Tahun Politik, Informasi Hoax Meningkat 85 Persen

67
Irjen Pol Mohammad Iqbal

Beji | jurnaldepok.id
Polri mengajak mahasiswa Vokasi Universitas Indonesia (UI) menjadi garda terdepan untuk mencegah penyebaran hoaks lewat media sosial (medsos). Sebagai generasi milenial, mahasiswa dinilai punya pengaruh besar sebagai pengguna medsos.

“Dari data yang ada, pemegang gadget, pengguna sosmed ada di adik-adik semua. Hati-hati nanti bisa dipanggil polisi, kalau (hoax) di-foward. Jadi saring dulu,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal dalam seminar Milenial Anti Hoax, di auditorium Vokasi, UI, kemarin.

Dia mengingatkan mengenai peningkatan penyebaran hoax menjelang pemilu 2019. Karena itu, Polri disebut Iqbal juga berperan mendinginkan suasana politik.

“Hoaks mengemuka hampir naik 65 sampai 85 persen pada tahun politik, maka polisi tampil sebagai oase untuk mendinginkan situasi politik yang ada,” paparnya.

Sementara itu, Kabiro Misi Hubinter Polri, Brigjen Krishna Mukti menjelaskan, penyebaran hoaks yang ancaman pidananya diatur dalam UU ITE. Selain menyebarkan berita bohong, UU itu juga melarang penyadapan dan pencemaran nama baik. Khrisna pun mencontohkan pelanggaran UU ITE yang mungkin dilakukan mahasiswa.

“Kamu upload dosen dari belakang, dosen ini orangnya gini, disebar. Dosen ngadu, pelaku ditangkap nangis. Ini sudah dikasih tahu Pak KM, dilarang,” katanya.

Pengamat sosial Vokasi UI, Devie Rahmawati mengatakan, mahasiswa UI harus menjadi tameng terdepan pencegahan penyebaran hoaks. Sebagai kaum milenial, mahasiswa UI memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar akan hal tersebut.

“Bagaimana mereka bisa menjadi agen pencegahan penyebaran hoaks itu sendir. Caranya dengan memiliki pengetahuan dan kemudian menyebarkan pada lingkungan sekitar,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here