Gubernur Soroti Situ Hilang

426
Ahmad Heryawan

Sawangan | jurnaldepok.id
Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan dalam kunjungan kerjanya beberapa hari lalu ke wilayah Sawangan-Depok, turut menyoroti kasus menghilangnya beberapa situ di wilayah Depok. Dikatakannya, lokasi yang dahulu pernah ada situ harus dikembalikan seperti semuala.

“Kami masih ingat saat penetapan tata ruang karena ada situ yang hilang, enggak tahu hilangnya kapan. Namun dicatatan PU itu masih ada di suatu tempat, koordinatnya ada tapi sudah berubah menjadi kawasan tertentu,” ujar Ahmad Heryawan kepada Jurnal Depok belum lama ini.

Pria yang akrab disapa Aher itu menambahkan, ternyata dalam konteks tata ruang sangat bagus. Ketika ada sebuah kawasan seperti situ yang ditetapkan oleh Undang-Undang ada, ketika tidak ada maka tidak ada pula yang namanya penghapusan atau pemutihan.

“Itu tidak boleh, yang ada adalah pemulihan. Jadi harus dibikin lagi, begitu juga dengan hutan. Ada di berbagai tempat yang namanya hutan konservasi, namun hutannya sudah habis, di peta itu tidak dihapus namun tetap sebagai hutan. Karena di Undang-Undang tidak dikenal yang namanya pemutihan, yang ada itu pemulihan, jadi memang harus dipulihkan kembali baik situ maupun hutan,” paparnya.

Dari itu, kata dia, situ yang ada saat ini harus direvitalisasi dengan bantuan dari pemerintah daerah, provinsi maupun pemerintah pusat.

Salah seorang warga Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Erwin mengatakan di wilayahnya pernah ada yang namanya Situ Gugur. Situ yang luasnya kurang lebih 8,5 hektare itu kini ditumbuhi oleh pemukiman dan perumahan.

“Sisanya tak jelas, karena kini sudah banyak bangunan dan perumahan. Lokasi situ ada di dua kelurahan yakni Bedahan dan Pasir Putih. Dahulu pernah jebol di tahun 1965an, kemudian dibendung pada tahun 1970an. Namun hingga sekarang tidak jelas lagi keberadaannya,” ungkapnya.

Dikatakannya, bahwa masyarakat Pasir Putih sangat membutuhkan daerah resapan air. Dari itu, dirinya berharap agar lokasi yang dahulu terdapat situ dikembalikan seperti semula.

Sebelumnya pada pertengahan 2017 kemarin, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, M Hasbullah Rahmad mengatakan Pemerintah Kota Depok tengah mengajukan perubahan Rancangan Detail Tata Ruang (RDTR) yang merupakan turunan dari RTRW.

“Tapi itu belum disetujui oleh Pemprov Jawa Barat karena ada lima situ yang hilang di Kota Depok. Atas nama anggota dewan provinsi Jawa Barat dari Fraksi PAN, mendesak kepada Pak Walikota agar dicarikan opsinya atau jalan keluarnya dan titik temunya agar tidak menghambat proses pengesahan RDTR,” ujar Hasbullah kepada Jurnal Depok, Selasa (20/6/2017).

Ia menjelaskan, kalau sampai ada PR itu tidak disahkan oleh Pemprov, maka seluruh perizinan yang akan dikeluarkan di Kota Depok itu illegal. Dikatakannya, bahwa payung hukumnya itu adalah Perda RTRW turunannya.

“Saya berharap RDTR yang diajukan oleh Pemkot ke Provinsi Jawa Barat segera turun. Catatan juga segera Pemerintah Kota Depok berkomunikasi dengan program, kalau RTRW. APBD belum disahkan maka untuk perizinan yang akan dikeluarkan Kota Depok itu menjadi terhambat,” paparnya.

Hasbullah yang duduk di Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat mengatakan, jangan sampai menghambat investasi yang masuk ke Depok ke Jakarta hanya karena Depok tidak bisa mengeluarkan perizinan yang terbentur dengan RDTR.

“Saya saran kepada pemerintah kota untuk mencari opsional, saya tahu hilangnya situ kan bukan jaman sekarang, tapi jaman dulu. Tapi walaupun itu jaman dulu, harus dicarikan jalan keluar dan pemecahannya seperti apa, sehingga tidak mengganggu proses pengesahan RDTR yang itu menjadi payung hukum perizinan,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, situ yang hilang saat ini mencapai lima setu. Praktis, saat ini hanya ada 21 situ di Kota Depok. Awal mula situ hilang mulai dari kekeringan lalu beralih fungsi menjadi rumah.

“Saya berharap ada dalam peta situ di provinsi, Depok ada situ yang eksisting supaya proses kehilangan situ itu tidak menghambat proses legalisasi pengesahan RDTR karena itu akan menghambat proses investasi dan perizinan Kota Depok,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here