UIII Peradaban Islam Dunia

219
Presiden dan Wakil Presiden RI beserta Gubernur Jawa Barat dan Walikota Depok saat meninjau maket pembangunan UIII

Cimanggis | jurnaldepok.id
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) melakukan peletakan batu pertama sebagai pertanda pembangunan Universitas Islam Indonesia Internasional (UIII) secara resmi dimulai. Kampus berskala internasional itu terletak di Jalan RRI Cimanggis Depok. Diperkirakan biaya pembangunan kampus dengan luas 143 hektare itu menelan biaya sebesar Rp 3,5 triliun dan telah masuk dalam bagian proyek strategis nasional.

“Tahun ini sudah dianggarkan Rp 700 miliar dan diperkirakan selesai secara total dalam waktu 4 tahun. Tahun depan sudah bisa digunakan, satu atau dua mata kuliah sudah disiapkan,” ujar Jokowi dalam sambutannya.

Pembangunan UIII menjadi tahapan lanjutan setelah Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 57 Tahun 2016 tentang Pendirian UIII pada 29 Juni 2016.

Menurut presiden, UIII perlu dibangun untuk menguatkan kepemimpinan Indonesia di dunia Islam. UIII bukan hanya untuk menjawab kebutuhan domestik, tetapi untuk masyarakat internasional.

Sementara itu Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Arskal Salim mengatakan dengan adanya kampus UIII maka Indonesia bisa menjadi tujuan riset dan kajian studi Islam. Menurutnya di Indonesia ada kekhasan yang tidak ditemui negara lain. Kekhasan yang dimaksud adalah memiliki pengkayaan ekspresi budaya Islam yang tidak ditemukan di negara lain sehingga ini cukup menjadi bagian kontribusi peradaban keislaman pada dunia.

“Pusat kajian Islam tidak hanya ada di Timur Tengah melainkan juga ada di Indonesia. Kita ingin kampus ini mendorong kualitas lembaga yang ada di Indonesia. Selain itu kampus, tidak hanya dijadikan tempat belajar mahasiswa asing dan dosen asing tapi juga dosen yang ada di Indonesia. Ini sebagai pintu gerbang orang asing mengenal Indonesia dan juga pintu gerbang Indonesia untuk terkoneksi dengan dunia luar, ” paparnya.

Dirinya menjelaskan terkait standar keilmuan, pihaknya sudah study banding ke beberapa negara antara lain di Amerika, Inggris, Jepang, Australia, Malaysia, Mesir.

“Nanti ada satu kajian konteks lokal yaitu studi kawasan. Bahasa yang dipakai Inggris dan Arab. Sedangkan mahasiswa asing sangat dianjurkan mempelajari bahasa Indonesia sehingga diharapkan alumninya secara tidak langsung menjadi duta negara Indonesia pada negara masing-masing,” ucapnya.

Dia menambahkan penerimaan mahasiswa baru dimulai tahun depan yakni pada tahun akademik 2019/2020. Untuk tahun pertama, akan dibuka tiga fakultas, antara lain school of Islamic studies, education, dan political science.
Sedangkan fakultas yang akan dibuka adalah Studi Islam, Humaniora, Ilmu‐ilmu Sosial, Sains dan Teknologi, Ekonomi dan Keuangan, Pendidikan, serta Applied dan Fine Arts. UIII hanya akan menyelenggarakan program jenjang S2 dan S3.

“Untuk beasiswa nya sementara dari luar negeri dan Indonesia. Ini semua dari APBN karena ini menyangkut martabat bangsa. Kemudian mahasiswa asing yang datang kesini menerima beasiswa. Jadi ini semua beasiswa dari negara,” ungkapnya.

Ia menjelaskan kekhasan dari UIII adalah bagaimana penerapan nilai-nilai Islam yang hakikatnya universal. “Ketika diimplementasikan di Indonesia kawasan nusantara maka akan kita dapatkan kekhasannya. Kekhasan ini yang akan dilakukan kajian mendalam, diteliti dan dilihat dari berbagai perspektif,” jelasnya.

Dirinya mencontohkan di Indonesia ada peringatan Nuzulul Quran sementara di negara lain seperti Arab Saudi tidak ada peringatan seperti itu.

“Budaya yang berkembang merupakan bagian dari cara nuslim Indonesia mengimplementasikan nilai Islam. Selanjutnya menjadi budaya. Inilah yang akan kita jaga, pelihara dan akan dikontribusikan bagi peradaban dunia. Sehingga Islam yang moderat, Islam yang damai menjadi arus utama dari seluruh pengamalan nilai Islam di dunia,” tandasnya.nNur Komalasari

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here