Pasca Pemilu, Awas Depresi

21
Ilustrasi

Beji | jurnaldepok.id
Pasca pemilihan umum (pemilu) menimbulkan potensi depresi dan gangguan jiwa pada banyak orang. Pada pesta demokrasi kali ini diikuti setidaknya 930 caleg berusia 21-35 tahun atau generasi milenial. Stres itu bisa terjadi pada calon legislatif (caleg) yang gagal meraup suara.

Ketua Program Studi Vokasi Humas Universitas Indonesia, Devie Rachmawati
mengatakan itu pada kegiatan
talkshow kesehatan bertemakan Mental and Nutrition Management.

Untuk mencegah hal tersebut terjadi, Program Vokasi Humas UI bersama Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) menyelenggarakan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) talkshow kesehatan bertemakan Mental and Nutrition Managemen.

“Ini harus menjadi cacatan penting bagi kita yang mungkin rekan, kerabat untuk selalu memberi dukungan positif dalam mencegah terjadinya depresi yang berkepanjangan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, beberapa saat ini dikejutkan dengan peristiwa bunuh diri yang banyak dilakukan oleh para remaja seperti mahasiswa di tanah air. Studi di Barat menunjukkan bahwa memang generasi millennial memiliki tingkat kecemasan, depresi dan keinginan untuk mengakhiri hidup lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Kondisi ini ditengarai karena kompetisi untuk menjadi sempurna di media sosial, yang membuat hidup mereka menjadi lebih tertekan. Dia memperingati buruknya efek aktivitas bersosial media bagi kesehatan mental remaja dan anak muda lainnya.

“Studi ini dilakukan tahun 2014 pada usia 19 hingga 32 tahun yang gemar bermedia sosial seperti Facebook dan Instagram. Hasilnya ada sekitar 50 persen dari peserta penelitian ini melaporkan mengalami gangguan tidur sebagai efek media sosial yang tidak langsung,” paparnya.

Di lokasi sama dokter psikiatri RSUI, dr. Fransiska M Kaligis menambahkan
kurang tidur bisa meningkatkan risiko insomnia, kelelahan, yang berujung pada ketidaksabilan mental.

Fransiska menyebutkan potensi depresi saat ini dialami generasi usia 20 tahunan.

“Padahal dahulu depresi memicu kalangan usia 40-50 tahunan. Sehingga diperlukan cara yang efektif mencegah potensi depresi,” tandasnya.

Cara mengelola stress dengan konsumsi makanan sehat. Hindari makan yang berlebihan, Olahraga 30 menit sehari sebanyak 3-5x per minggu, relakasi, yoga, meditasi, istirahat yang cukup, dukungan dari keluaarga dan teman, mengubah sikap dan cara berpikir seperti banyaknya tugas, dipikirnya tidak bisa ngelakuin apapun dengan benar tapi diubah berpikirnya dengan tugas yang banyak, perlu tentukan tugas mana yang harus diselesaikan.

Ketua Panitia Hospitalk 2019, Fajria Aulina menuturkan, kegiatan Pengmas ini dirancang dengan dengan tujuan membentuk generasi penerus bangsa yang sehat jiwa dan raga.
“Karena acara menyasar millennial yang ‘kekinian’, maka kegiatan dikemas dengan fun salah satunya dengan menghadirkan dokter-dokter muda,” tandasnya.

Hospitalk UI 2019 juga akan dilengkapi dengan rangkaian kegiatan tur mengelilingi RSUI atau Hospitour untuk mengenal konstruksi unik Rumah Sakit yang Instagramable. RSUI sangat mendukung pengmas ini karena memiliki andil penting terhadap peningkatan kualitas kesehatan millenial di Indonesia.

“Keseriusan RSUI dalam mencegah timbulnya resiko penyakit kronis di kalangan millennial dilakukan melalui beberapa seminar kesehatan bertemakan millennial,” katanya.

Hal ini juga sebagai salah satu perwujudan Rumah Sakit Pendidikan Tinggi Negeri (RSPTN) peduli terhadap kondisi kesehatan penduduk Indonesia di usia produktif.

“Sebagai RSPTN yang baru hadir di Indonesia, RSUI menghadirkan Community Health Service di Klinik Gizi juga merupakan wujud nyata kepedulian RSUI terhadap kesehatan masyarakat sekitar,” pungkasnya. n CR1-JD

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here