Membuang Sifat Sombong, Rakus Dan Dengki

1673
H. Khairulloh Ahyari, S.Si

Oleh : H. Khairulloh Ahyari, S.Si
Sekretaris MUI Kota Depok

Dalam sebuah hadits, Rasulullah S.A.W bersabda: “Ada tiga hal yang menjadi akar semua dosa. Jagalah dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya. Pertama, waspadalah kalian terhadap sifat sombong, sebab kesombongan telah menjadikan iblis menolak bersujud kepada Adam. Kedua, waspadalah kalian terhadap sifat rakus, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam memakan buah dari pohon terlarang. Yang ketiga, jagalah dirimu dari sikap dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya“ (HR Ibnu Asakir)

SOMBONG
Sombong adalah keadaan hati seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri serta memandang dirinya lebih utama dari orang lain. Ada orang yang sombong karena tinggi ilmunya, sehingga merasa bahwa dialah yang paling pandai, adapun orang lain adalah bodoh. Ada pula orang yang sombong karena harta. Seakan-akan dengan hartanya ia dapat berbuat apa saja. Di hadapan orang-orang yang tak berpunya, bukan main kejam dan kikirnya. Yang lainnya adalah orang yang sombong karena jabatan. Dia menganggap jabatannya abadi. Dengan jabatannya dia bukan merasa sebagai orang yang diberi amanah, tetapi seperti orang yang memiliki kuasa dan titah. Dengan jabatannya dia bukan berkeinginan menyejahterakan rakyat atau orang yang dipimpinnya. Tetapi yang ada dalam benak dan tingkah polahnya adalah bagaimana mengamankan jabatan dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya biar cukup untuk anak cucu sampai tujuh turunan. Tak peduli boleh mengutil atau merampok uang rakyat secara mentah-mentah.

Tetapi, kesombongan yang paling dahsyat adalah sombong kepada Allah SWT. Macamnya bisa dengan cara menolak kebenaran dari-Nya, angkuh untuk tunduk kepada hukum-Nya serta melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Iblis atau syetan adalah contoh utama dari perilaku sifat sombong kepada Allah SWT. Iblis melupakan hakikatnya sebagai makhluk, sehingga ketika Allah SWT menyuruhnya untuk bersujud kepada Adam as. Iblis pun menolaknya. Dan lantaran itulah Iblis diusir dari surga.
Demikian juga Allah SWT telah menenggelamkan Qarun beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi disebabkan kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah SWT dan juga kepada kaumnya sendiri.

Allah SWT juga telah menenggelamkan Fir’aun dan bala tenteranya ke dalam laut kerana kesombongan dan keangkuhannya terhadap Allah SWT dan juga kepada kaumnya sendiri, dan karena kesombongannya itulah dia lupa diri sehingga dengan keangkuhannya dia menyatakan dirinya adalah tuhan yang mesti disembah dan diagungkan.

Kehancuran kaum Nabi Luth a.s juga karena kesombongan mereka dengan menolak kebenaran yang disampaikan Nabi Luth a.s. agar mereka meninggalkan kebiasaan buruk mereka, yakni lebih suka memilih pasangan hidup sesama jenis (homosek); sehingga tanpa disangka-sangka pada suatu pagi, Allah SWT membalikkan bumi tempat tinggal mereka dan tiada seorang pun dari mereka yang dapat menyelamatkan diri dari azab Allah SWT yang datangnya secara tiba-tiba itu.

Dan masih banyak kisah lain yang dapat menyadarkan manusia dari sifat sombong dan angkuh, sekiranya mereka menggunakan hati nurani dan akalnya yang sehat.

TAMAK
Ada dua orang yang tamak dan masing-masing tidak akan kenyang. Pertama, orang tamak untuk menuntut ilmu, dia tidak akan kenyang. Kedua, orang tamak memburu harta, dia tidak akan kenyang.

(Nabi Muhammad saw) Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Abbas ra di atas, ada dua karakter orang tamak yang tidak akan pernah puas terhadap apa yang dimilikinya dan senantiasa berusaha untuk menambahnya.

Namun, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda menurut sisi pandang Islam.

Adalah terpuji jika ada seorang Muslim yang tamak terhadap ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan derajat keilmuan, akhlak, amal kebajikan, dan usahanya untuk meraih kemuliaan, yang akan mengetuk hatinya untuk menapaki tangga kesempurnaan sebagai seorang Muslim. Ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untuk mengkaji Islam dalam memecahkan problem kehidupan manusia dengan hikmah. Sabda Rasulullah saw, “Ilmu laksana hak milik seorang Mukmin yang hilang, di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya,” (HR Al Askari dari Anas ra).

Sedangkan ketamakan terhadap harta hanyalah akan menghasilkan sifat buas, laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya walaupun harta itu bukan haknya. Fitrah manusia memang sangat mencintai harta kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara dan usaha. Firman Allah S.W.T: Katakanlah (hai Muhammad), jika seandainya kalian menguasai semua perbendaharaan rahmat Tuhan, niscaya perbendaharaan (kekayaan) itu kalian tahan (simpan) karena takut menginfakkannya (mengeluarkannya). Manusia itu memang sangat kikir. (QS Al Isra’: 100).

Rasulullah saw bersabda, “Hamba Allah selalu mengatakan, ‘Hartaku, hartaku’, padahal hanya dalam tiga soal saja yang menjadi miliknya yaitu apa yang dimakan sampai habis, apa yang dipakai hingga rusak, dan apa yang diberikan kepada orang sebagai kebajikan. Selain itu harus dianggap kekayaan hilang yang ditinggalkan untuk kepentingan orang lain,” (HR Muslim).

 

Seorang Mukmin adalah orang yang meyakini bahwa rezeki telah ditentukan oleh Allah S.W.T. Dia juga yakin bahwa setiap manusia tidak akan menemui ajalnya sebelum semua rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah dicukupkan kepadanya.

Ia merasa cukup terhadap harta yang telah diperolehnya dan menyadari ada hak orang lain atas kelebihan harta yang dimilikinya. Ia infakkan sebagian hartanya di jalan Allah untuk membantu saudara-saudaranya yang dilanda kelaparan dan kekurangan. Demikianlah yang patut dilakukan seorang Muslim dan ia tidak lagi silau terhadap kekayaan orang lain yang dihimpun karena ketamakan.

 

Rasulullah bersabda, “Tidak ada iri hati kecuali dalam dua perkara, (yaitu) orang yang dikaruniai harta kekayaan dan dihabiskan untuk menegakkan kebenaran, dan orang yang dikaruniai hikmah kemudian ia melaksanakan dan mengajarkannya (kepada orang lain).”

DENGKI
Nabi S.A.W bersabda: “Hati-hatilah kamu sekalian terhadap hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad akan memakan habis seluruh kebaikan sebagaimana api melalap habis kayu bakar” (HR Abu Daud)
Dalam surat Al-Falaq, Allah memerintahkan kaum beriman untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Arti al-hasad atau dengki adalah mengharapkan kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain lenyap. Adapun apabila hanya mengharapkan mempunyai kenikmatan yang serupa tanpa dibarengi dengan harapan agar nikmat itu lenyap dari tangan orang lain, hal ini bukan al-hasad, melainkan ghibthah dan munafasah (persaingan yang sehat).
Akan tetapi, terkadang kata al-hasad diartikan juga al-ghibthah. Apabila demikian, berarti mengandung arti yang positif. Hal seperti ini dianggap sebagai hal yang terpuji dalam dua keadaan, yaitu sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits Rasulullah S.A.W :
“Tiada iri hati (yang diperbolehkan) [laa hasada] selain hanya dalam dua hal, yaitu seseorang yang diberi oleh Allah harta, lalu dia membelanjakannya untuk hal yang hak, dan seorang lelaki yang diberi oleh Allah ilmu, lalu dia mengamalkannya dengan konsekuen dan mengajarkannya (kepada orang lain)” (HR Bukhari).

Dengki adalah sifat buruk yang harus diwaspadai oleh setiap muslim. Sifat ini tidak pantas menyertai seorang muslim yang berimana pada Allah, Rasul, dan hari akhir.
Salah satu ciri khas seorang muslim yang benar adalah jiwa yang bersih dari sifat menipu dan dengki, dan dari menyalahi janji dan dendam kesumat. Kebersihan jiwalah yang mendorong seorang manusia ikhlas menghamba kepada Allah, beribadah, menegakkan shalat, dan bermunajat pada malam hari, berpuasa di siang hari. (HR Ahmad)

Dalam salah satu riwayat, diceritakan bahwa Rasulullah S.A.W pernah menyebutkan seorang sahabat Anshor sebagai “seorang dari penghuni surga”.
Abdullah bin Amru yang ingin mengetahui amalan sahabat Ansor tersebut, meminta izin untuk tinggal di rumahnya selama tiga hari. Abdullah tidak menemukan amalan yang istimewa, dia tidak sekalipun melihat lelaki itu melakukan shalat malam, kecuali bahwa setiap lelaki itu berbalk dalam tidurnya, dia menyebutkan nama Allah.
Akhirnya Abdullah bin Amru menanyakan apa sebabnya lelaki tersebut bisa mencapai derajat seperti yang dikatakan Rasulullah tsb. Dia menjawab: “tidak ada yang saya kerjakan selain apa yang telah kau perhatikan, tetapi tidak tersimpan sedikitpun dalam hatiku keinginan untuk menipu seorangpun dari kaum muslimin atau menaruh dengki padanya atas kebaikan yang dikaruniakan Allah kepadanya.” Kemudian Abdullah berakata “Inikah yang telah mengangkat derajatmu setinggi itu?!”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah S.A.W bersabda:
“Ada tiga hal yang menjadi akar semua dosa. Jagalah dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya.
(1) Waspadalah terhadap kesombongan, sebab kesombongan telah menjadikan iblis menolak bersujud kepada Adam.
(2) Waspadalah terhadap kerakusan, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam memakan buah dari pohon terlarang.
(3) Dan jagalah dirimu dari dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya (HR Ibnu Asakir)

Muawiyah berkata, “Tidak ada sifat-sifat kejahatan yanglebih tegak daripada dengki. Orang yang dengki binasa sebelum orang yang didengkinya.”
Dikatakan bahwa Musa as melihat seornag manusia di dekat ‘Arasy. karena Musa ingin menempati kedudukan itu, beliau beranya, “Apa amalnya?” Pertanyaan itu dijawab, “Ia tidak pernah dengki terhadap manusia karena anugerah Allah swt kepadanya.”
Umar bin Abdul Aziz menegaskan, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih zalim yang sama dengan kezaliman pendengki. Sebab ia senantiasa berada dalam keadaan sengsara dan nafas sesak.”

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here