Dosen & Mahasiswa PNJ Ubah Sampah jadi Biogas

373
Dosen PNJ saat melakukan uji coba alat pengolah sampah yang diubah menjadi biogas

Laporan: Rahmat Tarmuji
Pada saat ini sudah banyak berdiri bank sampah di daerah Depok yang bertujuan untuk membantu mengurangi beban sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cipayung.

Didasari hal itu, dosen Politeknik Negeri Jakarta melakukan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) pemberdayaan bank sampah di wilayah Desa Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari.

Salah satu bank sampah tersebut adalah Bank Sampah Melati Bersih (BSMB) yang berada di lingkungan RW 05 Kelurahan Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari, Depok. Bank Sampah Melati Bersih berdiri pada tahun 2013 dan merupakan Bank Sampah pertama yang berdiri dari delapan RW di Duren Mekar.

“Kegiatan utama adalah membantu nasabah dalam penimbangan sampah anorganik dan menjual ke pengepul barang bekas. Uang hasil penjualan tersebut kemudian ditabung di BSMB. Total uang yang telah terkumpul dari tahun 2013 sampai dengan 2016 mencapai Rp 19.769.699,00,” ujar Sutanto, Dosen PNJ kepada Jurnal Depok, kemarin.

Dari tahun 2013 sampai dengan 2016 Bank Sampah tersebut juga telah mampu mengurangi jumlah sampah anorganik yang dibuang ke TPAS Cipayung sebanyak 0,316 ton. Sedangkan sampah organik dalam waktu satu minggu sekitar 8,3 ton atau 60 persen dikirim ke Unit Pengolah Sampah (UPS) untuk diolah menjadi pupuk dan sisanya 5,6 ton atau 40 persen masih dibuang ke TPAS atau dibakar.

Dikatakannya, sampai dengan pertengahan tahun 2016, jumlah nasabah di BSMB mencapai 98 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 9,1 persen dari seluruh warga RW 05 yang berjumlah 1.075 KK.

“Bank sampah lain yang berdiri setelah dibina oleh Bank Sampah Melati Bersih antara lain Bank Sampah Cempaka beralamat di RW 01, Bank Sampah Teratai Putih beralamat di RW 03, Bank Sampah Mawar 3 beralamat di RW 06 dan Bank Sampah Sawangan Elok beralamat di RW 07,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengtakan, sampah organik yang tidak laku dijual oleh masing-masing bank sampah tersebut dibuang ke lingkungan sekitar atau dimasukkan ke lubang tanah, dan ada juga yang dibakar, sehingga dapat mengundang berbagai macam penyakit atau polusi lingkungan.

Masalah lain yang dihadapi oleh seluruh pengelola bank sampah tersebut adalah proses pencatatan dan penghitungan saldo akhir yang masih dilakukan secara manual yang sering menyebabkan terjadinya kesalahan penulisan pada buku tabungan, sehingga merugikan nasabah.

“Pada pelaksanaan kegiatan program kemitraan masyarakat (PKM) ini diambil Bank Sampah Melati Bersih (BSMB) dan Bank Sampah Mawar 3 sebagai mitra, karena keduanya memiliki KK yang paling banyak dan secara geografis letaknya saling berdekatan serta adanya kedekatan hubungan antara para pengelola sehingga memudahkan dalam berkoordinasi,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu pihaknya memberikan solusi untuk mengatasi sampah organik yang belum tertangani dengan baik adalah mengolah sampah tersebut menjadi biogas (metan) dalam suatu reaktor digester.

“Salah satu target dari Program Kemitraan Masyarakat ini adalah membuat model reaktor digester yang mampu mengubah sampah organik menjadi biogas. Contoh sampah organik yang telah berhasil dibuat biogas antara lain kulit pisang, kangkung, kubis dan bayam,” terangnya.

Sebelum diolah menjadi biogas, kata dia, semua sampah anorganik terlebih dahulu dipisahkan dari sampah organik. Pemodelan proses pembuatan biogas dimulai dari sampah kulit pisang sebanyak 4 kg yang diblender sampai halus. Kulit pisang yang telah diblender dicampur dengan air sebanyak 4 liter dan dimasukkan kedalam digester dari baja tahan karat yang mempunyai ukuran panjang 30 cm, lebar 30 cm dan tinggi 75 cm.

Digester dilengkapi antara lain pipa saluran gas sepanjang 30 cm dengan diameter ½ in, pipa umpan masuk sepanjang 15 cm dengan diameter 4 cm yang dilengkapi corong berbentuk limas terpancung dengan alas berbentuk bujursangkar dengan panjang sisi 15 cm dan tinggi 15 cm, pipa keluaran sisa sampah sepanjang 15 cm dengan diameter 4 cm, pipa saluran buangan cairan sepanjang 15 cm dengan diameter ½ in, kran ½ in untuk pengatur aliran biogas dan kaki penyangga 5 cm.

“Proses fermentasi anaerob dijalankan secara “batch” selama 7 hari dengan pengamatan tekanan gas setiap 10 jam. Untuk proses selanjutnya dilakukan dengan prosedur yang sama, akan tetapi sampah kulit pisang berturut-turut diganti dengan sampah kangkung, kubis dan bayam,” ungkapnya.

Tekanan biogas (gas metan) maksimum dari bahan baku sampah kulit pisang adalah 1,03325 bar, diperoleh dalam waktu 110 jam. Tekanan biogas maksimum dari bahan baku sampah bayam adalah 1,03066 bar diperoleh dalam waktu 150 jam. Tekanan biogas maksimum dari bahan baku sampah kangkung adalah 1,02575 bar diperoleh dalam waktu 150 jam. Tekanan biogas maksimum dari bahan baku sampah kubis adalah 1,02850 bar diperoleh dalam waktu 140 jam. Biogas (gas metan) yang dihasilkan baru bisa digunakan untuk memanaskan rata-rata selama 7 – 10 menit.

Untuk meningkatkan kapasitas biogas dan lama pembakaran, perlu dibuat reaktor digester yang berukuran lebih besar dan mampu bekerja secara kontinyu. Kelengkapan lain yang perlu ditambahkan adalah bejana penyimpan biogas.

“Dari proses pembuatan biogas tersebut dapat disimpulkan bahwa semua jenis sampah organik dapat diolah menjadi biogas. Dalam hal ini sampah kulit pisang merupakan sampah organik terbaik yang dapat menghasilkan biogas,” terangnya.

Sedangkan untuk mengatasi kesalahan dalam proses pencatatan dan seluruh transaksi dari manual akan diganti menjadi komputerisasi. Target luaran adalah software berbasis aplikasi data base yang mampu mencatat semua transaksi dan menghitung saldo akhir secara otomatis dan mencetak dalam buku tabungan.

“Proses komputerisasi buku tabungan untuk seluruh nasabah pada saat ini sedang dalam penyelesaian pengerjaan program (software,red),” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here