UIII Harus Miliki RTP

118
Komunitas pecinta sejarah dan lingkungan ketika menggelar aksi di pelataran Rumah Cimanggis yang memiliki nilai sejarah di Kota Depok

Cimanggis | jurnaldepok.id
Rencana pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) terus dilakukan. Pembangunan akan dilakukan pada lahan seluas 142,5 hektare milik RRI di wilayah Cimanggis. Di dalam kawasan itu terdapat satu rumah bernilai sejarah yang disebut Rumah Cimanggis. Namun, dalam pembangunan nya nanti rumah tersebut rencananya tidak digusur.

Koordinator Bidang Humas dan Komunikasi Forum Komunitas Hijau (FKH) M Yunus mengatakan terkait lahan, pihaknya meminta kepada pengelola UIII agar menyediakan lahan seluas 25 hektare yang nantinya digunakan untuk ruang terbuka public (RTP).

“Nantinya ruang terbuka publik itu bisa diakses secara penuh oleh seluruh lapisan masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan letak lahan yang dimaksud melingkupi area situs sejarah Rumah Cimanggis sekaligus menjadikan rumah tersebut sebagai area milik masyarakat yang bisa digunakan pula sebagai museum atau kantor pengelola.

“Ruang publik sebagai kawasan pendidikan luar ruang contohnya camping ground, taman keanekaragaman hayati, dan kebun pengamatan. Ini juga menjadi ajang masyarakat untuk berinteraksi, berdialog, bercengkerama, berolahraga, atau sebagai lahan ekspresi dan eksplorasi kanak-kanak untuk tumbuh dan berkembang, serta sebagai simbol keberlanjutan kota,” paparnya.

Dirinya menerangkan ruang publik seluas minimal 25 hektar nantinya tetap merupakan bagian dari wilayah hijau kampus UIII, namun terbuka untuk dimasuki masyarakat luas. Meskipun harus dibatasi dengan sekat yang memisahkan kegiatan publik dengan kegiatan kampus UIII.

“Perspektif ini muncul berdasarkan pemahaman para aktifis lingkungan yang tergabung dalam FKH, tentang perlunya institusi resmi yang mewujudkan lahan-lahan hijau untuk kepentingan publik,” tandasnya.

Sementara itu aktifis FKH lainnya, Didit memberikan pemahaman bahwa dibandingkan penguasaan lahan oleh institusi yang melakukan kapitalisasi ruang untuk kepentingan bisnis semata. “Alangkah baik nya memang nanti ada ruang terbuka publik, sehingga masyarakat bisa belajar sejarah bersama dan menikmati keindahan alam,” pungkasnya.nNur Komalasari

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here