Polemik Lahan Eks Situ Krukut Memanas

373
ilustrasi

Limo | jurnaldepok.id
Kisruh perebutan lahan eks Situ Krukut di wilayah Rw 01 Kelurahan Krukut Kecamatan Limo antara warga penggarap yang menguasai lahan dengan sejumlah pihak lainnya kian hari semakin meruncing hal ini dapat dilihat dari perpecahan antar warga penggarap yang tadinya telah sepakat satu suara menghadapi tuntutan pihak ahli waris Verponding yang juga mengklaim sebagai pihak pemilik lahan.

Menyikapi hal ini Ketua Rw 01 Krukut Husin Tohir mengaku sangat menyayangkan perpecahan antar warga penggarap dalam menghadapi pihak Verponding pasalnya kata dia pada pertemuan warga beberapa bulan silam semua warga penggarap telah sepakat untuk bersatu padu menghadapi tuntutan pihak Verponding di Pengadilan Negeri Depok.

“Waktu itu seluruh penggarap yang menguasai lahan telah bersepakat untuk satu suara menghadapi ahli waris verponding di pengadilan tapi sekarang muncul kabar sebagian penggarap justru membelot kepihak Verponding dan sebagian lagi masih tetap bersikukuh melawan verponding dan hal ini tentu sangat memprihatinkan karena akan melemahkan pihak warga dan semakin menguatkan pihak penggugat dalam hal ini ahli waris Verponding, ” ujar Husin.

Menanggapi hal ini, salah satu tikoh masyarakat Krukut, H. Ayub juga mengaku sangat menyayangkan sikap sebagian warga yang membelot berpihak ke ahli waris Verponding yang jelas jelas tidak memiliki hak atas lahan eks Krukut.

“Memang sangat disayangkan sebagian warga penggarap termakan iming-iming yang enggak jelas dan mereka enggak sadar jika saat ini mereka sedang dimanfaatkan oleh oknum yang bekerjasama dengan pihak Verponding,” katanya.

Dirinya berkeyakinan perseteruan antara warga dan pihak Verponding dalam perebutan lahan eks situ Krukut akan berakhir deadlock, karena tak satupun dari kedua belah pihak yang memiliki bukti kepemilikan yang kuat terhadap tanah yang diperebutkan karena sesungguhnya lahan itu telah tercatat di SK Kinag.

“Sekarang kita lihat saja siapa yang memiliki alas hak yang sah, dan perlu diketahui sejauh ini belum pernah ada sejarahnya pihak verponding memenangkan kasus sengketa lahan karena alas hak verponding sudah tidak berlaku lagi di negeri ini sejak tahun 1958,” ungkapnya.

Sementara disisi lain, kata dia, para penggarap yang kini menguasai lahan juga belum memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai pihak yang berhak karena sesuai aturan hanya penggarap yang menguasai dan mengoptimalkan lahan minimal 20 tahun yang berpeluang untuk meningkatkan status lahan dan mendapatkan hak atas tanah tersebut.

“Kalau sudah begitu tinggal SK Kinag yang memiliki peluang sebagai pihak yang berhak atas lahan itu, ” pungkasnya. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here