Harga Jengkol Melejit

150
ist

Pancoran Mas | jurnaldepok.id
Sejumlah pedagang sayur mayur dan pemilik warung nasi mengeluhkan tingginya harga jengkol dipasaran pasca lebaran Idul Fitri 1439 Hijriyah yang mencapai Rp 80 ribu / kilogram naik lebih dari 300 persen dari harga normal Rp 25 ribu / kilogram.

Edi Jamali salah satu pedagang sayur mayur di wilayah Kelurahan Rangkapan Jaya Baru (RJB) Kecamatan Pancoran Mas mengatakan pada bulan puasa silam harga jengkol berkisar antara Rp 20 hingga Rp 25 ribu / kilogram namun setelah lebaran harga jengkol melonjak tajam bahkan hingga mencapai Rp 70 hingga Rp 80 ribu / kilogram.

“Waktu sebelum dan saat bulan puasa harga jengkol masih normal dikisaran Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu perkilo tapi sekarang harga jengkol luar biasa mahalnya dan kami membeli dipasar harganya sudah mencapai Rp 70 kilogram dan kami jual seharga Ro 80 ribu per kilogram, ” ungkap Edi.

Meskipun mengaku tidak mengaku tidak mengetahui penyebab pasti kenaikan harga jengkol namun dia menduga melonjaknya harga jengkol pada lebaran dan pasca lebaran disebabkan tingginya permintaan pasar yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan dipasaran.

“Bulan puasa memang jarang yang beli jengkol makanya waktu itu harga jengkol relatif sangat murah tapi pas lebaran hingga sekarang harganya melambung karena banyak permintaan sementara pasokan barangnya sedikit, ” terang Edi yang membuka warung sayur mayur di Jln RD Sukarma Rt 03/03 Kelurahan Rangkapan Jaya Baru (RJB) Kecamatan Pancoran Mas.

Tak hanya warga dan pedagang sayur, sejumlah pemilik warung nasi juga mengeluhkan mahalnya harga jengkol dipasaran yang mengalami kenaikan lebih dari tiga kali lipat.

Zuraida salah satu pemilik warung nasi di wilayah Cinere bahkan mengaku tidak lagi menyediakan menu jengkol lantaran harganya selangit dan tidak terjangkau dikocek para langganan.

“Untuk sementara saya enggak menyiapkan menu jengkol karena mahal banget apalagi langganan saya rata rata para pekerja serabutan dan pegawai toko yang penghasilan nya pas pasan sehingga enggak tega kalau harus dipatok harga mahal, ” pungkas Zuraida yang membuka warung nasi didepan Kantor Kelurahan Cinere. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here