Memelihara Bumi Di Bulan Suci

146
H. Khairulloh Ahyari, S.Si

Oleh : H. Khairulloh Ahyari, S.Si
Sekretaris MUI Kota Depok
Secara teologis, ajaran Islam memberikan amanah kepada manusia sebagai khalifah Allah untuk memelihara, mempertahankan dan membangun secara berkelanjutan kehidupan di atas muka bumi. Amanah tersebut, melalui syariah kemudian diimplementasikan dalam kewajiban memelihara lima perkara (al dharuriyat al khams) yang meliputi kewajiban memelihara agama (hifzh al din), kewajiban memelihara jiwa (hifzh al nafs), kewajiban memelihara harta (hifzh al mal), kewajiban memelihara generasi (hifzh al nasl), dan kewajiban memelihara akal (hifzh al aql).

Termasuk dalam kewajiban memelihara jiwa (hifzh al nafs) adalah memelihara kelestarian lingkungan (hifzh al bai’ah), karena alam yang lestari adalah kebutuhan utama bagi kelangsungan hidup manusia. Lingkungan hidup yang indah, sehat dan bebas polusi, membawa manusia pada kehidupan yang sejahtera, tentram dan penuh harmoni. Sebaliknya, lingkungan hidup yang tercemar, gersang, dan panas akan menyebabkan kesulitan hidup bagi manusia. Ancaman tanah longsor, banjir bandang dan pemanasan global adalah akibat dari kerusakan alam yang semakin tak terkendali.

Menurut Dr. Fathullah al Ziyadi dalam bukunya yang berjudul al Islam wa al Bai’ah, di dalam al Quran terdapat sekitar 199 ayat yang membicarakan tentang lingkungan hidup beserta ekosistemnya. Beliau juga mengingatkan tentang banyaknya hadits Nabi yang mengajarkan manusia untuk berakhlak mulia kepada lingkungan sekitar, baik kepada binatang maupun kepada tumbuh-tumbuhan.

Dalam salah satu ayat, bahkan digambarkan betapa kejinya perilaku orang yang melakukan kerusakan di muka bumi,serta betapa terpujinya orang yang memeliharanya. ” Barang siapa yang membunuh seorang manusia dan membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.” (QS al Maidah : 32).
Pemanasan global dan rusaknya lingkungan hidup yang menjadi tema utama pembicaraan masyarakat dunia saat ini, adalah akibat dari gagalnya peran manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Ancaman longsor, banjir bandang, dan kekeringan terjadi di mana-mana.

”Tidak ada seorang muslim yang menanam pepohonan, baik yang besar maupun yang kecil, sehingga makanan itu menjadi sumber makanan bagi burung, manusia, dan binatang ternak, kecuali baginya adalah sedekah.” (HR Muslim, Bukhari dan At Tirmidzi).

Hadits di atas mengabarkan kepada kita betapa mulianya orang yang menanam pohon. Bahkan digambarkan laksana orang yang bersedekah. Karena dengan menanam pohon sesungguhnya dia telah memberikan banyak manfaat bagi manusia, bagi hewan dan bagi kelangsungan ekosistem di bumi.

Manusia diciptakan oleh Allah SWt untuk menjadi khalifah di muka bumi. Manusialah yang diberikan kemampuan untuk berfikir, merencnakan masa depan, serta membedakan mana langkah-langkah positif yang dapat dan harus dilakukan untuk melestarikan alam dengan segala isi yang ada di dalamnya.

Manusia dengan akal budinya dapat melakukan penghijauan hutan dan lingkungan permukiman. Melakukan penanaman terumbu karang dan hutan bakau untuk menjaga keseimbangan ekosistem di laut. Pengelolaan sampah dan limbah yang ramah lingkungan, pemakaian kantong belanja bukan plastik. Tidak memakai pukat dan bom dalam mencari ikan bagi para nelayan, sampai mngurangi pemakaian kertas dan tissue yang berasal dari pohon.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ( ke jalan yang benar)” Demikian firman Allah SWT dalam al Quran Surat ar-Rum ayat ke 41.

Di bulan suci, saat kita berpuasa, konsumsi rumah tangga cenderung bertambah dan lebih banyak variasi. Hal tersebut berdasarkan informasi yang diterima bahwa sampah rumah tangga meningkat antara 10-15 persen. Ini tentu perlu menjadi perhatian serius kita semua, supaya dalam bulan suci ini bisa dapat lebih menahan diri dan menyiapkan konsumsi yag cenderung berlebihan dan mubazir, yang salah satu dampaknya adalah menumpuknya sampah. Begitupun dalam pemakaian listrik, penggunaan air, pemakaian tisu dan kantong plastik. Kita meyakini, bahwa puasa sebagai ikhtiar mencapai derajat taqwa, salah satu cirinya adalah manusia-manusia yang ssecara sadar dan akyif terlibat dalam usaha memelihara bumi.

Maka memelihara lingkungan hidup, dalam hal ini memelihara bumi adalah perintah yang sangat penting, sebagai upaya yang dilakukan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi. Dan itu harus kita mulai dari lingkungan diri kita, memulainya dari hal-hal yang kecil dan dimulai dari saat ini juga.

Wallahu a’lam

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here