Hidup Bermakna Pasca Ramadhan

200
H. Khairulloh Ahyari, S.Si

Oleh : H. Khairulloh Ahyari, S.Si
Sekretaris MUI Kota Depok

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan ni`mat dan karuniaNya bagi kita semua. Terutama ni’mat Iman, ni’mat Islam dan ni’mat sehat wal afiat. Sungguh, tidak ada satu detikpun berlalu dalam hidup yang kita jalani, kecuali pada saat itu ada ni`mat Allah SWT.
Sholawat dan salam marilah kita sampaikan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW. Rasul dan Nabi terkasih, yang cinta dan kasih sayangnya teramat besar kepada kita selaku umatnya. Bahkan menjelang wafat beliau, kalimah yang keluar dari lisan beliau yang suci adalah “Ummatii, ummatii, ummattii…”

Pada hari yang mulia ini umat Islam di seluruh penjuru dunia bersujud bersimpuh dalam keharuan dan kebahagiaan, yang diliputi oleh rasa syukur, karena berjumpa dengan hari raya Idul Fitri. Kita sambut hari raya yang mulia ini dengan takbir, tahlil dan tahmid. Kita agungkan kebesaran Allah SWT. Kita sucikan asma-asmaNya dan kita syukuri nikmat-nikmatNya. Dan sejak tadi malam, kalimah takbir, tahmid dan tahlil telah menggema memenuhi semesta dan angkasa raya, menyentuh perasaan hati yang paling dalam, serta melembutkan jiwa yang sebelumnya gersang. Gema takbir jualah yang memunculkan kesadaran, betapa manusia itu kecil, lemah dan papa. Kita selaku manusia tidak memiliki kekuatan. Kita juga tidak memiliki kekuasaan. Bahkan kita tidak memiliki kemampuan apa-apa. Karena sejatinya kekuatan, kekuasaan dan kemampuan hanyalah milik Allah SWT. Allah yang maha besar.

Pada pagi hari ini, nun jauh di dalam lubuk hati setiap mu’min, di lorong terdalam qolbu manusia-manusia muttaqien, telah dipenuhi dengan kesejukkan, kedamaian dan kebahagiaan hakiki, lantaran pertemuan yang intim antara hamba dengan Rabbul Izati, Allah Yang Maha Rahim. Sebulan penuh di bulan suci ramadhan, qolbu kita, jiwa kita, ruh kita mendekat kepada Allah. Dengan shaum di siang hari, shalat dan munajat di malam hari, tilawah dan tadarus al Quran, lantunan zikir dan sholawat, zakat, infaq, serta jalinan ukhuwah yang merekat kembali melalui silaturhmi.

Alangkah berbahagianya hati orang-orang beriman di hari ini. Hati yang telah dimenangkan oleh Allah. Hati yang kembali di sucikan oleh Zat Yang Maha Suci. Hati yang mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan. Inilah kebenaran janji Allah dalam al Qur’an
“Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya, dan sungguh merugilah orang-orang yang mengotorinya”.

Ramadhan mengajarkan kepada kita bagaimana menjalani hidup yang lebih bermakna. Hidup yang diliputi dengan kemuliaan, karena memberikan manfaat untuk diri pribadi, keluarga, dan masyarakat, serta kemanusiaan. Paling tidak ada empat hal yang menjadi syarat untuk memperoleh kehidupan yang bermakna :

Pertama kita harus memiliki Iman yang kokoh, kuat dan lurus. Iman adalah sesuatu yang terikat dalam hati (aqdun bil qolbi) yang diikrarkan oleh lisan (iqroorun billisaan) dan dimanifestasikan dalam perbuatan ( wa amalun bil arkaan). Dan iman menjadi pondasi dasar dari setiap langkah kehidupan kita. Keimanan yang secara formal di lafalkan dalam bentuk syahadatain
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Allah-lah satu-satunya Rabb yang berhak disembah. Karena Dia-lah al Kholiiq, yang Maha menciptakan. Allah-lah yang maha memberi rizki, Allah-lah yang maha memelihara, Allah-lah yang menguasai seluruh gerak dan keinginan kita; jasmani dan ruhani kita, badan, fikiran dan hati kita semuanya berada dalam penguasaan dan tatapan Allah SWT.

Orang-orang yang cerdas, ulil albaab adalah mereka yang kagum dan benar-benar menghayati ayat-ayat Allah, baik yang terhampar dalam alam semesta, yang menyaksikan keteraturan benda-benda langit, keindahan permukaan bumi serta cantiknya kedalaman lautan, yang mengetahui sempurnanya proses penciptaan manusia, yang menyaksikan keaneka ragaman flora dan fauna. Dan semua ayat-ayat kauniyah yang terhampar sangat jelas di alam semesta itu, isyarat-isyarat ilmiyahnya telah sangat nyata terdapat dalam al Quran sebagai ayat ayat kauliyah.
Pantaslah jika kemudian Allah SWT menyampaikan dalam firmannya

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka beritawakkal. (Yaitu) orang-rang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. al-Anfaal; 2-3).
Dan hukan sebaliknya,

“Sesungguhnya telah kami sediakan untuk penghuni neraka itu banyak jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi mereka tidak mempergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, menghayati tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan ayat Allah. Mereka tidak ubahnya seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka orang-orang yang lalai”. Al-A’raf:179
Ma`asyiral Muslimin Rahimakumullah

Bekal kedua yang harus dimiliki agar kehidupan kita bermakna adalah bekal taqwa. Fatazawadu fainna khoirozzadittaqwa. Maka berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Ulama mendefinisikan taqwa sebagai
Yaitu menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangannya.

Orang-orang yang bertaqwa dengan sesungghnya, akan menjadi pribadi-pribadi yang memiliki kesalehan ritual sekaligus memiliki kesalehan sosial. Mereka adalah pribadi-pribadi yang sangat kuat secara spiritual, karena sangat intim dan intens berhubungan kepada Allah SWT melalui sholat, puasa, haji, tilawah al Quran, zikir, munajat dan berdoa.

Mereka juga adalah orang-orang yang sangat saleh secara sosial. Mereka adalah suami isteri yang penuh kasih sayang, ayah-bunda yang penuh cinta dan perhatian, pemuda-pemudi yang cerdas, penuh semangat, rajin belajar dan berorganisasi serta mempunyai etos positif dan pantang menyerah. Orang-orang yang bertaqwa menggunakan lisannya hanya untuk kebaikan, ketika berbicara hanya berisi hal-hal yang baik dan benar. Ilmu, motivasi, kabar berita dan informasi yang akurat. Bukan pembicaraan yang berisi fitnah, caci maki dan dusta. Orang-orang yang bertaqwa saling nasihat- menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Orang-orang yang bertaqwa jualah yang sangat peduli kepada sesama. Memperhatikan dan menyayangi dengan segenap hati kepada orang-orang yang miskin, kaum duafa dan mereka yang terpinggirkan dan tertindas. Orang-orang yang bertaqwa menggunakan semua potensinya untuk kemaslahatan dan kemanfaatan sesama manusia. Baginda Rasul bersabda Khirunnas anfa’uhum linnas “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.

Dan orang-orang bertaqwa sangat akrab dengan nuansa maaf memaafkan. Apabila mereka merasa bersalah maka dengan segera mereka memohon maaf. Mereka sangat menghormati kedua orang tuanya, mereka takzim dan senantiasa meminta keridhoan dari orang tuanya, mereka senantiasa meminta maaf atas kesalahan-kesalahan kepada kedua orang tuanya. Atas kekhilafan dan dosa serta perkataan-perkataan tidak pantas yang dilakukan kepada ayah dan ibundanya. Keluarga orang-orang yang bertaqwa juga adalah keluarga yang senantiasa dihiasi dengan saling maaf memaafkan. Saling meridhoi antar anggota keluarga. Lingkungan yang diisi oleh orang-orang yang bertaqwa juga diliputi dengan kasih sayang dan saling maaf memaafkan. Antar tetangga saling memaafkan, saling meridhoi, saling tolong menolong dan saling bantu. Biula ada khilaf maka saling menasihat dan saling memaafkan.

Bila pribadi-pribadi telah beriman dan bertaqwa, bila anggota-anggota keluarga semua bertaqwa, bila sebuah lingkungan diisi oleh keluarga-keluarga bertaqwa, bila sebuah bangsa diisi oleh masyrakat-masyarakat yang bertaqwa, maka Allah akan melimpahkan keberkahannya dari langit dan dari bumi sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah SWT dalam al Qur’an :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96)
Bekal ketiga yang harus dimiliki agar kita menjalani hidup dengan bermakna adalah kita harus istiqomah. Teguh, kukuh, kokoh, lurus dan terus menerus berada dalam keimanan dan ketaqwaan.
Baginda Rasul adalah contoh utama dalam keistiqomahan. Ujian terberat, godaan terbesar, rintangan yang panjang dan maha dahsyat tidak sedikitpun menggoyahkan beliau dari jalan dakwah dan perjuangan menegakkan panji-panji Islam di alam semesta. Bahkan dalam hal ibadah, Rasul yang sudah di jamin masuk surga, rasul yang tidak memiliki cela, rasul yang sucii dari dosa; beliau istiqomah solat malam sampai kadang- kadang kaki beliau bengkak. Beliau senantiasa bermuhasabah dan istigfar sehari semalam lebih dari seratus kali. Beliau senantiasa sholat berjamaah sampai ajal menjemput beliau. Sungguuh teramat jauh dan besar jarak antara kita dengan keistiqomahan Rasulullah SAW.

Padahal, janji Allah bagi mereka yang istiqomah sangatlah indah. Mereka adakan mendapatkan surga dari Allah SWT, bahkan surga didunia sebelum surga di akhirat.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fusshilat: 30)
Sabda Baginda Rasul
Katakanlah, ‘Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here