Pemuda Versus Narkoba

181
H. Khairulloh Ahyari, S.Si

Oleh : H. Khairulloh Ahyari, S.Si
Sekretaris MUI Kota Depok

”Beri aku 10 pemuda,
maka akan aku guncangkan dunia”
( Sukarno )

Pemuda adalah harapan masa depan. Tulang punggung perubahan suatu bangsa. Di tangan pemudalah nasib suatu bangsa di masa depan akan dipertaruhkan. Maka sangat tepat apa yang dikatakan oleh Bung Karno, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia”. Sebuah kalimat penuh optimisme. Dan optimisme itulah sesungguhnya yang merupakan milik terbesar bagi seorang pemuda.

Dengan berbekal optimisme yang meluap-luap, maka para pemuda-pemudi bangsa ini, pada tahun 1928, mengikrarkan sebuah janji bersama. Bertanah air satu, tanah air Indonesia. Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Berbahasa satu, bahasa Indonesia. Optimisme kebangsaanlah yang menyatukan para pemuda-pemudi yang berbeda bahasa, berbeda pulau, berbeda suku, berbeda budaya bahkan berbeda keyakinan itu, untuk hidup dalam satu rumah bersama bernama Indonesia. Sejarah kemudian mencatat pemuda Sukarno, pemuda Hatta, pemuda Sudirman, pemuda Syahrir, pemuda Natsir, dan pemuda-pemuda lainnya sebagai lokomotif cita-cita pergerakan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan.

Dalam rentang sejarah berikutnya, pemuda-pemudi bangsa ini selalu menjadi lokomotif perubahan. Setelah sukses menegakkan cita-cita bersama sebagai suatu bangsa pada tahun 1928 dalam bentuk sumpah pemuda, kemudian pada masa perjuangan kemerdekaan sampai dibacakannya proklamasi tahun 1945 yang menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Berikutnya pemuda Indonesia tampil kembali pada tahun 1965 pada masa-masa genting karena ancaman terhadap ideologi Negara yang hendak diganti dengan ideologi komunis. Demikian seterusnya pemuda-pemudi Indonesia menjadi pelopor perubahan ke arah kehidupan kebangsaan yang lebih bermartabat. Pada tahun 1998, kembali pemuda-pemudi bangsa ini menunjukkan kepeloporannya dengan menjadi garda terdepan gerakan reformasi. Pemuda Indonesia, dengan demikian, telah mencatatkan dirinya dengan tinta emas dalam sejarah perjalanan bangsa.

Paling tidak ada tiga syarat yang harus dipersiapkan agar seorang pemuda menjadi pemuda ideal seperti yang dicita-citakan oleh Bung Karno. Pertama, seorang pemuda harus memiliki kekuatan keyakinan. Di dalam hatinya ia meyakini kehadiran dirinya sebagai hamba Tuhan dan sekaligus wakil Tuhan untuk mewujudkan kehidupan umat manusia yang sejahtera. Dengan dasar keyakinan seperti inilah seorang pemuda akan memiliki keberanian dalam melangkah, kepastian dalam bersikap, dan kejelasan dalam memilih, serta ketegaran dalam menghadapi rintangan. Ia menyandarkan kekuatan cita-citanya kepada kekuatan Tuhan yang menciptakan dirinya. Ia berjuang secara maksimal dengan sepenuh keyakinan, bahwa Tuhan akan selalu bersamanya dan melihat karya-karyanya dalam kehidupan. Dan, lebih dari itu, keyakinan yang benar kepada Tuhan akan selalu menghasilkan sifat-sifat positif seperti kejujuran, kesabaran, ketenangan, ketabahan, kasih sayang, bekerja keras, tolong menolong dan sifat –sifat lain yang dibutuhkan seseorang untuk meraih kesuksesan.

Kedua, seorang pemuda harus memiliki kekuatan keilmuan. Ilmu adalah kekuatan, karena ilmu yang melahirkan tekhnologi dan inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tanpa ilmu, apa yang dapat dilakukan oleh seorang pemuda untuk masyarakat. Tanpa penguasaan teknologi, apa yang dapat dikontribusikan oleh seorang pemuda untuk negerinya. Maka, penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi syarat mutlak bagi pemuda Indonesia. Kekayaan alam bangsa yang sangat besar, harus diolah dan diproduksi dengan penguasaan ilmu dan teknologi. Keanekaragaman budaya, keanekaragaman suku, keanekaragaman keyakinan, jarak yang jauh yang dipisahkan oleh pulau-pulau, adalah tantangan sekaligus keunggulan yang untuk menjaga dan mengembangkannya tentu membutuhkan ilmu dan teknologi.

Dengan menguasai ilmu dan memiliki keterampilan, seorang pemuda dapat berdiri tegak di atas kakinya sendiri. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Ia bekerja untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan. Ia tidak menjadi beban orang lain. Ia tidak menjadi beban bagi masyarakat dan pemerintah. Dengan itu semua, seorang pemuda memiliki kehormatan dan sikap merdeka. Dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi seorang pemuda dapat berbuat banyak dalam membangun bangsanya.

Ketiga, tubuh yang kuat. Sangat sulit dibayangkan seorang pemuda yang lemah fisiknya dapat berperan secara maksimal dalam kontribusinya untuk bangsa dan negara. Tubuh yang kuat dan sehat sangat mungkin untuk diharapkan partisipasinya dalam semua lapangan kehidupan. Pemuda-pemuda yang sehat dan kuat akan siap diterjunkan kemana saja untuk membantu masyarakat. Ke gunung, ke hutan-hutan, ke kampong-kampung dan pelosok-pelosok negeri. Pemuda –pemuda yang sehat dan kuat jugalah yang ketika bencana alam datang yang dapat diminta untuk membantu saudara-saudaranya yang ditimpa kemalangan. Mereka yang punya tubuh kuat akan dapat bekerja bahu-membahu dimanapun dan kapanpun. Hal ini tentu tidak dapat dilakukan oleh mereka yang berbadan ringkih dan penyakitan. Maka menjadi seorang pemuda yang kuat adalah sebuah keharusan untuk menjadi pemuda yang diandalkan.

PEMUDA VS NARKOBA
Saat ini ada sebuah fenomena sangat memilukan yang menimpa kalangan pemuda kita. Sebagai imbas dari kapitalisasi dan liberalisasi ekonomi, maka terjadi juga liberalisasi dan kapitalisasi budaya yang sangat benderang. Budaya barat dengan segala kelebihan dan kelemahannya masuk secara bebas ke ranah negeri kita. Dan pemuda, dengan jiwanya yang serba ingin tahu dan ingin mencoba dapat dengan mudah mencontoh sebagian budaya barat tersebut. Beruntung mereka yang memiliki basis kuat dan pemahaman terhadap budaya dan keyakinannya sendiri, akan dapat memfilter mana dari budaya barat yang baik dan mana dari budaya tersebut yang tidak sesuai dengan norma-norma. Tetapi, dan ini yang menjadi masalah, sangat banyak pemuda kita yang begitu saja menerima apa yang diimpor dari barat, sehingga secara gebyah uyah, asal pungut saja apapun budaya dan gaya hidup. Pokoknya, yang dari barat mesti modern, meskipun kadang berbenturan dengan nilai-nilai moral dan nilai-nilai luhur agama dan budaya bangsa sendiri.
Jika keberanian, keterbukaan, kedisiplinan, kerja keras, ketekunan dan bentuk-bentuk sikap positif lain yang di ambil oleh pemuda kita dari budaya barat yang mereka lihat, maka hal tersebut tentu sangat menggembirakan. Tetapi, manakala yang diambil justru sikap dan nilai-nilai vandalisme, perilaku seks bebas, hedonisme, konsumerisme-materialisme, permisifisme, narkoba, dan nilai-nilai yang di barat sendiri dianggap sampah budaya, maka alangkah ruginya pemuda-pemuda kiti. Dalam kenyataanya, sikap dan nilai-nilai negatif dari barat lebih banyak yang menginspirasi pemuda untuk dipraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari.
Kita bisa menyaksikan begitu permisifnya anak-anak muda kita terhadap segala budaya yang dari barat. Tidak sulit menemukan anak gadis belia yang memakai pakaian, celana dan baju, yang memperlihatkan, mohon maaf, pusernya, dan, sekali lagi mohon maaf, celana dalamnya. Sangat gampang menemukan anak-anak lelaki tanggung yang menindik telinga, hidung, juga bibirnya, serta berambut jabrik warna-warni dengan pakaian ala gengstar. Itu yang terlihat dari luar. Dan lebih dari itu semua, yang paling memprihatinkan adalah gaya hidup yang menyertainya seperti seks bebas, alkohol, dan narkoba.
Pada tahun 2003, Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Universitas Indonesia pernah melakukan penelitian penyalahgunaan narkoba bagi kalangan pemuda. Data yang ditemukan cukup mengejutkan karena 5,8 persen penggunanya merupakan usia produktif antara umur 15 sampai 25 tahun. Padahal pada usia itulah seorang pemuda mempersiapkan dirinya dengan ilmu sebagai bekal masa depan. Padahal pada usia itu, peluang emas yang dimiliki seorang pemuda untuk membentuk kepribadiannya; kepribadian sebagai seorang pemimpin, kepribadian sebagai seorang anggota masyarakat bangsa, kepribadian sebagai penerus cita-cita bangsa, kepribadian sebagai suami dan ayah bagi generasi penerusnya. Ancaman narkoba bukan hanya terjadi pada pemuda berusia antara 15-25 tahun, tetapi juga pada usia yang lebih belia, yaitu pada anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Dan lebih mengejutkan lagi, berdasarkan data BNN, pada 2000 tercatat 21 kasus narkoba di kalangan anak-anak berusia 15 tahun ke bawah kemudian meningkat menjadi 25 kasus pada 2001, 23 kasus pada 2002, 67 kasus pada 2003, 71 kasus pada 2004, 109 kasus pada 2005. Data ini menunjukkan kepada kita bahwa kasus narkoba dikalangan anak-anak justru meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun.

Sangat mungkin yang terjadi di lapangan sesungguhnya lebih besar dari data-data yang didapatkan kemudian diungkapkan. Apalagi jika melihat banyaknya kasus narkoba yang tidak diungkap secara tuntas, artinya kasus tersebut diendapkan karena yang terjerat adalah anak-anak. Padahal kita semua mengetahui begitu buruknya dampak yang diderita oleh seseorang yang mengkonsumsi narkoba. Mereka yang sudah kecanduan, ketagihan dan ketergantungan dengan narkoba akan mengalami berbagai macam gangguan, baik yang bersifat psikis (mental) maupun fisik. Secara fsikis mereka yang terlibat narkoba mengalami gangguan kejiwaan seperti gelisah, suka berkhayal, mudah cemas, cepat panik, defresi mental, dan hal-hal yang merugikan diri sendiri seperti suka berbohong, suka mencuri, suka menipu dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan narkoba. Bahkan pada stadium tertentu, mereka yang telah menjadi budak narkoba dan kemudian kesulitan mendapatkannya, kerap kali merasa putus asa dan menginginkan kematian, sehingga tak jarang yang melakukan bunuh diri.

Sedangkan secara fisik mengkonsumsi narkoba jelas akan mengganggu susunan saraf otak, merusak sistem kerja hati, jantung dan ginjal. Selain itu juga berpengaruh kepada kulit dan bahkan sangat mungkin menimpa fungsi alat kelamin. Secara umum kondisi kesehatan mereka yang tercandu narkoba akan sangat memprihatinkan, karena asupan gizi ke dalam tubuh sangat rendah, dan sebaliknya mendapatkan asupan racun yang terdapat dari dalam narkoba yang mereka konsumsi. Rata-rata penampilan mereka yang telah terjerat narkoba pun sangat memprihatinkan. Lusuh, kurus kering, mata cekung dan sayu, serta sangat nampak seperti tidak memiliki gairah untuk hidup dan menatap masa depan. Bhkan secra fisik yang paling mengkhawatirkan, dan ini banyak terjadi, bila mengkonsumsi narkoba dalam jumlah yang berlebihan (over dosis) maka sangat sering berujung pada kematian.

LANGKAH ANTISIPASI

Ada beberapa langkah antisipiasi yang dapat dilakukan oleh kita semua dalam rangka menjauhkan anak-anak, remaja dan pemuda dari penyalahgunaan narkoba.
Langkah pertama berawal dari dalam rumah. Karena dari dalam rumahtanggalah pembentukan kepribadian anak terjadi. Apakah seorang anak akan tumbuh menjadi seseorang yang berperilaku positif, atau menjadi seseorang yang berperilaku negative, sangat tergantung dari lingkungan awal yang membentuknyaa. Dan lingkungan paling awal yang membentuk kepribadian seseorang tentu adalah dari dalam rumah, yaitu peran orang tuanya. Orang tualah, dalam hal ini ayah dan ibu yang paling awal memberikan kasih saying, memberikan ilmu pengetahuan, bahkan paling awal juga menanamkan keyakinan kepada anak-anaknya.

Orang tua wajib memberikan kasih sayang yang cukup kepada anak-anaknya. Kasih sayang yang cukup menjadi pintu masuk bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai yang baik bagi putera-puterinya. Orang tua dapat menanamkan sikap percaya kepada diri sendiri, disiplin, berani, tegas, tegar serta nilai-nilai keimanan kepada Tuhan. Orang tua juga dapat mengajarkan kepada putera-puterinya pemahaman bahwa hidup ini akan selalu bertemu dengan problematikanya, dan problematika itulah yang harus diselesaikan secara benar. Anak diyakinkan bahwa Tuhan akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan yang menimpa umat manusia. Sehingga tidak perlu pelarian dari permasalahan hidup. Selain itu orang tua wajib mengajarkan kepada anak-anaknya sikap menghargai diri sendiri serta menjauhi sikap yang dapat merusak diri sendiri. Pada akhirnya dapat ditanamkan pengetahuan dan keyakinan bahwa mengkonsumsi narkoba adalah satu contoh perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here