Masih Banyak Pemilih Galau

91
ilustrasi

Margonda | jurnaldepok.id
Guru Besar Ilmu Politik, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Profesor Karim Suryadi menilai debat Gubernur Jawa Barat yang dilaksanakan pada Jumat (22/6) dinilai belum mampu menjaring pemilih galau yang belum menentukan pilihannya.

Menurutnya lantaran tersebut karena performance pada debat bukan persoalan utama untuk menjaring undecide voter atau swing voter.

“Saya sudah pernah bilang sebelumnya bahwa debat itu bukan panasea, atau mata air di gurun yang tandus, karena banyak sekali variabel yang menyertai pemilih mau memilih pasangan tertentu. Selain preferensi personal ada juga hubungan kekerabatan. Hubungan kepagawaian, pertemanan dan persaudaraan,” ujarnya.

Ia menambahkan tidak ada perubahan yang drastis dari pasangan calon yang menampilkan gagasan mereka dalam debat terakhir yang digelar belum lama.

“Saya berpandangan jika debat terakhir itu belum mampu membentuk preferensi pemilih yang masih galau. Karena diliat dari performance kandidat tidak ada lompatan yang berarti, meski jauh lebih substantif dari debat sebelumnya karena unsur entertaimen dikurangi dan ada pendalaman dari panelis dan lain sebagainya,” paparnya.

Ia mengaku dalam pelaksanaan debat dirinya juga sempat memberikan pertanyaan kepada mereka terkait pengalaman terbaik mereka soal pendidikan dan kesehatan. Namun, lagi-lagi kata dia, jawaban paslon tidak meyakinkan.

“Ketika saya tanya waktu debat itu, bagaimana pengalaman mereka menangani masalah pendidikan dan kesehatan agak susah bunyi.. Padahal itu secara teori dan itu dibukukan dalam berbagi research bahwa fakta dan pengalaman kandidat yang relevan dan bisa ditransformasikan ke delam jabatannya itu jauh lebih persuasif ketimbang dari janji-janji bolong itu,” jelasnya.

Sebelumnya debat terakhir Pilgub Jawa Barat selesai dilaksanakan di Grand Ballroom Sudirman, Kota Bandung, Jumat (22/6). Tak seperti pada sebelumnya, debat pamungkas ini dirancang sedemikian rupa dengan tujuan meminimalisir konfrontasi dari masing-masing paslon.

Salah satu caranya, mengurangi jumlah pendukung jauh dari debat pertama. Maksimal, paslon hanya bisa membawa 50 pendukung. Meski begitu, jumlah penonton tidak mempengaruhi semarak debat di dalam ruangan. Selain itu, sesi antar pertanyaan paslon ditiadakan, agar publik bisa lebih mengetahui secara rinci program-program pasangan, menjawab solusi, tantangan serta masalah yang ada di Jawa Barat.nNur Komalasari

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here