Ayah Tiri Banting Anaknya Dalam Kondisi Mabuk

137
Aparat Polresta Depok saat menunjukkan barang bukti terhadap kasus kematian anak yang dibanting ayah tirinya

Margonda | jurnaldepok.id
HK, ayah tiri yang membunuh anaknya dengan cara membanting di rumah kontrakannya di RT 01 RW 09 Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Tapos, mengaku melakukan aksinya dalam kondisi mabuk.

“Abis mabok minuman, istri suka mukul anak saya juga. Saya sudah dua tahun nikah sama ibu korban, awalnya karena cekcok sama bini masalah ekonomi, itu waktu dibanting ada istri disitu ada anak saya umur tiga tahun,” ujarnya di Polresta Depok pada gelar perkara, Senin (11/2).

Dia mengatakan, saat itu korban dalam posisi jongkok, lalu ketiaknya diangkat lalu dilempar.
Dimana saat kejadian ada anak lainnya yang sudah berusia tiga tahun didalam rumah kontrakan

“Saya kasihan pak, saya seperti ada bisikan banting tidak saya lempar,”katanya.

HK merasa bersalah dan menyesal atas perbuatannnya, selama ini dirinya bekerja sebagai pengamen jalanan.

Di lokasi sama Wakapolresta Depok, AKBP Arya Perdana mengatakan, kejadian ini berawal dari HK pelaku cekcok dengan orang tua dan korban lalu penganiayaan anaknya.

“Motifnya pelaku kesal dengan istrinya, beberapa hari sebelumnya pelaku sempat ada cekcok mulut lalu mereka ini punya anak bawaan masing-masing, pada saat menikah dengan istrinya itu punya anak masing-masing,” tandasnya.

Dia melakukan tindakan kepada korban, kata dia, pada beberapa hari lalu, kemudian istrinya bilang padanya begini ‘kalau anak kamu diginiin mau gak’.

“Hari berikutnya baikan, lalu kerja dan pelaku HK menyampaikan kepada ibu korban Eni kalau bisa pulangnya jangan sore-sore. Ternyata istirnya tidak pulang-pulang, sesampainya di dirumahnya pelaku kesal dan marah karena tidak ada makanan di meja makan,” katanya.

Kondisi itu membuat pelaku marah lagi, namun saat itu ia marahnya pada anaknya.

“Anaknya itu diciumin, terus dibanting kekasur, nafasnya mulai kejang-kejang dan meninggal dunia,” ungkapnya.

Dari hasil penyelidikan sementara, pelaku HK tega melakukan aksi kejinya karena kesal dengan sang istri yang merupakan ibu kandung korban.

“Jadi ini awalnya tersangka cek cok dengan istrinya. Lalu tersangka emosi dan melampiaskan emosinya tersebut dengan cara anak tirinya (korban) yang sedang duduk di dalam diangkat ke atas lalu dibanting,” terangnya.

Mengetahui hal itu, Eni orang tua korban, kemudian berusaha melarikan sang anak ke rumah sakit. Namun sekira pukul 18.30 WIB, korban meninggal dunia.
“Pas kejadian ibu korban tidak tahu sebab dia lagi ngamen. Ia mengetahui peristiwa itu dari tetangga sekitar,”katanya.

Dari hasil autopsi di Rumah Sakit
untuk sementara ada cairan yang rembes di darah kepala korban karena memang dibanting, sehingga mengakibatkan korban meninggal.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pria 20 tahun itu pun terancam Undang-undang Perlindungan Anak. Ia dijerat pasal 80 ayat 2,3,4 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 junto 351 ayat 3 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

“Yang bersangkutan (tersangka) ini profesinya juga pengamen. Dia kami ringkus di lokasi kejadian berdasarkan informasi orangtua korban dan para saksi,” pungkasnya. n CR1-JD

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here