Universitas Pancasila Dorong Energi Baru Terbarukan

122
Para pserta Seminar Rekayasa Teknologi foto bersama usai acara

Margonda | jurnaldepok.id
Fakultas Teknik Universitas Pancasila (UP) mengadakan Seminar Rekayasa Teknologi (Semrestek) 2018. Seminar mengusung tema “Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Green Technology untuk Kemandirian Bangsa”.

Seminar ini diikuti ratusan peserta. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila, Siswono Yudo Husodo.

“Terus terang saja, sumber tenaga listrik Indonesia itu sangat didominasi oleh fosil, seperti batubara 50,28 persen, gas 24,2 persen, BBM 11, 7 persen, air hanya 6, 5 persen, 4, 4 persen itu jika dilihat posisi sekarang,” ujarnya, Senin (20/8).

Dia menuturkan dari potensi yang ada, berapa yang dimanfaatkan sangat menyedihkan. Karena dilihat potensi tenaga air di seluruh Indonesia ada 75 ribu mega watt, sementara yang baru dipakai baru 5.250 mega watt, artinya baru 7 persen, panas bumi 29. 475 mega watt.

“Yang dipakai baru 1.403 mega watt atau baru 4,8 persen,” tukasnya.

Yang luar biasa, kata Siswono, adalah biomas dari hasil pertanian, limbah sawit, limbah tebu dan lain-lain, potensinya adalah 32 ribu mega watt dan yang dipakai baru 1.740 mega watt atau 5,4 persen.

“Nah sekarang bahkan, ketika negara-negara lain mengganti ke EBT, seperti memakai surya, hidro, angin, gelombang laut, Indonesia baru membangun beberapa pusat tenaga listrik baru dari batubara, saya mengira itu jangan-jangan di scrap dari negara asalnya sudah tidak dipakai, mereka mengganti ke EBT, daripada jadi besi tua dijua ke Indonesia, itu yang saya khawatir jika itu terjadi,” ucapnya.

Jika belajar dari New Zealand dan melihat di sana 90 persen lebih, sumber listriknya dari hidro dan panas bumi. Berdasarkan penuturan kawan Siswono di sana pun mengaku heran, karena Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, tapi yang dipakai baru 4, 8 persen.

Untuk itu, ia mengapresiasi kegiatan yang dilakukan Fakultas Teknik UP saat ini dengan menghadirkan pembicara, seperti Profesor Poster dari Jerman, belanda dan juga profesor asal Indonesia, seperti Profesor Trisna dari UI dan juga dari ESDM, juga undangan dari Tegal yang saat ini bersama UP ingin mengembangkan energi dari sampah Kota Tegal.

“Saya berharap dari seminar ini, referensinya dapat didengar oleh seluruh pihak, karena yang paling utama adalah keputusan politik, jika keputusan politiknya mulai dari RI 1 hingga DPR menetapkan Indonesia harus mengganti ke EBT dalam waktu cepat, itu implementasi ke bawahnya mudah,” tambahnya.

Pemerintah menargetkan di tahun ini kondisinya EBT baru 6 persen, rencanannya 2020 naik jadi 17 persen, 2025 jadi 23 persen, jika dilihat itu sudah cukup bagus.

“Yang saya heran ini, batubara sudah 29 persen, 2020 tetap 29 persen 2025 naik jadi 36 persen, saya juga tidak mengerti ini, jadi ini berbicara soal lobi-lobi saja, siapa yang menang lobi sekaligus memberikan persentasi, kan potensi menjadi available itu suatu kerjaan yang tidak kecil, jadi ada yang bilang potensi biomas kita besar, tapi kita tidak membuktikan dalam bentuk praktek, oleh karena itu saya menghargai fakultas teknik dengan Kota Tegal untuk membuat energi listrik dari sampah kota, tahun ini selesai, peresmian kita akan ekspos besar-besaran dan untuk dorongan politik perlunya EBT,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here