Korban Pandawa Demo

260

Kota Kembang | jurnaldepok.id

Ratusan nasabah KSP Pandawa yang didominasi ibu-ibu, melakukan aksi demo di depan kantor Pengadilan Negeri Kota Depok. Dalam orasinya mereka menuntut agar aset barang tidak disita untuk negara melainkan oleh kreditur. Selain itu pendemo mempertanyakan etika Hakim,Jaksa dan Pengacara dalam menangani kasus tersebut.

Berdasarkan pantauan aksi mulai dilakukan sejak pukul 11.00 WIB. Sambil meneriaki tuntutan, ibu- ibu juga membawa serta panci dan penggorengan. Mereka terlihat memukul peralatan memasak itu di depan pintu gerbang Pengadilan Negeri Depok.

Menurut kuasa hukum nasabah Koperasi Pandawa Azrai Ridha mengatakan kedatangan nasabah terkait dugaan penyalahgunaan etika terkait perkara Koperasi Pandawa.

“Ada oknum hakim, jaksa penuntut umum, saksi dari JPU dan pengacara dari terdakwa. Mereka bersama-sama menginterogasi saksi dan melakukan upaya intimidasi yang akan menjadikan saksi sebagai terdakwa dalam persidangan berikutnya. Hal ini melanggar etika,” katanya kemarin.

Menurutnya seharusnya hakim tidak duduk bersama-sama dengan pengacara terdakwa di luar persidangan.

“Ini merupakan beberapa keberatan yang kami sampaikan kepada Kejari. Peristiwa ini menjadi satu catatan bagi kami. Apa yang disampaikan Pak Kejari merupakan hak mereka. Namun saat ini kami belum menerima penjelasan dari Pak Kejari,” terangnya.

Atas dasar itu pula pihaknya melayangkan surat kepada Komisi Yudisial untuk memonitor sidang berikutnya. Selain itu pihaknya menyoroti masalah aset.

“Ada empat aset antara lain bagian perhiasan, tanah dan sertifikat. Mobil dan motor, juga ada uang tunai yang disita sekitar Rp 3 miliar. Kami harap Kejaksaan dapat melakukan tugasnya secara adil,” ucapnya.

Ia berharap pihaknya meminta agar bos Pandawa Salman Nuryanto dihukum seberat-beratnya. Pihaknya juga meminta agar barang sitaan diserahkan kepada kreditur bukan disita untuk negara.

“Kami juga meminta untuk kasus ini disangkutan kepada kasus TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang). Saksi kami yang dipanggil itu ada empat J, MT, H, DK,” tutupnya.

Sementara itu Kepala Kejaksaan Negeri Kota Depok Sufari mengatakan kedatangan para mantan nasabah itu untuk meminta adanya penanganan perkara secara maksimal dan barang bukti yang telah disita dapat dikembalikan kepada para korban.

Terkait tudingan adanya pertemuan dan intimidasi kasus Pandawa, dirinya membantah hal tersebut. Menurutnya dengan saksi yang begitu banyak, penanganan masalah itu cukup lama. Karenanya perlu adanya koordinasi yang harus dilakukan. Pada 26 oktober lalu saksi dipanggil untuk memberikan keterangan dalam sidang Pandawa.

“Para saksi banyak sehingga akan berpengaruh dengan masa penahanan, karena itu ketua pengadilan memutuskan untuk berkoordinasi dengan saya. Akhirnya ada pembicaraan. Namun bukan intimidasi kepada saksi. Kami menjelaskan kapasitas mereka sebagai saksi itu sama dengan mereka yang tersangka.nNur Komalasari

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here