Mucikari Prostitusi Online Di Margonda Residence Diringkus

298
Inilah mucikari prostitusi online yang biasa beroperasi di Apartemen Margonda Residence. Mereka berhasil diringkus oleh jajaran Polresta Depok

Margonda | jurnaldepok.id
Aparat Polresta Depok kembali mengungkap praktek prostitusi online. Kali ini tiga orang diamankan dari sebuah apartemen di Depok. Ketiganya merupakan mucikari dan penyedia jasa kamar.

Ketiganya adalah TM, R dan IS yang merupakan warga Depok. Modusnya ketiganya membagi peranan untuk mendapatkan PSK dan pria hidung belang.

“Satu orang menjadi mucikari dan membuatkan akun di sebuah aplikasi. Setelah itu mencari PSK yang akan direkrut untuk melayani pelanggan. Di apartemen sendiri sudah ada joki yang mengantar PSK dan pria hidung belang. Kemudian ada yang bertugas menerima uang hasil penjualan diri,” ujar Kasat Reskrim Polresta Depok, Kompol Bintoro, Kamis (23/8).

Ia menambahkan, ketiganya diamankan pada, Selasa (21/8) dinihari pukul 01.30 WIB. Ketiganya tak berkutik setelah petugas mendapati adanya bukti konkrit.

“Mereka berbagi peranan. Ada yang membuat akun untuk PSK-nya. Ada yang tugasnya bertransaksi dengan konsumen dan menyediakan kamar ada juga yang mengantar ke kamar,” paparnya.

Menurutnya, praktek prostitusi online ini sudah lama dilakukan ketiganya. Bahkan disinyalir sudah didesain sedemikian rupa sehingga mereka leluasa melakukan hal tersebut. Dari tiga pelaku ini sudah ada satu korban yang dijadikan PSK. Dia adalah NZ (17).

“Korban masih dibawah umur. Tarif yang dipatok Rp 700.000,” tukasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, uang itu dibagi-bagi sesuai dengan peranan. PSK mendapat jatah paling besar. Sedangkan joki mendapatkan Rp 100.000. Untuk sewa kamar Rp 250.000.

“Uang ini, dibagi oleh para tersangka untuk membayar sewa apartemen Rp 250 ribu, untuk PSK nya sebesar Rp 300 ribu sedangkan untuk beberapa orang lain yang ikut andil dalam prostitusi tersebut, seperti Joki memperoleh bagian sebesar Rp 100 ribu,” terangnya.

Yang membedakan kasus ini dengan pengungkapan sebelumnya, kata dia, adalah PSK ini menggunakan jasa mucikari. Sedangkan yang sebelumnya para PSK menjual diri secara langsung pada pelanggan dengan menggunakan aplikasi. Namun lokasi yang digunakan sama yaitu di Apartemen Margonda Residence.

“Ini lokasinya sama seperti yang kami ungkap kemarin, tapi modusnya berbeda kalau yang kali ini sangat terstruktur dan para pelaku saling melengkapi,” paparnya.

TR mengaku membuat akun yang digunakan sebagai sarana promosi untuk menawarkan PSK kepada konsumen.

“Ya saya yang buat akun, dengan persetujuan si ceweknya (NZ) lalu saya promosiin di aplikasi Beetalk disitulah kita dapet konsumen,” akunya.

 

Namun, TR berdalih tidak memaksa perempuan di bawah umur itu, untuk masuk dalam pusaran prostitusi tersebut.

“Saya ga pernah maksa pak, dia yang mau katanya tolong cariin Om-oman,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here