Ini Metode Sistem Penilaian SBMPTN 2018

132
ilustrasi

Margonda | jurnaldepok.id
Ujian tulis SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2018 kemarin dilakukan secara serentak di 42 Panitia Lokal (Panlok). Sedangkan untuk Ujian Keterampilan (UK) akan dilaksanakan pada 9 Mei 2018 dan atau 11 Mei 2018.

Pendaftaran SBMPTN 2018 telah ditutup 27 April pukul 22.00 WIB. Jumlah total pendaftar SBMPTN 2018 tercatat sebanyak 860.001 peserta yang terdiri atas 341.290 Saintek, 359.140 soshum dan 159.571 peserta campuran. Dari total pendaftar SBMPTN 2018 tersebut, diketahui bahwa peserta reguler sebanyak 672.816 peserta dan Bidikmisi sebanyak 187.185 peserta.

Sedangkan jumlah yang akan mengikuti Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) sebanyak 833.820 peserta dan yang akan mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) sebanyak 26.181 peserta yang di dalamnya termasuk 1.000 peserta akan menggunakan Android.

Setidaknya 8.155 peserta SBMPTN 2018 melaksanakan ujian di kampus UI. Pihaknya sendiri juga memfasilitasi 301 ruangan ujian yang tersebar di 14 fakultas dan 2 unit kerja. Selain itu terdapat satu ruang di FHUI diperuntukkan bagi sebelas peserta berkebutuhan khusus yang merupakan peserta SBMPTN 2018.

Terkait metode penilaian, untuk SBMPTN tahun ini tidak ada point negatif jika jawaban salah. Metode penilaian yang dilakukan melalui 3 tahap antara lain tahap I, seluruh jawaban peserta SBMPTN 2018 akan diproses dengan memberi skor 1 (satu) pada setiap jawaban yang benar, dan skor 0 (nol) untuk setiap jawaban yang salah atau tidak dijawab/kosong.

Kemudian tahap 2 dengan menggunakan pendekatan Teori Response Butir (Item Response Theory) maka setiap soal akan dianalisis karakteristiknya, di antaranya adalah tingkat kesulitan relatifnya terhadap soal yang lain, dengan mendasarkan pada pola respons jawaban seluruh peserta tes tahun 2018. Dengan menggunakan model matematika, maka akan dapat diketahui tingkat kesulitan soal-soal yang dikategorikan mudah, sedang, maupun sulit.Karakteristik soal yang diperoleh pada Tahap II, kemudian digunakan untuk menghitung skor setiap peserta. Soal-soal sulit akan mendapatkan bobot yang lebih tinggi dibanding soal-soal yang lebih mudah. Tahap-tahap penghitungan skor ini dilakukan oleh tim yang memiliki kompetensi di bidang pengujian, pengukuran dan penilaian.

“Melalui sistem ini, maka setiap peserta yang dapat menjawab soal yang sama dan benar dapat memperoleh nilai yang berbeda, tergantung pada soal mana saja yang mereka jawab dengan benar,” ujar Sekertaris Panitia SBMPTN 2018 Joni Hermana.

Joni juga meminta siswa untuk bekerja dengan jujur, karena sistem validasi akan mudah mengindentifikasi apabila ada kecurangan yang dilakukan oleh peserta SBMPTN.nNur Komalasari/*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here