PT Megapolitan Diminta Jalani Kesepakatan

185

Limo | jurnaldepok.id
Proses mediasi antara warga perumahan Graha Cinere Rw 12 Kelurahan Limo, dengan PT Megapolitan selaku pengembang perumahan pada Jumat (10/11) membuahkan sejumlah butir kesepakatan.

Lurah Limo, Danudi Amin selaku mediator dalam pertemuan antara warga dan pengembang meminta kedua belah pihak untuk menindak lanjuti hasil mediasi dalam masing masing porsinya.

“Pertemuan antara warga Graha Cinere dan perwakilan PT Megapolitan selaku pengembang perumahan telah mencapai sejumlah butir kesepakatan yang dituangkan dalam perjanjian hitam diatas putih. Kami meminta kepada pihak pengembang agar menindak lanjuti butir-butir dalam perjanjian itu agar permasalah dapat segera terselesaikan, ” ujar Danu, akhir pekan kemarin.

Sementara Ketua Rw 12, Yacob Tulam Saragih selaku perwakilan dari pihak warga mengatakan menyambut baik hasil dari pertemuan itu. Namun dia mengatakan baru akan menandatangani komitment pengembang untuk memperbaiki sejumlah fasilitas umum setelah ada realisasi pengerjaan minimal 80 persen.

“Sebenarnya komitmen pengembang untuk melaksanakan pembangunan dan perbaikan sejumlah fasilitas umum seperti perbaikan ruas jalan dan saluran air (Drainase) serta pagar perumahan sudah dituangkan dalam agenda pelaksanaan perbaikan yang telah dibuat oleh pengembang pada Maret silam, namun sampai sekarang belum teralisasi. Padahal kami selaku pengurus lingkungan telah mengedarkan surat pengumuman kepada warga terkait rencana perbaikan fasum tersebut, oleh karena pada pertemuan kali ini saya belum bisa menandatangani realisasi perbaikan sebelum proses pengerjaan mencapai 80 persen, ” ujar Yacob kepada Jurnal Depok usai menghadiri acara mediasi, Jumat siang.

Sementara, Marhali yang mewakili PT Megapolitan mengatakan pada prinsipnya pengembang sudah siap untuk merealisasikan permintaan warga Graha Cinere terkait perbaikan sejumlah fasilitas umum.

Waktu itu, kata dia, pihaknya sempat mengirim sejumlah material bahan bangunan untuk memulai pengerjaan perbaikan saluran air dan jalan, namun menemui kendala lantaran permasalahan pembuatan sodetan yang tidak mendapat izin dari warga pemilik lahan di sekitar perumahan.

“Waktu itu kami sudah mengirimkan material bahan bangunan untuk perbaikan saluran air (Drainase,red), namun menemui kendala karena tidak mendapat izin pembuatan sodetan untuk aliran air, sejak itu memang proses perbaikan menjadi terhenti dan mudah-mudahan kali ini realisasi perbaikan dapat kembali dimulai dengan catatan warga juga dapat membantu jika dalam pelaksanaannya menemui kendala, ” pinta Marhali. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here