DPRD Panggil Bos Mares

279
Hendrik Tangke Allo

Kota Kembang | jurnaldepok.id
Praktik prostitusi yang terjadi di Apartemen Margonda Residence (Mares) membuat petinggi
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) geram. Pasalnya, bukan baru sekali saja kasus tersebut terjadi, namun ditemukan sudah beberapa kali yang diketahui.

Atas kasus tersebut, dalam waktu dekat ini DPRD segera memanggil bos sekaligus pemilik Apartemen Margonda Residence. Hal itu dibenarkan oleh Ketua DPRD Depok, Hendrik Tangke Allo.

“Ya (dipanggil,red), nanti kami akan koordinasi terlebih dahulu,” ujar Hendrik kepada Jurnal Depok, Senin (27/8).

Selain DPRD, aparat Polresta Depok jug memanggil manajemen pengelola apartemen yang berada di Jalan Margonda terkait adanya temuan kasus dugaan prostitusi di apartemen tersebut. Namun sayang, mereka mangkir.

Kasatreskrim Polresta Depok, Komisaris Polisi Bintoro kepada wartawan mengatakan pihaknya melayangkan surat pemanggilan kepada pengelola manajemen apartemen terkait terbongkarnya kasus prostitusi bermodus pesta seks anak baru gede alias ABG di kamar apartemen tersebut.

“Tidak ada seorang pun dari pengelola apartemen itu yang bersedia datang ke anggota kami untuk memenuhi panggilan pemeriksaan,”katanya.

Bintoro mengatakan, tak ada keterangan resmi dari pengelola terkait ketidakhadiran mereka memenuhi panggilan itu.

“Kami sudah beberapa kali coba panggil, tapi mereka belum datang ke Polresta Depok,” ungkapnya.

Dia mengatakan, penyidik kepolisian membutuhkan keterangan pengelola apartemen itu, karena kasus prostitusi sudah beberapa kali terjadi di Apartemen Mares. Yang paling parahnya, pelakunya adalah wanita-wanita yang masih berusia di bawah umur seperti berusia antara 16 tahun sampai 17 tahun.

“Ini tentu jadi perhatian kami, karena rata-rata PSK nya di bawah umur. Rencana kami akan kembali memanggil pihak pengelola untuk dimintai keterangan,” katanya.
Pengelola Apartemen Margonda Residence hingga kini belum bersedia memberikan keterangan kepada wartawan.

Bahkan, ketika sejumlah awak media mencoba mengkonfirmasi, pihak manajemen tidak menanggapi dengan alasan harus dilengkapi dengan surat yang resmi.

Sementara itu salah seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) berinisial NZ yang saat itu beroperasi di apartemen di kawasan Margonda mengungkapkan, terjelembabnya ia ke bisnis esek-esek lantaran ia putus sekolah dan faktor ekonomi.

Ia hanya menamatkan pendidikan sampai Sekolah Menengah Pertama atau SMP. Agar aksinya tak dicurigai keluarga, NZ mengaku kepada orangtua jika dirinya bekerja di kawasan Bekasi.

Kanit Reskrim Polsek Beji, Iptu Herry W mengatakan, NZ mengaku kepada penyidik baru menjadi PSK Online

“Ngaku kepada anggota kami, sudah enggak sekolah, terakhir katanya cuma tamat SMP. Ya orangtuanya enggak tahu kalau dia begitu,” terangnya.

NZ mengaku, dirinya nekat menjadi PSK karena tergiur dengan bayaran yang tinggi dan instan.
Untuk sekali kencan, remaja berambut panjang ini membanderol harga Rp 900 ribu, harga itu sudah termasuk bayar sewa kamar apartemen yang per harinya Rp 250 ribu.

Uang itu ia gunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan diberikan kepada orangtua. Belakangan, ia juga ikut bergabung dengan tiga pria yang diduga sebagai muncikari.

“Info yang kami peroleh jokinya ini dari luar. Mereka (muncikari) menggunakan aplikasionline dan untuk aktivitas dari yang bersangkutan itu sudah satu tahunan. Kasus prostitusi ini menggunakan perantara, ada yang bertransaksi, intinya perannya mereka saling melengkapi, yang terakhir itu penyedia tempat,” jelasnya.

Sebelumnya tiga pelaku terduga pelaku prostitusi online salah satunya sebagai mucikari di salah satu kamar Apartemen Margonda Residence di Jalan Margonda, Kecamatan Beji, kembai diciduk aparat Kepolisian Polsek Beji dan Polresta Depok. n Rahmat T | CR1-JD

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here