Ganjil Genap Tahap Finalisasi

219
Bus jurusan Depok-Bandara saat melintas di Jalan Raya Margonda

Margonda | jurnaldepok.id
Kepala Dinas Perhubungan Kota Depok, Dadang Wihana mengatakan kajian kebijakan ganjil genap telah memasuki tahap finalisasi.

“Baru tahap finalisasi, jadi tidak ada uji coba minggu ini. Tentu masih banyak tahapan yang harus dilalui,” ujar Dadang kepada Jurnal Depok, Kamis (9/8).

Ia menambahkan, pihaknya juga akan berkordinasi dengan BPTJ, expose kajian, FGD dan uji public.

“Jika tidak layak maka tidak akan dilanjutkan, namun jika layak dilanjutkan dengan uji coba,” paparnya.

Dari data yang didapat dari Dinas Perhubungan Kota Depok, pola pergerakan orang di Depok pada hari biasa sebanyak 58 persen ada di luar Depok. Sedangkan sisanya sebanyak 42 persen ada di dalam Depok. Namun pada akhir pekan, pola tersebut berubah.

“Hampir semua pergerakan ada dalam Depok. Ini yang menyebabkan terjadinya tumpukan kendaraan pada akhir pekan,” terang Dadang.

VC Ratio di Depok saat ini sudah mencapai 0.9. Artinya kondisi jalan sudah tidak lagi ideal menampung kendaraan sehingga terjadi kepadatan di jalan. Sedangkan idealnya adalah 0.5 saja. Selain itu pemerintah juga sudah tidak mungkin lagi untuk menambah lebar Jalan Margonda sehingga yang dilakukan adalah melakukan rekayasa yang visibel.

“Dinas Perhubungan sudah didinstruksikan untuk melakukan kajian untuk mengurai kemacetan di Depok, salah satunya adalah ganjil genap ini. Saat ini masih dalam proses dan ditargetkan akhir bulan ini selesai finalisasi kajian,” paparnya.

Setelah kajian selesai, kata dia, selanjutnya akan dilakukan uji publik dan diskusi untuk evaluasi. Barulah nanti didapat kebijakan yang tepat mengatasi kemacetan yang ada di Depok. Nantinya dimungkinkan tidak semua Jalan Margonda akan diberlakukan ganjil genap.

“Margonda kan ada tiga segmen. Bisa saja nanti hanya segmen tertentu yang diterapkan ganjil genap. Nah ini masih kami kaji secara keseluruhan. Tentunya nanti kami kaji dari berbagai aspek termasuk ekonomi dan sosial,” ungkapnya.

Disebutkan jumlah kendaraan yang melintas di Margonda dari utara-selatan (dua arah) pada Minggu sore sebanyak 7.836 kendaraan/jam. Pada minggu siang sebanyak 7.746 kendaraan/jam, dan minggu pagi sebanyak 6.428 kendaraan/jam. Sedangkan pada week day sebanyak 7.621 kendaraan/jam pada sore hari. sedangkan siang hari sebanyak 3.827 kendaraan/jam dan pagi sebanyak 3.254 kendaran/jam.

Sementara itu Pakar Manajemen Inovasi UI, Ali Berawi mengatakan, wacana tersebut bisa saja diterapkan sepanjang disiapkan juga sarana penunjangnya. Misalnya disediakan suthle bus untuk menuju Margonda. Sehingga dengan demikian orang bergerak tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi tetapi menggunakan moda transportasi umum.

“Penyediaan sarana penunjangnya harus dipersiapkan juga,” katanya.

Jika sistem ini baru sebatas ujicoba, kata Ale, hal ini bisa saja dimungkinkan untuk melakukan kajian dan evaluasi mendalam dari berbagai aspek.

“Nanti diharapkan dapat terlihat berapa besar pengurangan kemacetannya, bagaimana pola perubahan transportasi masyarakat, dan hal-hal yang perlu dipersiapkan secara matang termasuk alternatif rute dan rekayasa lalu lintas dengan berlakunya sistem ganjil-genap” tukasnya.

Kemacetan di Margonda dipicu banyaknya warga yang menuju pusat perbelanjaan dan kuliner disana. Hal ini juga harus ditangkap sebagai peluang oleh Pemerintah Kota Depok untuk mengembangkan pembangunan di titik lain selain Margonda.

“Margonda saat ini menjadi destinasi. Ada baiknya pemerintah sudah mulai membuka transportasi publik dari simpul-simpul perumahan menuju Margonda. Dan juga perlu dilakukan pemerataan pembangunan dan aktivitas ekonomi di tempat lain sehingga pergerakan warga pada akhir pekan tidak hanya terpusat di Margonda yang menyebabkan penumpukan kendaraan,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here