Benda Bersejarah Raib

179
ilustrasi

Cimanggis | jurnaldepok.id
Sebuah benda peninggalan sejarah Belanda yakni angin-angin (bovenlict) atau ventilasi pintu antik yang berukiran kayu dicuri orang tak dikenal. Hal itu diketahui dari adanya infofmasi yang disampaikan salah seorang anggota Komunitas Sejarah Depok (KSD) bahwa sedang ada yang menawarkan angin-angin (bovenlicht) antik kayu berukir ukuran 1.62 x 1.48 meter.

“Jadi ada yang mengirimkan foto angin-angin atau ventilasi di atas pintu antik itu, anggota grup KSD terkejut. Diketahui angin-angin pintu kamar anak kesayangan Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra (1761-1775) yang terdapat di situs sejarah Rumah Cimanggis,” ujar pemerhati sejarah Depok, Ferdy Jonathan kemarin.

Usai mengetahui adanya orang yang mengambil benda bersejarah, pihaknya langsung membentuk tim. “Kami bagi tugas untuk sesegera mungkin menemukan orang yang menawarkan angin-angin situs sejarah Rumah Cimanggis dan memeriksa langsung dan memang benar itu dari sejarah Rumah Cimanggis,” ucapnya.

Ia menambahkan tidak membutuhkan waktu lama menemukan orang yang menawarkan benda antik tersebut. Pasalnya ketika mengetahui barang yang diambil bernilai sejarah, orang yang bersangkutan secara sukarela mengembalikannya.

“Kami sedang mengatur pengembaliannya dengan melibatkan LBH Jakarta agar sesuai aturan yang berlaku,” tambahnya.

Dirinya menyayangkan kondisi fisik angin-angin itu saat diambil dan dibawa keluar dari situs sejarah Rumah Cimanggis yakni dengan cara digergaji menjadi potongan-potongan yang kemudian disambung kembali dengan lem kayu.

“Banyak kasus penghancuran bangunan situs bersejarah selalu dimulai dari pembiaran pencurian ornamennya, seperti jendela, pintu dengan kusen yang sangat berharga karena dinilai ketuaan,” ucapnya.

Dia mengaku jika angin-angin situs sejarah Rumah Cimanggis yang dicuri memang bukan lambang keluarga tetapi kualitas serta mewahnya setara dengan lambang keluarga karena merupakan menifestasi kecintaan Gubernur Jenderal van der Parra terhadap anak yang diangankan kelak menjadi pewaris utama kekayaannya.

“Pencurian ini merupakan penanda yang sangat jelas bahwa situs sejarah Rumah Cimanggis terancam. Pengelola tanah di mana situs sejarah itu berdiri yaitu Kementerian Agama RI dan Pemerintah Kota Depok tidak memenuhi amanah UU Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya, sebab tidak melakukan kewajiban mereka yang disebut di pasal 1 UU tersebut yaitu, “melindungi melestarikan, menyelamatkan, mengamankan, dan memelihara situs sejarah,” pungkasnya.nNur Komalasari

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here