Pengurus FPTI Dituding Tak Transparan

41
Para pengursus FPTI saat foto bersama

Beji | jurnaldepok.id
Kepengurusan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Depok dituding tidak transparan oleh para atlet panjat tebing. Hal ini lantaran kepengurusan dinilai kurang bagus dalam hal manajemen pembinaan.

Deden Sutrisna pendiri FPTI mengatakan FPTI Depok sudah dibentuk sejak belasan tahun dan atlitnya kerap mendapatkan prestasi di segala perlombaan atau even.

“Namun saat ini adanya perubahan kepengurusan FPTI tidak bisa membawa prestasi bagi atlit Panjang Tebing di berbagai even seperti pada kegiatan Pekan Olahraga Jawa Barat di Bogor dua tahun lalu,” ungkapnya.

Akibatnya, lanjut Deden, atlit panjang tebing dari FPTI tidak bisa meraih prestasi. Kalah dengan atlit dari wilayah lainnya seperti dari wilayah Bogor.

“Kami mendapatkan laporan dari kawan-kawan termasuk dari para atlit terkait kinerja kepengurusan FPTI Depok terkait kinerja mereka yang tidak bisa memanajemen para atlit panjat tebing,” terangnya.

Dia memaparkan salah satu contoh permasalahan adalah ketidakterbukaan para pengurus FPTI seperti pelaksanaan pembinaan prestasi yang rutin berlatih. Namun tidak mendapatkan perhatian dari kepengurusan FPTI itu sendiri.

“Atlitnya disuruh rutin latihan, namun pengurus tidak memberikan fasilitas yang memadai dan tidak pernah di tengok seolah-olah anak ayam tidak ada induknya,” tegasnya.

Masalah lain, tambah Deden adalah uang saku atlit. Diduga ada pemotongan uang saku atlit panjat tebing Kota Depok saat berlomba di Porda Jawa Barat di Bogor beberapa tahun yang lalu.

“Atlit kami lapor jika uang saku untuk mengikuti Porda Jawa Barat di Bogor hanya dikasih Rp 125.000 selama 10 hari,” katanya.

Atas aduan tersebut, dirinya bersama-sama atlit panjat tebing Kota Depok akan mendatangi kantor KONI Depok untuk menyelesaikan masalah tersebut.

“Masalah ini jangan terlalu lama dibiarkan. Kasihan mereka yang mempunyai prestasi tidak bisa menorehkan prestasinya,” jelasnya.

Di lokasi sama orang tua atlit Panjat Tebing Kota Depok Arienta menambahkan sepatutnya para pengurus FPTI Kota Depok saat ini untuk lebih baik lagi dalam memanajemenkan suatu kegiatan.

“Masa anak kami hanya dapat uang saku Rp 125.000 selama 10 hari saat bertanding di Porda Jawa Barat di Bogor,” katanya.

Dia menambahkan dirinya bukan mempermasalahkan anggaran akan tetapi agar pengurus FPTI ini transparan dalam hal tersebut.

Penggiat alam panjat tebing lainnya yakni Andri dari Black Wall menambahkan permasalahan antara para atlit dan kepengurusan FPTI sudah terasa saat adanya kepengurusan FPTI baru tersebut.

Salah satunya dengan tidak dimasukan penggiat Panjat Tebing kedalam kepengurusan. Selain itu, lanjutnya ada nama-nama di struktur kepengurusan. Namun orang yang namanya tercantum tidak mengetahuinya.

“Kalau saya sih nggak masalah dimasukan ke pengurus FPTI. Akan tetapi rekan-rekan kami ini yang ditinggalkan begitu saja. Saya berharap pihak KONI bisa menyelesaikan masalah ini,” tutupnya.nCR-JD1

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here