengambil seperlunya.
Bila puasa kita kian membuat pola hidup boros, bernafsu memborong semua kebutuhan pokok, dan mengumpulkan makanan dan minuman sebanyak-banyaknya untuk berbuka, pertanda bahwa kita belum bisa manahan diri. Puasa baru sekadar menahan diri dari makan-minum sepanjang hari untuk kemudian melampiaskannya ketika bedug Maghrib datang.
Nabi SAW bersabda: “Jauhkanlah makan dan minum dengan berlebih-lebihan, karena hal itu dapat merusak kesehatan jasmani, menimbulkan penyakit, dan membuat malas shalat. Dan hendaklah kamu berbuat sedang (sederhana) karena yang demikian akan membawa kebaikan pada tubuh dan menjauhkan diri dari sikap berlebih-lebihan” (HR. Bukhari). Pola hidup sederhana, menurut hadits ini, berpengaruh terhadap shalat. Shalat tarawih banyak ditinggalkan orang lantaran tidak bisa menahan diri saat berbuka. Akibat yang terjadi adalah kekenyangan, sakit perut, mual, malas dan mengantuk.
Hidup sederhana itu bukan berarti pelit, primitif, dan serba kekurangan. Islam melarang seseorang menyusahkan diri sendiri, apalagi sampai membuat nyawanya terancam. Hidup sederhana juga tidak identik dengan kemiskinan. Sebab tidak sedikit orang kaya yang bisa menahan diri dan hidup secara sederhana. Atau sebaliknya, banyak orang yang sebetulnya tidak mampu justru berpola hidup boros, rakus, dan besar pasak dari pada tiang. Akibatnya, ia terbelenggu dan bakhil, banyak hutang dan sering berbohong, serta tidak tenang dan hidup di bawah tekanan.
Allah berfirman: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal” (QS. al-Isra’/17: 29). Tercela, menurut ayat ini, lantaran menghambur-hamburkan nikmat Allah, tidak memberikan hak-hak keluarga, fakir miskin, peminta-minta, dan ibnu sabil. Dan, menyesal karena tidak mampu memanfaatkan pemberian Tuhan untuk beribadah dan berdekat-dekatan dengan-Nya.
Hidup sederhana berarti juga menerima semua yang Allah berikan secara tulus. Semua rezeki yang diberikan Tuhan disyukuri dan dipergunakan semaksimal mungkin untuk beribadah kepada-Nya. Dengan demikian, hidup sederhanalah yang patut dikatakan menyukuri nikmat Allah, bukan sikap boros, konsumtif, mewah dan megah itu. Pola hidup sederhana bisa kita mulai saat ini, dengan mengikuti filosofi puasa, yakni menahan diri.
Bila kita berpola hidup sederhana dan bersyukur kepada-Nya, maka kita tidak pernah merasakan kekurangan. Allah selalu memenuhi dan menambahkan rezeki untuk kita. Allah berfirman: “…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim/14: 7).
Menurut al-Ghazali, bila seseorang bersyukur atas nikmat yang Allah limpahkan, maka Allah tidak hanya menambah rezeki orang tersebut. Tetapi Allah juga akan mengekalkan nikmat yang dianugerahkan. Sehingga rezekinya mengalir terus hingga pada kehidupan di akhirat, kelak.
Tantangan untuk berpola hidup sederhana saat ini terasa begitu berat. Di tengah kemajuan informasi dan telekomunikasi, masyarakat modern diserbu oleh berbagai tawaran produk yang mengarahkan pada pola hidup konsumtif dan hedonistik. Gaya hidup mewah dan serba megah, seakan harga mati yang harus dinikmati. Bahkan bila mengabaikannya, akan dikatakan ketinggalan zaman, gagap-modernitas, dan tidak bisa memanfaatkan segala kemudahan yang tak lain adalah rahmat Tuhan. Di sinilah nilai puasa kita ditagih, mampukah kita setelah berpuasa sebulan penuh menahan diri dan memulai hidup sederhana.***

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here