Stop Ghibah Di Bulan Berkah

211
H. Khairulloh Ahyari, S.Si

Oleh : H. Khairulloh Ahyari, S.Si
Sekretaris MUI Kota Depok

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka
karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa
dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain
Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.
Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya ”

( QS Al Hujurat : 12 )

 

Ghibah adalah menggunjing. Yaitu membicarakan aib orang lain. Batasannya adalah jika pembicaraan telah menyebut tentang keadaan seseorang, maka orang yang dibicarakan tidak senang bila ia mendengarnya. Baik kekurangan pada fisik, nasab, akhlak, perbuatan, agama, perkataan, kekayaan, pakaian, rumah dan sebagainya.

Ketika sahabat bertanya tentang makna ghibah, maka Rasulullah SAW menjelaskan bahwa, “ Ghibah adalah jika kamu membicarakan keburukan-keburukan saudaramu yang tidak disukainya.” Kemudian seorang sahabat bertanya,” Bagaimana jika yang aku sebutkan memang ada pada diri saudaraku ? Rasulullah menjawab,” Jika memang yang kamu bicarakan ada pada diri saudaramu, maka kamu telah berbuat ghibah. Sebaliknya jika itu tidak ada pada diri saudaramu, berarti kamu telah membual tentang dirinya.”

Imam al Ghazali menyebutkan bahwa yang mendorong seseorang melakukan ghibah itu sangat banyak, diantaranya, melampiaskan amarah, menyesuaikan diri dengan kawan-kawan atau basa-basi kepada teman, ingin mendahului menjelekkan orang lain sebelum orang melakukan hal tersebut kepadanya, bercuci tangan dari perbuatan buruk yang sebetulnya dilakukan oleh dirinya, ingin membanggakan diri, dengki, senda gurau dan mengisi waktu kosong, serta berniat menghinakan orang lain.

Dari penyebab yang mendorong orang melakukan ghibah seperti yang disebutkan diatas menjadi sangat jelas bagi kita bahwa ghibah dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hati yang dipenuhi sifat dengki dan jauh dari zikir kepada Allah SWT. Hati mereka berkarat dengan maksiat dan angan-angan serta dusta. Kalau mereka memiliki fikiran, maka fikiran yang sangat picik yang tidak pernah mau berfikir untuk kebaikan. Fikiran mereka dipenuhi dengan keburukan-keburukan orang lain yang sedikitpun tidak berguna bagi dirinya kecuali sebagai bahan bakar hawa nafsu yang menghanguskan amal-amal kebaikan mereka sendiri.

Adapun obat yang dapat mencegah seseorang dari tergelincir ke dalam perbuatan ghibah adalah, pertama, mengetahui bahwa ghibah dapat mendatangkan kemurkaan dan azab dari Allah SWT. Kedua, mengetahui bahwa ghibah akan menghapus nilai amal kebaikan yang telah dilakukan. Nilai amal kebaikan menguap bersama ghibah yang terus menerus diucapkan.

Ketiga, mengetahui bahwa nilai kebaikan yang dilakukan beralih menjadi milik orang yang di gunjing sebagai ganti atas kehormatan yang dinodai dengan ghibah yang ditujukan kepadanya. Keempat, baik juga jika seseorang lebih memperhatikan keadaan dirinya ketimbang sibuk memikirkan keadaan orang lain bahkan berusaha mencari-cari kekurangan yang ada pada orang lain. Bukankah dengan menyibukkan diri mencari kekurangan diri sendiri, maka akan termotivasi untuk senantiasa memperbaiki diri sendiri. Sebaliknya, kesibukkan mencari aib dan kesalahan orang lain sangat cenderung untuk mendorong timbulnya sifat bangga terhadap diri sendiri, merendahkan orang lain, merasa benar sendiri, suka mencela, menghina dan pada akhirnya memfitnah dan mengghibah.

Dalam al Quran, Allah SWT berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya ”

Memakan bangkai saudara sendiri tentu sangat menjijikkan. Dan itulah perumpamaan Allah SWT bagi perilaku ghibah. Tetapi saat ini ghibah telah menjadi industri yang sangat menguntungkan. Karena ghibah telah dibungkus dengan sangat menarik, yang disajikan sepanjang hari; pagi, siang dan malam serta memasuki ruang-ruang tamu dan kamar-kamar rumah kaum muslimin.

Berita tentang orang-orang berwajah tampan, ayu, cantik, dan mempesona menyilau puluhan juta pasang mata. Berita tentang selingkuh sebagian dari mereka, berita tentang perceraian, berita tentang persaingan tak sehat diantara mereka, berita tentang anak yang lahir tanpa ayah dari sebagian mereka, adalah ghibah yang dijejali ke dalam pikiran pemirsa yang sebagian besar adalah remaja puteri dan isteri-isteri kaum muslimin. Berita-berita sampah seperti itu tentu saja hanya akan semakin menumpulkan kepekaan nurani atau bahkan menodainya.

Naudzubillah, padahal berburuk sangka di dalam hati saja di larang oleh Allah SWT, maka bagaimana mungkin seseorang atau suatu kelompok menyiarkan prasangka buruknya yang akan ditonton oleh jutaan pasang mata di seantero negeri, alangkah hatinya telah dipenuhi nafsu dan kenistaan.

Padahal, etika dalam Islam mengajarkan bahwa jika terlintas sesutau yang buruk tentang seseorang didalam hati, maka kita wajib mendoakannya agar ia terlepas dari permasalahannya dan ia sabar menghadapi masalahnya tersebut sambil kita berusaha mencarikan jalan keluar baginya. Bukan sebaliknya menjadikannya komoditas untuk menjatuhkan dan mempermalukannya di tengah-tengah masyarakat.

Pertanyaannya kemudian adalah, sudahkah diri kita dapat melepaskan diri dari ghibah ? Jawabnya mungkin belum, karena begitu halusnya ghibah masuk dan merayu hati dan lisan kita sehingga secara tak sengaja waktu yang seharusnya digunakan untuk berzikir habis, untuk menggunjing dan membicarakan aib saudara sendiri.

Hal yang juga patut menjadi renungan bagi kita kaum muslimin adalah menghindarkan diri kita, isteri, anak-anak dan saudara-saudara kita dari suguhan tayangan ghibah yang merebak. Karena jika ghibah sudah masuk ke dalam ruang tamu, kamar tidur dan lingkungan rumah kita, maka bagaimana mungkin akan hadir keberkahan dan kedamaian. Jika suatu masyarakat hidup dengan membiarkan ghibah menjadi teman menghabiskan waktu, maka yang hadir bisa jadi adalah kebusukan-kebusukan, sebagaimana perumpamaan tentang memakan bangkai saudara sendiri yang tentunya sangat menjijikkan.

Ditengah situasi masyarakat yang dipenuhi dengan berbagai macam penderitaan, bencana dan kemiskinan, serta ancaman moral generasi muda semakin mengkhawatirkan, akan sangat positif jika yang keluar darilisan dan menjadi tema pembicaraan adalah nasihat dalam kebenaran dan kesabaran serta ketaqwaan. Mudah-mudahan dengan meninggalkan ghibah dan menggantinya dengan nasihat tentang kebenaran, kesabaran dan ilmu dapat menjadikan kita semua pribadi yang teguh dalam keyakinan kepada Allah SWT, gemar menuntut ilmu dan produktif dan berkualitas dalam beramal dan bangsa kita menjadi bangsa yang diberkahi oleh Allah SWT.

Ya Allah, ampunilah lisan kami yang kadang tergelincir dalam ghibah. Ampuni akal kami yang kadang dirasuki fikiran ficik. Ya Allah berikan kepada kami kehormatan dan kemuliaan disisi-Mu dan disisi manusia. Jagalah rahasia-rahasia kami disisi-Mu. Gantilah keburukan-keburukan kami dengan akhlak mulia. Gantilah kesenangan ghibah dengan kesenangan berzikir dan bermunajat kepada-Mu. Ya Allah, berikan kami keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Amin

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here