Al-Hikam Sambut Hari Pahlawan

182
Yusron Ash-Shidqi

Beji | jurnaldepok.id
Untuk menyambut peringatan Hari Pahlawan, Pondok Pesantren Al-Hikam Depok menghadirkan Da’i muda se-Indonesia. Kegiatan tersebut bagian dari rangkaian acara Lokakarya Da’i Aswaja Bela Negara yang bertempat di Hotel Palace Cipanas, Puncak, Bogor. Hal itu dibenarkan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Depok, KH Yusron As-Shidqi.

Menurutnya kegiatan yang digelar oleh Pesantren Al-Hikam bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan RI berlangsung pada 3-4 Nopember 2017 merupakan kelanjutan.

“Melalui acara ini, kami menumbuhkan kembali semangat Nasionalisme dan Patriotisme. Dulu para pejuang berupaya sekuat tenaga yang mereka miliki untuk menggapai kemerdekaan walaupun dengan bambu runcing. Sekarang kita sudah merdeka, apa yang harus diperjuangkan dalam mengusung jiwa patriotisme. Jadi, apa yang kita miliki baik tenaga dan pikiran mari kita sumbangkan untuk kejayaan NKRI,”ujarnya, kemarin.

Sedikitnya 30 peserta Da’i muda dari perwakilan Indonesia bagian Barat yang meliputi Jabar, Aceh, Medan, Palembang, Riau, Kepri, Jambi , Lampung, Banten, Jawa Barat dan lainnya, ambil bagian dalam acara itu. Dalam kesempatan tersebut peserta merumuskan modul Da’i Aswaja Bela Negara. Sebagai bahan acuan berdakwah para mubaligh untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan bela Negara.

Tidak bisa dipungkiri di masyarakat dapat dijumpai adanya para Da’i yang menyampaikan dakwahnya memicu sikap radikal, bahkan berujung pada disintegrasi Negara. Direktur Kulliyatul Qur’an Al-Hikam II Depok, Arif Zamhari mengungkapkan perlunya pembuatan modul yang dijadikan pegangan bagi para Da’i.

Untuk itu, pihaknya dalam acara tersebut dengan menyusun modulnya yang mencakup materi dakwah Aswaja Bela Negara. Adapun isinya terkait Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, karakter Aswaja, tawasuth, tasamuh, tawazun dan lainnya.

“Tujuan dari pembuatan modul adalah sebagai pegangan para Da’I yaitu mengajak warga negara untuk membela Negara Indonesia berlandaskan pada keyakinan agama. Sehingga menutup celah pemikiran, anggapan bahwa Negara adalah Thogut. Sudah jelas bahwa membela Negara sebagai wujud pelaksanaan agama, seperti yang biasa didengar hubbul wathon minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman-red),”tandasnya.

Arif menuturkan, dalam modul tersebut juga mengangkat nilai-nilai persaudaraan. Menurutnya, sebagaimana dalam piagam madinah terdapat ukhuwah bainal muslimin, adyan (agama), qobail (suku) bangsa.

“Tentunya, kita junjung tinggi ukhuwah basyariah (persaudaraan sesama manusia-red) dan Ukhuwah wathoniyah (sebangsa). Ditambah dengan penguatan nilai-nilai Pancasila dalam menumbuhkan bela Negara,”tandasnya.
Dikatakannya, dalam modul yang berupaya menumbuhkan kesadaran bela Negara sebagai kesadaran beragama terdapat tiga materi utama yakni materi dakwah Aswaja Bela Negara, Metodologi Aswaja Bela Negara berisi bil hikmah (keteladanan), bil mauidzotul hasanah (bimbingan,) wa jadilhum billati hiya ahsan (dialog).

Selain itu, lanjutnya, materi Kaderisasi Aswaja Bela Negara untuk menjaga kesinambungan dibentuklah pengkaderan sebagai estafet bela Negara, mengikuti jejak pahlawan.

“Nantinya, para Da’i Aswaja Bela Negara akan diturunkan ke daerah pelosok, terpecil dan terluar. Ini sesuai dengan rekomendasi Halaqoh dan melanjutkan wasiat Alm KH Hasyim Muzadi,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here