Akses Tol Picu Pertumbuhan Ekonomi

156
Sebuah mobil truk saat mengangkut tanah dalam progres pembangunan Jalan Tol Cijago beberapa waktu lalu

Margonda | jurnaldepok.id
Pertumbuhan ekonomi Depok terus berkembang. Selain bidang property yang menjadi penopang utama laju bisnis di Depok, sektor jasa dan pergudangan juga menunjukkan iklim positif. Tercatat sejak tahun 2014 trennya naik dan mengarah positif. Sejak 2014 trennya menunjukkan prosentase tertinggi di tahun 2016 yang mencapai 7,8 persen. Sedangkan tahun 2017 hanya tumbuh sekitar 1,2 persen.

Tingginya prosentase bidang jasa tahun 2016 dipicu banyaknya rumah sakit baru yang mengajukan perijinan. Setidaknya di tahun 2016 itu ada tiga rumah sakit besar yang mengajukan ijin antara lain Rumah Sakit Diagram Healthcare di Cinere, Rumah Sakit Citra Arrafik di Cimanggis dan Rumah Sakit Brawijaya di Bojongsari.

“Nilai investasi ketiga rumah sakit itu mencapai angka Rp 322,5 Miliar. Tahun 2016 memang sektor jasa sedang tinggi-tingginya,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Depok, Yulistiani Mochtar.

Selain rumah sakit, sektor jasa juga ditopang dari adanya pengajuan ijin sejumlah lembaga pendidikan. Antara lain Sekolah Internasional Wisdom di Sawangan. Tren bisnis di bidang jasa ini sampai saat ini terus berkembang dengan adanya akses tol.

“Perkembangan bisnis di Depok dipicu adanya akses tol. Karena investor tentunya mencari lokasi bisnis yang aksesnya mudah untuk melakukan pergerakan,” ungkapnya.

Ia menambahkan khusus untuk pergudangan sudah pasti investor mencari lokasi yang dekat dengan akses tol. Sehingga mudah dilakukan bongkar muat barang untuk dipindah ataupun melakukan loading. Sebagai contoh di Tapos ada sebuah gudang otomotif yang memang dekat dengan tol.

“Adanya tol memang sangat menguntungkan investor. Mereka ingin menyimpan barang dan mengangkut menjadi lebih mudah dan efisien,” jelasnya.

Selain itu, di bidang jasa yang saat ini sedang berkembang adalah menjamurnya start up di sektor informasi teknologi (IT). Mereka banyak berkembang di kawasan Beji, Sukmajaya, Tapos dan Bojongsari.

“Untuk Beji dan Sukmajaya sudah terlihat bahwa disana memang banyak penduduk sehingga pergerakan bisnisnya juga lebih banyak. Untuk Tapos dan Bojongsari berkembang karena adanya akses jalan tol yang menjadi keunggulan di wilayah itu,” katanya.

Ia memaparkan di Beji dan Sukmajaya bisnis yang berkembang antara lain percetakan, pendidikan dan jasa ekspedisi. Tiap wilayah memiliki keunggulan bisnisnya sendiri disesuaikan dengan karakteristik wilayah.

“Kalau di Tapos itu banyak gudang dan data center. Beda karakteristiknya dengan Beji atau Sukmajaya,” ungkapnya.

Hingga saat ini menurutnya iklim investasi yang paling besar atau utama adalah properti, perdagangan dan jasa, serta pergudangan. Properti memiliki porsi sebesar 35-40 persen dari total investasi yang masuk di Depok. Sementara perdagangan sebesar 20 persen, jasa sebesar 20 persen, dan lain-lain sebesar 20 persen. DPMPTSP Kota Depok sendiri telah melaksanakan berbagai kegiatan, guna merangsang investasi di Kota Depok.

“Misalnya, memfasilitasi promosi investasi yang digelar tahunan atau penyusunan kajian insentif dan disinsentif penanaman modal,” pungkasnya.nNur Komalasari

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here