Kurangi Sampah, Sekolah Amec Budidayakan Maggot

15
Direktur Sekolah Amec (pakai peci) bersama perwakilan Kemen LHK saat menunjukkan budidaya maggot

Laporan: Rahmat Tarmuji
Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2019 dimanfaatkan Yayasan Al-
Ma’mun Education Center (Amec) untuk melakukan berbagai kegiatan.

Bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Amec mengadakan sosialisasi bahaya sampah, praktek pemisahan sampah organik dan non organik. Setelah itu, diadakan program Amec for Zero Waste dengan dua pendekatan.

“Sampah organik akan diolah sendiri melalui budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF), yang telah ada di lingkungan Sekolah Amec. Setiap hari pasukan BSF akan menghabiskan sekitar 50kg sampah yang berasal dari daun, rumput, sisa makanan/sayuran yang timbul dari lingkungan sekolah Amec,” ujar Ma’mun Ibnu Ridwan, Direktur Sekolah Amec, kemarin.

Selanjutnya, sebagian daging BSF setelah disortir, untuk protein pakan ikan, burung dan ayam yang ada di kompleks Sekolah Amec, dan kotorannya akan digunakan sebagai kompos sayuran organik yang dibudidaya anak-anak secara rutin setiap semesternya.

“Sedangkan sampah non organik, khususnya plastik, diberlakukan larangan sama sekali membawa ke sekolah atau menggunakan sampah plastik sekali pakai dan hanya diperbolehkan plastik yang bisa dicuci dan dipakai kembali, seperti botol minuman serta wadah makan peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan,” paparnya.

Sedangkan bagi tamu, lanjutnya, yang membawa plastik agar dibawa pulang kembali.

“Program ini, Insya Allah akan terus dijalankan secara konsisten selama pencemaran lingkungan hidup masih terjadi di muka bumi ini. Kami mohon dukungannya semua pihak,” harapnya.

Dalam kesempatan itu Ma’mun juga meminta kepada pemerintah, dunia industri dan semua pihak agar pogram ini istiqomah berjalan di Sekolah Amec 1 dan Amec 2, juga kampus Amec lainnya yang sedang dibangun.

“Kepada pemerintah seyogyanya menutup industri plastik sekali pakai, dan mendorong produksi plastik yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Khusus untuk keperluan khusus yang harus menggunakan plastik seperti tempat darah, infus, obat farmasi, dan lainnya produsen dan penggunanya harus mendaur ulang dan tidak dibuang,” sarannya.

Selain itu, kebijakan pengangkutan semua sampah campuran organik dan non organik ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) terus diangkut ke TPA adalah kebijakan yang perlu ditinjau ulang, karena tidak mengedukasi warga peduli sampah dan karenanya hanya memindahkan masalah, dari masalah kecil di pemukiman/perkantoran/pasar dan lainnya dipindahkan menjadi masalah yang lebih besar di TPA.

“Ke depan, aparat birokrat persampahan cukup membantu mengangkut sisa sampah (residu) warga yang tidak bisa didaur ulang (recycle) atau tidak bisa dipakai kembali (reuse). Kepada warga masyarakat yang masih menggunakan kantong kresek agar beralih ke kantong yang bisa dipakai kembali,” ungkapnya.

Kepala Seksi Daur Ulang Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tyasning Permanasari mengapresiasi upaya Sekolah Amec untuk mengurangi timbulan sampah.

“Ini menandakan sudah tumbuhnya kepedulian masyarakat termasuk pihak sekolah guru-guru dan anak sekolah terhadap pengelolaan sampah, jadi sampah itu memang tidak hanya semata-mata tanggungjawab pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, tapi seluruh stakeholder,” terangnya.

Apalagi, kata dia, anak sekolah perlu diedukasi sejak dini untuk perubahan pola piker yang harus diberikan dari mulai sejak kecil agar nanti mereka lebih peduli terhadap lingkungannya. n

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here